
Semua keadaan sudah kembali normal. Aksa sudah sehat dan sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Pun dengan yang lainnya. Aku juga sama. Kembali menjalankan aktivitasku sebagai seorang Ibu.
Rencananya, hari ini aku akan menemui Pak Yuri, pengacaraku. Guna berkonsultasi tentang langkah apa yang akan aku lakukan ke depannya tentang rumah tangga ini.
Ya, dengan matang aku berpikir tetap pada keputusan awal, bercerai. Meskipun ada Mas Aji yang masih membujukku dan anak-anak yang menjadi titik berat aku mengambil keputusan.
Tapi untuk kali ini, aku ingin egois. Kukuh pada pendirianku untuk berhenti. Karena egoku sebagai seorang wanita tidak mau jika lelakinya menjalin cinta dengan wanita lain.
Tidak. Aku tidak mau lagi.
Biarlah keadaannya seperti ini. Aku dan anak-anak akan pulang ke kampung halamanku, Garut. Mulai meniti hidup dari awal lagi. Meskipun begitu, aku sangat membuka akses bagi Mas Aji untuk bertemu anak-anak.
"Kak Zayn sama Abang udah siap?" tanyaku pada dua pemuda kesayangan.
Rencananya, aku akan membawa dua anak lelakiku ke rumah mertua--- orang tua Mas Aji. Ya, meskipun hubunganku dan Mas Aji sebentar lagi akan selesai, tapi aku berusaha bersikap normal dan baik. Terutama pada keluarga Mas Aji.
"Udah, Bun!" seru mereka kompak.
Kami berempat,--aku, Zayn, Aksa dan Natasya telah memasuki mobil.
Mereka bertiga terlihat asyik. Dengan Zayn dan Aksa yang ribut mengobrol segala hal. Dan Natasya yang mengoceh sendiri sambil bermain di carseat-nya.
Aku tersenyum melihat itu. Bersyukur punya anak-anak yang selucu dan sepintar mereka.
"Kakak, kenapa mobil bisa bergerak?" tanya Aksa memulai aksi ingin tahunya.
"Karena ada mesinnya."
"Mesin, ya?" katanya bingung, namun sedetik kemudian dia bergumam kagum. "Really cool."
"Abang yang rajin belajar, biar nanti kalau udah besar bisa buat mobil," kataku.
Tapi Aksa tampak menggeleng. "Enggak, Bunda. Abang gak mau buat mobil. Abang mau seperti Ayah."
Aku mengernyit.
"Seperti Ayah gimana?" Kakaknya yang bertanya.
"Iya seperti Ayah yang cuma duduk-duduk aja tapi punya uang yang banyak. Bisa beli mobil, motor, terus bisa ajak kita jalan-jalan." Aksa berkata dengan kagum. Mungkin maksudnya adalah ingin bekerja sebagai orang kantoran.
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Biarkan mereka berimajinasi dengan pikirannya. Mau jadi apapun mereka ketika besar nanti, terserah mereka. Asal tidak buruk. Dan ya ... Asal jangan jadi tukang selingkuh saja seperti Ayahnya.
• • •
Kini, kami berempat sudah sampai di kediaman mertuaku. Kakek nenek anak-anak.
Aksa langsung berlari semangat menghampiri neneknya. Berbeda dengan Zayn yang malah berjalan cool di sampingku yang menggendong Nat.
__ADS_1
"Assalamualaikum," kataku dan Zayn.
Bunda mertuaku itu tersenyum. "Waalaikumussalam. Masuk yuk!"
Aku mengangguk. Membawa masuk anak-anak.
Aku duduk di sofa ruang tamu, bersama dengan Bunda mertua. Sedang anak-anak langsung menuju belakang rumah yang kebetulan terletak kolam ikan. Dengan diawasi Mbak Dewi, asisten rumah tangga di rumah ini.
Bunda Rina menatapku sendu, juga menampilkan senyuman lirih. "Kamu serius, Nak?"
Aku yang mengerti maksud dari ucapannya kemudian mengangguk. "Iya, Bunda. Keputusanku sudah bulat."
Bunda menghela. "Sebenarnya Bunda gak rela kamu ambil keputusan ini. Tapi ... Bunda juga gak mau lihat kamu tertekan kalau Seandainya masih bersama Aji," katanya, "Maafin Bunda ya, Nak?"
Aku menggeleng. Bukan Bunda yang harusnya minta maaf. Atau bahkan bukan Bunda atau siapa pun. "Bunda kenapa minta maaf? Ini bukan salah Bunda. Ini semua mungkin sudah takdir yang harus aku jalani. Aku gak pernah menyalahkan siapa pun atau apapun atas semua ini. Pun dengan Bunda, Ayah, atau bahkan Mas Aji."
Bunda tersenyum. "Kamu memang wanita yang baik, wanita yang kuat. Semoga keputusanmu ini yang terbaik. Semoga setelah ini kamu dan anak-anak bisa dapat kebahagiaan yang sebenarnya. Dan semoga kamu dapat seseorang yang lebih baik."
Aku mengangguk. "Aamiin, terima kasih, Bunda."
• • •
Sore.
Sudah satu jam yang lalu aku selesai menemui pengacaraku. Masih perihal yang sama. Berkonsultasi soal gugatan cerai yang akan aku ajukan.
Saat ini aku sedang berada di salah satu restoran cepat saji. Tadi di telepon, Zayn dan Aksa memintaku untuk membelikan ayam tepung di sini. Mereka merengek memintanya. Aku pun tak bisa menolak, tak apa lah sekali-sekali.
"Karel?"
Dia tersenyum. "Hai, Wa, habis beli makan?"
Aku mengangguk. "Kamu juga? Atau baru mau makan di sini?"
"Enggak. Habis dari minimarket depan, gak sengaja liat kamu, jadinya aku samperin," katanya.
Aku mengangguk mengerti.
"Btw, akhir-akhir ini kamu belum datang ke tempatku. Lagi sibuk? Or feeling better?"
Ah, mendadak aku jadi teringat tentang itu. Memang akhir-akhir ini aku disibukkan dengan urusan rumah tangga sampai lupa untuk bertandang ke tempat Karel.
"Aku lagi sibuk urus ini itu, Rel," kataku.
"Pernikahanmu?" tebak Karel hati-hati.
Aku mengangguk.
__ADS_1
"Oh, begitu, ya. Ya sudah, semoga semuanya lancar. Apapun keputusanmu, aku hanya bisa mendukung."
Tersenyum lega saat mendengarnya. Karel, selain jadi teman dia juga sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri.
"Kalau kamu merasa sesuatu lagi, jangan lupa temui aku, ya?"
"Iya, Rel. Itu sudah pasti."
Entah kenapa aku dan Karel tidak beranjak dari sini. Terus mengobrol sampai tak sadar sudah ada seseorang yang berdiri di sampingku.
"Sayang ..."
Aku dan Karel sontak sama-sama menoleh. Mendapati Mas Aji yang tampil dengan wajah suram.
"Mas Aji?"
"Kamu ngapain di sini?" Mas Aji melirik Karel. "Sama dia?"
Seolah mengerti ketidak sukaan Mas Aji, Karel berkata, "Kami gak sengaja bertemu, Mas."
"Iya, Mas tadi kita gak sengaja bertemu. Mas juga ngapain di sini?" tanyaku.
"Habis ketemu sama teman di cafe sana."
Aku mengangguk.
"Ya sudah, urusanmu sudah selesai, kan? Ayo pulang!" perintah Mas Aji sambil menarik tanganku. Gerakan tangannya yang cepat, sampai membuatku tidak sempat berpamitan pada Karel yang masih berdiri di tempatnya.
Aku dibawa oleh Mas Aji tepat ke samping mobilnya.
"Mas ngapain tarik-tarik? Jadinya tadi aku gak sempat pamit sama Karel," kataku kesal.
"Gak penting, ayo pulang!"
Mas Aji memintaku untuk segera masuk ke dalam mobilnya. Tapi aku menolak dengan mengatakan kalau aku membawa mobil sendiri.
"Mobilnya disimpan di sini, nanti aku suruh orang buat ambil," katanya.
Aku mendengkus. "Gak, Mas. Aku naik mobil sendiri aja."
Mas Aji menggeleng. "Jangan nolak, Mas perlu bicara sama kamu."
"Di rumah kan bisa," keluhku.
"Sekarang!" katanya tegas.
Aku menghela. Kalau sudah begini, aku memilih pasrah. Ikut memilih dirinya untuk masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Di dalam mobil, kami tak bicara apa-apa. Walau tadi katanya dia ingin berbicara, namun sampai sekarang dia tak kunjung membuka mulut.
"Aku habis bertemu pengacaraku untuk urus semua perceraian kita," kataku akhirnya memecah keheningan.