
Minggu berlalu, kehidupanku masih berjalan, walau banyak yang berubah.
Kini, aku tinggal di sini, di kampung halamanku, Garut. Kembali ke pangkuan orang tua.
Di sini, aku membuka usaha katering kecil-kecilan untuk memenuhi kebutuhan kami.
Hari di mana kami---aku dan Mas Aji dinyatakan bercerai, aku langsung pulang. Dengan Mas Aji yang juga ikut. Menemui Bapak dan Ibu untuk berbicara.
Mas Aji meminta maaf pada mereka terkhusus Bapak karena merasa telah gagal menjaga amanahnya.
"Nak Aji, kalau suatu saat anak Bapak ini mengecewakan kamu, sudah tidak kamu cintai lagi, tolong antarkan dia ke hadapan Bapak dengan baik-baik, ya?" Begitu kata Bapak 9 tahun silam.
Mas Aji membuktikan ucapannya. Dia datang ke hadapan Bapak dan Ibu kemudian berbicara baik-baik. Memberi tahu mereka alasan kenapa aku kembali ke sini.
"Maaf, Pak, Bu, saya telah gagal menjadi suami untuk anak kalian. Saya gagal menjadi Ayah dari cucu-cucu kalian. Saya malah memberi mereka luka dan kecewa. Maaf."
Bapak yang mendengarnya, tidak marah. Dia dengan tenang malah mendekat ke arah Mas Aji, kemudian dengan tegas menepuk pundaknya.
"Terima kasih kamu sudah mengembalikan anak kami dengan baik-baik. Maaf juga kalau selama ini, sikap Bapak dan Ibu sebagai mertuamu kurang berkenan. Sejauh ini, kamu sudah menjadi menantu yang baik, Nak."
Mas Aji terisak mendengar ucapan tenang dari Bapak. Perangai Bapak dari dulu memang begitu, tidak mengutamakan emosi dalam setiap tindak dan tanduknya.
"Saya malu, Pak, Bu ... saya malu."
"Sudahlah, Nak Aji. Semua sudah terjadi. Jadikan saja ini semua sebagai pelajaran. Kalau ke depannya kamu akan berumah tangga lagi, jangan ulangi kesalahan yang sama. Cukup Salwa saja yang kamu khianati."
Perkataan Bapak saat itu, membuat pikiranku melayang jauh.
Mas Aji nantinya pasti akan berumah tangga kembali. Dengan perempuan lain. Yang bisa saja lebih muda dariku.
Bukan, bukan aku cemburu. Hanya saja yang aku pikirkan adalah anak-anak. Bagaimana nasib anak-anak nantinya? Karena setelah Mas Aji menikah lagi, pasti dia akan mempunyai anak yang lain. Itu yang aku khawatirkan.
Apakah kasih sayangnya masih sama terhadap anak-anak kami? Atau hanya akan fokus pada anak dan istri barunya kelak?
Ah ... aku terlalu berpikiran negatif tentang itu. Berdoa saja, semoga kedepannya nasib baik akan selalu menyertai kami.
***
__ADS_1
Zayn dan Aksa sedari tadi tak berhenti mengoceh. Waktu telah malam tapi kedua anak lelakiku belum juga mau tidur.
Tadi sore, mereka diajak oleh kakeknya pergi ke sawah. Mereka girang bukan main, karena selama tinggal di kota, mana pernah mereka mengunjungi dan bermain di sawah, bahkan melihat pun tidak.
"Tadi Kakak jatuh, Bun. Badannya jadi kotor," cerita Aksa sambil tertawa.
Aku terkekeh mendengarnya. Memang benar, pulang-pulang, baju Zayn nampak kotor.
"Itu kan karena kamu dorong, Kakak." Si Kakak nampak kesal.
Aksa malah terkikik.
"Ditolongin sama Abang, gak?" tanyaku pada Aksa.
Aksa mengangguk. "Ditolongin, kok. Tapi Abangnya ketawa dulu."
Aksa semakin tergelak. Membuatku mau tak mau tergelak juga.
"Udah ah, bobo, yuk sekarang. Dah malam."
"Ayah gak ke sini, Bun?" Aksa bertanya.
"Dulu sering pulang, sekarang kok enggak?"
Sebelum menjawab, Zayn yang lebih dulu menyela. "Nanti juga ke sini, Sa. Udah ya, kasian Bunda pasti capek, mendingan kita tidur."
Zayn memang sudah lebih mengerti tentang keadaan orang tuanya yang sudah tidak seperti dulu.
"Gosok gigi dulu, baru tidur, ya?"
Zayn dan Aksa mengangguk. Kami berdua berjalan menuju kamar yang di tempati juga oleh si kecil Natasha. Kebetulan dia sudah lebih dulu tertidur.
10 menit kemudian, mereka berdua sudah terlelap. Beruntung mereka tidak rewel dengan ketidak hadiran Ayahnya.
Aku menghela napas. Ketika memandangi mereka selalu merasa bersalah. Mereka harus rela terpisah dari Ayahnya karena keputusanku ini.
Kuusap rambutnya satu persatu. Lalu, kuberikan sebuah kecupan di dahinya. Tak lupa juga, selalu kugumamkan kata maaf berkali-kali pada mereka.
__ADS_1
Suara dering telepon, mengalihkan atensiku. Kulihat, nama Mas Aji tertera di layarnya.
Mas Aji memang masih sering menghubungi, walau terkadang aku abaikan.
"Halo?" sapaku.
"Halo, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Ada apa?"
Diam sejenak. "Anak-anak sudah pada tidur, ya?"
"Iya."
"Mereka gak rewel?"
"Enggak, alhamdulillah."
"Syukurlah."
Kami terdiam lagi. Hening.
"Kamu apa kabar, Wa?"
"Baik."
Kudengar, di sana, Mas Aji menghela napas. "Kamu gak kangen Jakarta?" tanyanya random.
"Sedikit."
Sengaja aku balas ucapannya dengan singkat-singkat.
"Maafkan, Mas, Wa. Maaf kalau ..."
"Sudahlah, Mas," kataku memotong ucapannya. "Yang lalu biarkanlah. Jangan ungkit lagi."
Mas Aji menghela napas lagi. "Tidakkah kamu beri, Mas, kesempatan kedua? Rasanya, Mas tersiksa harus hidup jauh dari kalian, Wa." Dia melirih.
__ADS_1
Aku menghela napas kasar. Memijit pangkal hidung. Selalu seperti ini.
"Mas, dengar. Mas, masih bisa lanjutkan hidup. Jangan terpaku sama aku aja. Carilah perempuan lain, yang bisa mengurusi kamu. Jangan seolah-olah kalau kamu saja yang tersakiti," kataku, "sudah ya, Mas. Assalamulaikum."