
Sudah seminggu ini aku tidak enak badan. Makan tak lagi bernapsu, ditambah lagi tiap pagi sering muntah-muntah. Aku pikir mungkin ini karena faktor kelelahan, karena dua minggu terakhir, kateringku sedang sibuk-sibuknya. Untunglah ada Ibu dan Mbak Sri, tetangga kami yang bersedia membantu.
"Neng, ke puskesmas aja atuh. Coba periksa, wajahmu pucat begitu," ucap Ibu. Kentara sekali wajahnya tampak khawatir.
Aku menggeleng dan tersenyum lirih. "Gak usah, Bu. Palingan cuma masuk angin aja."
Ibu menghela napas. Aku ini memang tipe orang yang sulit untuk pergi ke klinik, puskesmas, dan dokter apalagi rumah sakit. Dengan alasan, tidak kuat dengan bau obat.
"Ya sudahlah, terserah kamu, Neng. Mendingan sekarang kamu istirahat aja. Pesanan biar Ibu sama Sri yang urus."
Sebelum menjawab, aku melirik ke arah anak-anak yang sedang bermain di ruang tengah.
"Jangan khawatir, lagian ada si Kakak yang bisa diandalkan buat jaga adeknya. Ibu juga bantu awasi dari sini." Ibu berkata seolah mengerti kegundahanku.
Aku tersenyum mendengarnya. Kemudian melangkah menuju kamar, mengaminkan ucapan Ibu untuk beristirahat.
...***
...
Pov-3
"Eh, Nak Karel datang, ayo masuk." Rahma, Ibu dari Salwa berkata, mempersilakan tamu yang dipanggil Karel itu untuk masuk.
Karel mengangguk dan tersenyum. Kemudian melangkah menuju shofa di ruang tamu.
Zayn dan Aksa yang tahu kalau Karel datang langsung berlari menghampiri pria itu. Pria yang selama ini mereka tahu adalah teman dari Bundanya. Om baik sebutannya.
Natasha yang digendong Tria, Bapak dari Salwa pun tampak girang melihat siapa yang datang. Dia bahkan sampai mengulurkan tangannya kepada Karel meminta untuk digendong. Mengerti, Karel menerimanya dengan senang hati.
"Yeay, Om baik datang juga ke sini," ucap Aksa girang.
Karel terkekeh mendengarnya. Mengusap kepala ketiga anak itu dengan gemas.
"Maaf, ya, Om baru bisa datang. Soalnya lagi banyak pasien."
"Banyak yang sakit, ya?" tanya Aksa.
Karel mengangguk.
"Pasti mereka gak makan banyak, deh. Soalnya kata Bunda, kalau orang yang gak suka makan, pasti sakit. Iya kan, Om?" Aksa bertanya lagi.
__ADS_1
Dari ketiga anak Salwa, yang paling cerewet memanglah Aksa. Makanya tak heran, kalau dia akan sangat banyak bertanya.
Karel mengangguk mengiyakan.
Lelaki itu, menyodorkan paper bag pada Aksa yang langsung disambut pekikkan senang darinya. Juga kepada Zayn, hanya saja respons anak itu lebih kalem. Dan tak lupa, pada si kecil Nat. Karel membawakan beberapa camilan sehat dan mainan untuknya.
"Ini untuk Ibu sama Bapak," ucap Karel dengan menyodorkan dua paper bag serupa.
"Padahal kalau mau ke sini, gak perlu bawa banyak-banyak hadiah, Nak. Ngerepotin terus," ucap Rahma.
Karel tersenyum hangat. Dengan tangan mengelus kepala Nat yang berada di pangkuannya dia menjawab, "saya gak pernah ngerasa direpoti kok, Pak, Bu. Justru saya senang karena bisa liat anak-anak senang."
"Terima kasih, Nak Karel. Sudah baik sama cucu-cucu saya." Tria berkata.
Karel mengangguk.
Mereka kemudian mengobrol hangat. Sambil sesekali terkekeh mendengar ocegan dari Aksa. Dan juga pertengkaran kecil antara Zayn dan Aksa.
Sampai di tengah percakapan, ada suara seseorang mengetuk pintu. Segera, Rahma membukanya.
Tampaklah Aji yang baru datang. Pria itu membawa beberapa barang di tangannya.
Rahma dan Tria menyambutnya dengan hangat. Mempersilakan Aji duduk di samping Karel.
"Kakak, Abang, lihat nih siapa yang datang?" ucap Rahma pada kedua bocah lelaki yang tampak asyik dengan mainan dari Karel.
Zayn dan Aksa melihat ke arah orang yang dimaksud neneknya. Mereka berdua terpekik senang kemudian. Lalu menghampiri Aji, memeluknya erat.
"Ayah, kok baru datang?" tanya Aksa.
Aji tersenyum. Mengelus rambut putranya. "Ayah baru sempat ke sini, maaf ya?"
Aksa mengangguk. Setelah berbasa-basi, Zayn dan Aksa melanjutkan main.
Mereka lanjut mengobrol.
"Oh ya, Pak, Bu. Daritadi saya gak lihat Salwa, dia ke mana, ya?" tanya Karel tiba-tiba. Membuat Aji menatapnya tak suka.
Karel bertanya, karena selama dia ada di rumah itu, tidak sedetik pun dia melihat Salwa. Orang yang menjadi tujuan utama kenapa dia datang ke sini.
"Bunda di kamar, Om. Dia lagi tidur, katanya tadi sakit kepala." Zayn yang menjawab.
__ADS_1
Mendengarnya, Karel dan Aji tersentak serempak.
"Sudah diperiksa?"
"Keadaannya bagaimana sekarang?"
Mereka bertanya berbarengan. Membuat Rahma dan Tria saling memandang.
Menyadari dua lelaki yang terlihat khawatir itu, Rahma tersenyum. "Belum, Nak. Tadi diajak dianya gak mau. Alasannya paling cuma masuk angin doang katanya," jawab Rahma.
"Keadaannya masih sama," tambah Tria.
"Boleh saya lihat Salwa?" tanya Aji.
Rahma dan Tria saling berpandangan. Seakan dari tatapannya, sedang berdiskusi untuk memberikan jawaban.
Tapi, sebelum Tria membuka suara, terdengar suara derap langkah dari arah lain. Rupanya di sana ada Salwa yang sedang berjalan ke arah mereka.
Keadaannya lebih segar, mungkin habis mandi. Tapi wajahnya kentara sekali terlihat pucat.
Salwa tidak kaget saat melihat ada Aji juga Karel di rumahnya. Karena, memang mereka sudah sering berkunjung ke sini. Terlebih Aji.
Aji langsung berdiri dan menghampiri Salwa.
"Muka kamu pucat banget. Ke dokter, ya?"
Salwa menggeleng dan tersenyum tipis. "Aku gak apa-apa."
"Ke dokter aja. Nanti keadaannya tambah parah, gimana?" paksa Aji.
Salwa keukeuh. Menggeleng cepat. "Gak usah."
Aji menghela napas, pasrah. Pria itu sudah maklum dengan sifat Salwa yang setelah bercerai menjadi jutek dan irit bicara.
Salwa kemudian berjalan melewati Aji dan duduk di samping Karel.
Aji menahan rasa geramnya saat melihat interaksi antara keduanya. Terlebih lagi saat mengetahui fakta bahwa anak-anaknya pun dekat dengan lelaki itu. Terutama Natasha yang sejak tadi anteng di pangkuan Karel.
Ada perasaan kecewa dan takut yang sangat besar dalam dirinya. Aji kecewa, kenapa Salwa dan anak-anak bisa secepat itu akrab dengan lelaki lain selain dirinya. Ia juga takut kalau Salwa dan anak-anaknya akan benar-benar pergi dari hidupnya lebih dari sekarang.
Tapi di satu sisi dia sadar, bahwa ini semua merupakan konsekuensi dari apa yang dia perbuat selama ini. Dan di sisi lain, Aji berpikir, apa hanya dirinya yang merasa tersiksa? Padahal, Salwa juga dulu melakukan ...
__ADS_1
... ah sudah, lupakan. Pikir Aji.
Yang jelas sekarang, Aji ibaratkan sedang mendapatkan KARMA.