Demi Kasih

Demi Kasih
2


__ADS_3

Aku tersenyum saat melihat anak-anakku sedang asyik bermain. Setelah acara nangis-nangis tadi pagi, aku harus memutar otak untuk memberikan alasan yang tepat pada anak-anak. Karena mereka terus menanyai penyebab aku menangis.


Ah, andai saja mereka tahu kalau semua ini karena Ayahnya, apa respons mereka kira-kira? Apa mereka masih akan dekat dengan lelaki yang mereka sebut Ayah itu? Entahlah, tapi yang pasti, mau bagaimana pun aku tidak akan menceritakan semua ini pada mereka. Atau pada keluargaku, keluarganya, atau bahkan pada Mas Aji sendiri.


Biarlah semuanya tampak terlihat normal. Setidaknya untuk sekarang aku akan bungkam.


"Bunda, kapan Ayah pulang?" tanya Zayn. Pemuda pertamaku yang masih berusia 7 tahun.


Kulirik jam tangan, sudah pukul 5 sore. Biasanya Mas Aji sudah pulang. Tapi sekarang? Sedang ke mana dia? Apa masih ada urusan kantor? Atau, urusan dengan selingkuhannya yang bernama Chintya itu masih belum selesai?


Aku menghela napas, tersenyum pada si sulung. Mencoba memberikannya pengertian. "Mungkin sebentar lagi, Kak. Sabar dulu, ya?"


Zayn tampak mengangguk kecil. Ku lihat matanya menyiratkan kerinduan yang teramat. Apalagi akhir-akhir ini Ayahnya itu memang selalu sibuk. Entah sibuk dengan urusan kantor, atau malah sibuk dengan wanita binal itu.


Sebegitu parahnya memang efek dari orang ketiga ini. Sampai-sampai aku dan anak-anakku hampir saja terlantar. Tanpa dipedulikan.


Tak lama kemudian, suara salam seseorang terdengar dari pintu utama.


Mas Aji sudah pulang. Tanpa pikir panjang, anak-anak menghampirinya.


Ada Zayn yang langsung memeluknya. Ada Aksa yang bergelayut pada kakinya. Ada Natasya yang mengulurkan tangan meminta untuk digendong.


Ya, sebegitu sayangnya Mas, mereka terhadap kamu. Bahkan setiap saat mereka selalu menanyakan tentangmu. Apa pun itu. Kapan Ayah pulang? Ayah lagi apa? Ayah udah makan?

__ADS_1


Walau nyatanya, akhir-akhir ini kamu malah sering mengabaikan mereka. Dan lebih asyik bersama dengan ponsel sialanmu itu. Ponsel yang menghubungkanmu dengan Cynthia si wanita penggoda.


"Kangen-kangenannya nanti lagi, ya? Ayahnya harus mandi dulu," kataku setelah menghampiri mereka berempat.


Kedua anak lelakiku menurut. Berbeda dengan Natasya, yang tampak cemberut.


"Ayahnya mandi dulu, ya, Dek? Nanti Ayah gendong lagi, terus kita main bareng," ucap Mas Aji membujuk.


Aku pun coba untuk membujuknya dengan sejurus cara. Dan sampai akhirnya dia menurut.


Kubiarkan mereka bermain lagi dengan ditemani Bi Lastri asisten rumah tanggaku.


Lalu aku menghampiri suamiku, menyusulnya ke kamar. Melanjutkan tugasku sebagai istri. Semuanya tampak normal, tak ada raut bersalah di wajahmu. Pun dengan aku, tak ada raut kesedihan.


Saat Mas Aji masuk ke dalam kamar mandi, aku meraih baju kemejanya yang tadi dia pakai untuk kemudian akan ku cuci. Aku tertawa miris saat kudapati harum parfume perempuan di bajunya. Selalu seperti ini.


Sampai 10 menit kemudian, aku masih berada di dalam kamar dengan baju kemeja yang masih aku pegang.


"Hei," suara Mas Aji membuyarkan lamunanku.


Aku tersentak, menatap Mas Aji yang sudah berdiri di hadapanku. Buru-buru aku menyeka sisa air mata yang masih tersisa di pipiku.


"Eh, Mas. Bajunya ini," kataku sambil menyerahkan baju yang sudah kusiapkan. Berharap kamu tidak curiga terhadap apa yang baru saja aku rasakan.

__ADS_1


Tapi, Mas Aji tampak tak menghiraukan. Masih menatapku lekat.


Ku coba untuk memalingkan wajah, supaya kedua mataku tidak sampai menatap matanya. Mata yang semakin membuatku sakit.


"Kamu kenapa?" tanya Mas Aji sambil memegang daguku, mengarahkannya untuk menatapnya.


Sebisa mungkin aku menahan air mata yang akan keluar. Sialnya, aku tetaplah aku. Seorang manusia biasa, seorang wanita yang akan cengeng jika dihadapkan dengan masalah seperti ini.


Aku menangis tersedu-sedu. Dan Mas Aji langsung menarik tubuhku ke dalam dekapannya. Dekapan yang masih sama hangatnya seperti dulu. Dekapan yang sejak dulu mampu memberikanku kenyamanan dan ketenangan saat aku dilanda kegundahan.


"Ssstt, kenapa nangis, sayang?" tanyanya lembut.


Ucapannya dan usapan lembutnya di kepalaku semakin membuatku terisak.


"Ada masalah apa, hm? Siapa yang buat kamu nangis?"


Aku tersenyum miris. Seandainya aku bisa cerita kalau yang membuatku begini adalah kamu, Mas. Kamu!


Walau nyatanya, aku hanya bisa menggeleng kecil. "Enggak apa-apa, Mas."


Setelah itu pelukanmu terlepas. Mas Aji menatapku dengan tangannya yang menangkup wajahku.


"Jangan nangis lagi apa pun alasannya, ya? Ya sudah, kita temui anak-anak lagi, yuk." Mas Aji kemudian berlalu dari hadapanku.

__ADS_1


Begitulah dia sekarang, menjadi cuek, dingin dan jadi orang yang tidak peka.


Ingin rasanya aku berteriak di depan wajahnya dan mengatakan kalau, "Aku tahu semuanya. Aku tahu kamu selingkuh." Sayangnya, semuanya tak semudah yang aku pikirkan.


__ADS_2