
Sekarang kami sedang makan malam bersama. Zayn dan Aksa punya piringnya masing-masing dalam artian mereka sudah bisa makan sendiri. Sejak kecil aku memang membiasakan mereka untuk mandiri. Dalam hal apapun itu.
Berbeda dengan Nat, dia masih terlalu kecil untuk makan sendiri. Jadinya aku menyuapi.
Sejak tadi siang sampai sekarang sudah masuk waktu malam, Mas Aji belum juga pulang atau bahkan mengabariku walau hanya mengirim satu kata pesan. Mungkin, pria itu sedang bersama simpanannya. Menghibur dan membujuk Cynthia agar tetap bersamanya.
"Bunda, makanannya jadi berantakan." Suara Zayn membuyarkan lamunanku.
Benar saja, kulihat makanannya Nat sudah meleber ke mana-mana. Keluar dari tempatnya. Alasannya karena dia gunakan untuk bermain dengan tangannya.
Aku memejamkan mata sejenak. Gara-gara melamun soal kejadian tadi di mall, jadi tidak fokus begini.
Zayn menatapku sendu. Sebagai anak yang paling besar, tentu dia yang paling peka dari anak-anakku yang lainnya. Aku yakin kalau Zayn juga ikut memikirkan apa yang aku alami akhir-akhir ini. Apalagi dia sering sekali melihatku sedang melamun atau bahkan menangis.
"Bunda kenapa?" Tepat seperti dugaanku. Zayn bertanya juga.
Aku tersenyum menatapnya. "Bunda gak apa-apa, sayang. Ayo lanjut lagi makan, Bunda beresin makanan punya Adek dulu."
Saat aku hendak berdiri, Zayn mencegah.
"Kakak bantuin ya, Bun?"
"Enggak usah, Kak. Biar Bunda aja. Kamu kan harus lanjut makan."
"Kakak udah selesai kok makannya. Boleh, kan?" Zayn keukeuh ingin menolongku. Berbagai bujukan dia ucapkan. Kalau sedang merayu seperti ini, dia sangat-sangat mirip dengan Ayahnya.
Kalau sudah begini, aku mana bisa menolak. Kemudian membiarkan dia membantuku.
Selesai makan malam, anak-anakku bermain kembali sampai jam 9 malam. Setelah lelah, mereka berisitirahat.
Aku pun ikut beristirahat. Lebih memilih untuk tidur berdua dengan si kecil.
Lumayan lama aku terpejam, sampai kemudian tidurku terganggu karena ada sebuah usapan di kepala.
Aku mengerjap, menatap siapa pelakunya. Ah, rupanya pria sialan itu. Pria sialan yang kebetulan suamiku.
Tangannya yang masih di atas kepala aku singkirkan dengan lumayan kasar. Aku terduduk kemudian.
"Sayang ..." panggilnya sendu.
Bolehkah sekarang aku benci mendengarnya memanggil sayang?
Aku enggan menatap, muak sekali rasanya.
"Mas minta maaf, sayang ..."
__ADS_1
Aku terkekeh sinis mendengarnya. "Minta maaf? Kenapa harus minta maaf? Mas buat kesalahan?"
Mas Aji mencoba menggenggam. Secara naluriah, tubuhku menolaknya.
"Maaf, maafkan Mas."
Aku mulai berani menatapnya setelah ku dengar suaranya yang agak bergetar.
Wajahnya tampak kusut. Ada raut merana di matanya. Dahinya jelas terpatri beberapa kerutan.
"Mas minta maaf," katanya lagi.
Aku menghela napas panjang. Mungkin inilah saat yang tepat untuk membicarakan atau bahkan mengakhiri semuanya. "Ayo kita bicara."
Aku bangkit, berjalan menuju halaman belakang. Mas Aji mengikuti.
Kini, kami berdua sudah duduk di kursi taman yang di mana dulu juga selalu kami gunakan untuk mengobrol. Bedanya kali ini kami mengobrol dalam keadaan tegang.
"Gimana, Mas? Cynthiamu baik-baik aja, kan setelah kejadian tadi?"
tanyaku memecah keheningan.
Mas Aji tertunduk lesu. Jemarinya kemudian menggenggam jemariku.
Aku menghela napas panjang. "Aku udah tahu semuanya Mas sejak lama."
Mas Aji terperanjat.
"Aku tahu tentang perselingkuhan kamu itu. Aku bahkan tahu semua chat yang sering kalian kirimkan. Aku juga tahu hotel mana saja yang sudah kalian kunjungi, aku tahu itu, Mas!" Napasku memburu.
"Maaf sayang, Mas khilaf." Hanya itu yang dia katakan.
"Sebenarnya kurang apa aku ini, Mas? Sampai kamu tega melakukan ini semua," kataku lirih. "Apa aku kurang baik melayani kamu? Apa rasa sayang aku kurang banyak buat kamu? Apa rasa cinta aku kurang banyak untuk diri kamu? Tolong katakan, Mas. Di mana kurang ku? Di mana salahku?" Aku mulai terisak.
Mas Aji diam membisu.
"Selama 6 bulan ini, aku tahan seluruh perkataanku supaya gak mengatakan kalau aku sudah tahu. Seluruh emosi, aku coba untuk redam. Rasa sakitku gak pernah aku hiraukan. Kamu tahu Mas kenapa? Karena aku yakin kalau kamu pasti berubah." Pilu sekali rasanya saat mengatakan ini.
Mas, andai saja kamu tidak setega ini ...
"Aku bahkan sampai rela berhenti bekerja, mengubur impianku hanya untuk bisa berbakti sama kamu. Aku rela harus tinggal berjauhan dengan Bapak Ibu hanya untuk ikut tinggal sama kamu. Tapi rasanya semua tampak sia-sia sekarang, Mas." Getir sekali aku mengatakannya.
Mas Aji mulai menangis.
"Aku sudah sering mengingatkanmu dengan lembut, supaya bisa menjaga komitmen kita. Bahkan kemarin kamu janji kan untuk setia? Tapi nyatanya kamu malah memilih ingkar dan berzina dengan wanita lain."
__ADS_1
Aku berhenti sejenak. Hanya suara isakan dari Mas Aji yang terdengar jelas.
"Untung saja ada anak-anak yang bisa mempertahankan kewarasanku. Karena kalau tidak, aku sudah pasti akan pergi."
"Maaf, sayang ..."
"Dari semua pesakitan yang kamu kasih, hanya satu yang membuatku menderita. Yaitu saat kamu mengabaikan anak-anak dan memilih wanita simpananmu itu." Netraku terpejam. Menghela napas kasar, mencoba menghalau rasa sesak.
"Setiap saat mereka bertanya tentang kamu. Setiap saat mereka ingat kamu. Setiap saat pula aku coba memberikan penjelasan baik kepada mereka. Supaya mereka gak menilai buruk tentang Ayahnya."
Mas Aji semakin terisak. Dia terduduk di lantai. Dengan jemari yang masih menggenggam dan kepala yang rebah di atas pangkuanku.
"Mereka ... Mereka rindu kamu. Mereka ..." Ucapanku terbata. "Mereka rindu main sama kamu, Mas."
"Bahkan setiap selesai sholat, Zayn dan Aksa selalu berdoa, katanya semoga Ayah selalu sehat supaya bisa main selamanya sama mereka. Pun dengan aku, Mas. Aku selalu berdoa semoga kamu cepat sadar. Semoga kamu bisa kembali pada kami. Semoga Gusti Allah tetap melindungi kamu dan menyanyangi kamu meskipun sudah berpuluh-puluh kali kamu berzina."
"Maaf ... Maaf, maafkan, Mas."
Kami berdua sama-sama terdiam. Hanya suara isakan satu sama lain yang terdengar bersahutan.
"Sakit sekali Mas rasanya. Sakit ..."
"Kenapa kamu tega lakuin ini semua, Mas?" Aku menatap lurus ke depan.
"Mas khilaf. Mas cinta kamu, sayang. Maafkan, Mas."
"Bukan hanya kesulitan untuk kasih anak-anak penjelasan, ke orang tuaku juga. Bapak dan Ibu setiap hari telepon, nanyain tentang cucu-cucunya. Tentang kamu juga. Mereka juga selalu tanya, apa aku bahagia di sini?"
"Tentu aku berbohong, dengan bilang sama mereka kalau aku sangat bahagia di sini. Aku bahagia karena kamu selalu memperlakukanku bak ratu di rumah ini. Aku selalu membuat kamu terlihat baik di depan Bapak dan Ibu. Hanya untuk supaya mereka tenang." Mengingat Bapak dan Ibu yang jauh di sana, aku terisak lagi.
"Andai aja mereka tahu tentang yang sebenarnya, apa yang akan Bapak dan Ibu lakukan? Pasti mereka akan menyuruhku pergi dari hidup kamu. Mereka tentu gak rela, anak yang selama ini dia besarkan dengan susah payah harus hidup di atas derita. Bapak rela kerja mati-matian, sampai rela jual tanah dan sawah supaya aku bisa kuliah. Supaya aku bisa sebanding sama kamu!"
"Tapi sekarang tampak sia-sia. Perjuangan Bapak di balas luka sama kamu."
Aku menghela napas lagi. "Kalau sejak awal kamu gak sanggup untuk hidup sama aku, kenapa kamu harus pilih aku sebagai istri dan ibu dari anak-anak kamu?"
"Mas cinta sama kamu, Mas sayang sama kamu. Gak ada alasan kenapa Mas pilih kamu, sayang," suaranya terdengar tegas.
Aku menatapnya lirih. "Kalau begitu, apa alasan kamu berselingkuh kalau kamu cinta sama aku?"
"Mas hanya ..."
Dia tidak meneruskan kalimatnya. Terdiam cukup lama.
Aku menghela lagi, lalu kemudian, "Tolong ajak Cynthia ke rumah besok, Mas. Kita bicara."
__ADS_1