
Cynthia Lathifa, wanita lulusan salah satu SMA di Bogor. Dia bekerja sebagai seorang agen penjualan atau sales di salah satu perusahaan. Usianya lebih muda 7 tahun dariku dan Mas Aji. Tinggal di rumah kontrakan, sendirian. Begitulah informasi yang aku dapatkan mengenai Cynthia. Tak banyak tapi cukup.
Saat ini, aku coba untuk melupakan sejenak perihal Mas Aji dan wanita itu. Akan Refreshing sebentar. Jalan-jalan sederhana ke mal bersama anak-anak dan Bi Lastri. Terlebih lagi sudah lama aku tak mengajak mereka keluar.
10 menit yang lalu kami baru saja sampai di tempat tujuan. Anak-anak langsung merengek agar kita berkunjung ke tempat bermain terlebih dahulu. Aku mengiyakan, asal mereka senang tentunya buatku tidak masalah.
Anak-anak bermain dari satu permainan ke permainan lain. Aku senantiasa mendampingi mereka. Senang sekali rasanya melihat mereka tertawa seperti itu.
Sialnya, di saat yang bersamaan netraku malah menangkap sosok yang tidak ingin aku lihat.
Tak jauh dari tempatku berdiri, Mas Aji dan seorang perempuan yang dapat ku pastikan Cynthia sedang berjalan menuju toko perhiasan. Tampak sangat mesra, dengan tangan yang saling merangkul. Benar-benar tidak tahu malu.
Aku berinisiatif untuk menghampiri keduanya. Tenang saja, bukan untuk perang. Hanya ingin menampakkan diri kemudian melihat apa reaksinya.
Awalnya ketiga anakku hendak ku titipkan dengan Bi Lastri. Tapi rupanya Nat merengek ingin ikut. Baiklah tidak apa, justru itu lebih bagus.
Aku pun berjalan dengan Nat yang ada di gendonganku. Mengunjungi sebuah toko perhiasan yang juga dikunjungi oleh dua manusia keparat itu.
Mereka terlihat sangat romantis, bahkan sampai-sampai para pegawai dan pengunjung lain tampak iri dengan interaksi antara Mas Aji dan perempuan itu.
Andai saja orang-orang tahu kalau sebenarnya mereka menjalani hubungan terlarang, apa kira-kira reaksinya? Masih ingin memuji? Atau menyumpah serapahi?
Aku berdiri tepat di samping Mas Aji. Tapi lelaki itu belum juga menyadari kehadiranku. Dia malah asyik berbicara mesra dengan Cynthia.
"Kamu mau yang mana, Babe?" tanya Mas Aji pada Cynthia.
Jijik sekali, Mas! Aku memejamkan mata. Sekuat mungkin berusaha menahan emosi.
"Menurut kamu bagus yang mana?"
__ADS_1
Sebelum Mas Aji menjawab, aku lebih dulu menyela. Berpura-pura melihat perhiasan yang ada di etalase sana.
"Mbak, coba saya lihat yang itu," kataku.
Dapat ku lihat dari ujung netraku kalau Mas Aji menyadariku. Dia tampak menegang di tempat. Rangkulan yang semula berada di pinggang Cynthia, perlahan terlepas.
"Yang ini, Mbak?" tanya seorang pramuniaga.
"Iya. Coba saya lihat."
Aku mencoba tak memedulikan Mas Aji yang sedari tadi menatapku. Tapi sayangnya si kecil Nat mulai menyadari keberadaan Ayahnya dan kemudian memanggilnya.
"Yah ... Yah ... Yah," racau si kecil sambil mengulurkan tangan meminta di gendong.
Tangannya refleks aku tahan, tapi Nat berontak. Mau tak mau aku menghadap Mas Aji, menatap matanya yang sedang dilanda kerisauan.
Saat Nat memanggil lagi Ayahnya, rupanya Cynthia pun ikut menegang. Mukanya tampak gelisah. Mungkin khawatir aku akan menjambak rambutnya atau bahkan memukul wajahnya karena sudah ketahuan jalan bersama suamiku.
Para pramuniaga dan beberapa pengunjung mulai melihat ke arah kami. Mereka memberikan tatapan yang sangat sulit dijelaskan.
"Mas," sapaku sambil tersenyum.
"Cynthia." Aku pun menyapa perempuan itu.
Wajah mereka tampak pucat pasi.
"Meeting pentingmu itu dilakukan di sini, ya?" tanyaku pura-pura tak tahu. Memang sebelumnya dia mengatakan kalau hari ini ada meeting yang sangat penting.
"Mbak, ada meeting di sini, ya?" Aku bertanya pada pramuniaga. "Kok suami saya ada di sini?" kataku lagi dengan suara yang lumayan keras.
__ADS_1
Orang-orang tentu semakin melihat ke arah kami.
"Mas beli perhiasan buat siapa? Oh, buat Cynthia perempuan kesayanganmu itu, ya? Lah, kok aku gak dibeliin? Kan aku juga pengin," ucapku masih mencoba senormal mungkin.
Cynthia tertunduk lesu.
"Sayang," panggil Mas Aji mencoba meraihku dan Nat.
Benar-benar tak tahu malu kamu, Mas! Bisa-bisanya kamu memanggilku sayang sedangkan kamu sendiri sudah kepergok selingkuh!
"Siapa yang kamu panggil sayang? Aku istrimu atau Cynthia pacarmu, hm?"
Mas Aji diam tak berkutik. Mukanya semakin pucat.
Aku mendekat ke arah Cynthia. Dia ketakutan. Aku menepuk pundaknya sambil berkata, "Kamu cantik, Cynthia. Tapi kenapa mau jadi wanita simpanan?"
Skak! Dia mulai menangis. Seolah-olah kalau dirinyalah yang tersakiti. Muak sekali!
Aku mundur selangkah. "Maaf Mbak, perhiasannya gak jadi saya beli," kataku.
Si pramuniaga tersenyum. Seolah mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Pun dengan yang lainnya. Bahkan ada beberapa orang yang sudah merekam kami bertiga.
Aku membalikkan badan. Berjalan keluar dengan langkah yang gontai. Juga dengan diiringi suara tangisan Natasya yang keukeuh ingin bersama Ayahnya.
Nak, andai kamu tahu kalau Ayahmu itu selingkuh, masih mau kamu sama dia?
Aku bersenandika. Bergumam dalam hati.
Pelupuk mataku sudah sangat berat. Air mata mendesak untuk keluar. Apalagi saat mendengar tangisan Natasya, cairan bening di mataku bertambah jumlahnya.
__ADS_1
Samar-samar aku mendengar Mas Aji memanggilku. Tapi tak ku hiraukan.
Sampai di tempat anak-anak, aku langsung mengajak mereka pergi. Untunglah, Zayn dan Aksa tak banyak bertanya. Mereka mengerti dan menurut, apalagi saat melihatku yang menangis.