Demi Kasih

Demi Kasih
5


__ADS_3

Setelah kejadian tadi, aku menepi sebentar dari tugas-tugasku sebagai seorang istri dan ibu. Sedang berada di ruang perpustakaan pribadi, membaca buku dengan ditemani secangkir coklat panas.


Anak-anak kubiarkan bermain bersama Bi Lastri. Untung saja ketiga anakku mengerti. Mereka paham kalau Bundanya ini butuh waktu untuk menenangkan pikiran.


Sampai sore hari pun, si pria sialan itu belum juga pulang. Tak menampakkan diri walau hanya batang hidungnya.


Aku tertawa miris meratapi nasibku. Mungkin saja saat ini suamiku itu sedang bersama wanita lain di ranjang. Bermain sex dengan sangat panas tanpa menghiraukan aku dan anak-anaknya.


Sempat berpikir untuk berhenti sampai di sini saja. Karena kalau seperti ini terus, lama-lama pasti akan semakin rusak. Tapi, aku tidak boleh menjadi ibu yang egois. Yang membutuhkan Mas Aji bukan cuma aku saja, tapi ada anak-anak yang bahkan lebih membutuhkan kehadirannya.


Haruskah aku jujur padanya kalau selama ini aku tahu perbuatan keji yang dia lakukan? Haruskah itu?


Lama aku berpikir, sampai tak kusadari bahwa adzan magrib telah berkumandang. Memanggilku untuk segera menghadap-Nya. Inilah saat yang tepat bagiku untuk mengadukan semuanya.


Selesai Shalat magrib sampai setelah aku selesai menunaikan sholat isya kemudian, Mas Aji belum juga pulang. Padahal anak-anak kembali menanyakan keberadaannya.


Aku menghela napas. Coba lagi memberikan pengertian pada anak-anak.


Jam 9 malam, saat anak-anak sudah tidur. Barulah Mas Aji pulang. Keadaannya tampak lelah dengan penampilan yang acak-acak kan.


Walaupun aku sedang marah padanya, tapi tetap saja kewajiban seorang istri harus terlaksana. Aku kembali melayaninya dengan baik. Meskipun tanpa senyuman.


"Udah makan, Mas?" tanyaku sambil meletakkan tas dan sepatu yang tadi dia pakai.

__ADS_1


"Kebetulan belum, sayang."


Muak sekali saat aku mendengarnya memanggil sayang.


"Aku siapin dulu."


Mas Aji mengangguk. Kemudian dia duduk. Ku rasakan dia terus memperhatikan setiap gerakku saat aku mengambilkan nasi dan lauknya.


Ada raut bersalah di wajah dan matanya. Tapi tak ku hiraukan. Biarkan saja.


Setelah selesai, aku menyerahkan sepiring nasi yang juga segelas air padanya.


Saat aku hendak melangkah pergi, tiba-tiba saja tanganku dicekal oleh Mas Aji.


Aku diam tak menjawab. Sampai dia menarik dan mendudukkan di salah satu kursi di sampingnya.


"Kamu udah makan?" tanyanya.


Sebisa mungkin aku diam.


Mas Aji menghela napas. Kemudian menarik sebelah tangannya untuk dia genggam.


"Mas minta maaf, sayang," katanya lagi.

__ADS_1


"Untuk?" ketusku.


"Soal tadi, Mas ... "


Belum sempat ucapannya selesai, aku sudah lebih dulu menyela. "Minta maaf sama anak-anak. Jangan sama aku."


Mas Aji menganggukkan kepala. Jemarinya mengelus punggung tanganku.


"Iya, Mas pasti minta maaf sama anak-anak. Tapi sekarang Mas mau minta maaf dulu sama kamu. Maafin, ya?" Mas Aji mengecup tanganku.


Muak sebenarnya. Tapi aku tak mau munafik kalau aku juga merindukan momen seperti ini.


Dengan gerakan tiba-tiba, dia menarik badanku untuk dia dekap. Seperti biasa, tangannya mengusap surai panjangku. Dan membiarkan nasi serta lauk pauknya menjadi saksi bisu.


"Kenapa baru pulang, Mas?" tanyaku akhirnya.


"Di kantor kerjaan lagi hectic banget, sayang. Makanya pulangnya agak malam."


Aku tersenyum remeh. Kantor lagi, kantor lagi yang menjadi alasannya. Padahal jelas aku tahu kalau kamu baru saja selesai bercinta dengan perempuan lain, Mas!! jeritku dalam hati.


Ah payah sekali. Kenapa coba aku tidak berani mengatakan hal itu? Apa karena rasa cintaku yang masih besar untuk kamu, Mas?


Aku melepaskan diri dari pelukannya. Menatapnya sendu. Lalu, aku meninggalkannya sendirian. Mengurung diri di kamar. Mencoba menumpahkan kekesalan dengan tangisan.

__ADS_1


__ADS_2