Demi Kasih

Demi Kasih
21


__ADS_3

Pov-3


"Mas, waktu kemarin aku ke Garut, di Mall sana gak sengaja liat Mbak Salwa, lho." Hanna berbicara.


Keluarga Aji saat ini sedang kumpul semua. Ayah, Bunda, Aji dan Hanna adiknya.


"Di mal Garut? sendirian?"


"Sama anak-anak juga. Terus aku liat mereka ditemenin sama laki-laki. Aku gak tahu itu siapa."


Aji mengernyit. "Laki-laki?"


Hanna mengangguk. "Gak terlalu muda, mungkin umurnya sama kayak kalian berdua."


Aji terdiam. Mencoba mengingat siapa kemungkinan lelaki yang bersama Salwa.


"Karel?" gumam Aji pelan.


"Apa, Mas?" tanya Hanna.


"Mungkin Karel, dek. Teman SMA-nya dia." Aji menjawab seadanya dan berusaha tenang. Walaupun kenyataannya berbanding terbalik.


"Gimana kalo itu calon Ayah baru buat anak-anak?" Ayah berseloroh. Membuat Aji menatapnya dengan cepat.


Pria itu, menggeleng ribut. "Enggak. Jangan, jangan sampai ada Ayah lain selain Aku, Yah!" tegas Aji.

__ADS_1


Ayah Herry terkekeh kecil. "Memangnya kenapa? Itu kan hak Salwa. Kamu harus ingat, Ji. Kamu sudah bukan siapa-siapanya lagi."


Aji berdecak. "Pokoknya jangan sampai ada laki-laki lain yang anak-anakku panggil Ayah. Cukup Aji aja."


"Kalian semua, tolong bantu aku buat dapatin Salwa lagi. Tolong bantu aku untuk bisa seperti dulu lagi. Bisa, kan?"


...***


...


Siang ini, keluarga Aji sampai di kediaman orang tua Salwa di Garut. Membuat keluarga Salwa sedikit terkejut. Karena memang, tidak ada kabar sebelumnya.


Anak-anak tentunya senang bukan main. Apalagi saat melihat kakek neneknya yang sudah lama tak mereka jumpai.


Hanna, Zayn, Aksa dan Natasha sedang bermain di kolam ikan belakang rumah.


"Nak, sehat, kan?" tanya Rina kepada Salwa.


Salwa tersenyum dan mengangguk. "Alhamdulillah, Bunda."


"Ibu, Bapak juga sehat, kan?"


"Alhamdulillah, kami juga sehat." Tria mewakili.


"Syukurlah. Maaf, Pak, Bu, jika kedatangan kami ke sini malah menganggu dan merepotkan semuanya,'m" ucap Rina.

__ADS_1


Rahma tersenyum mendengarnya. "Gak kok, Bu. Enggak merepotkan sama sekali. Justru kami senang kalau keluarga Pak Herry bisa berkunjung ke sini lagi. Terutama anak-anak, mereka senang sekali bisa ketemu kakek neneknya lagi."


"Iya, kemarin juga saya sempat ngobrol dengan Aksa. Dia cerewet banget, nanyain Ayahnya terus. Makanya Aji ajak kita ke sini. Katanya pengin ketemu sama anak-anak."


"Entah mau ketemu anak-anak, atau Ibunya anak-anak. Saya gak tahu." Herry berseloroh. Membuat Tria dan Rahma tersenyum. Salwa dan Aji sendiri, hanya bisa terdiam sambil sesekali tersenyum canggung.


Sudah lama mereka tidak berkumpul seperti itu. Bahkan saking sudah lamanya, keadaan jadi agak canggung. Hanya para orang tua yang kelihatan tampak akrab.


Melihat keadaannya yang seperti itu, Aji jadi teringat momen saat mereka lamaran. Dimana waktu itu, Aji datang bersama orang tua untuk meminang seorang gadis yang membuatnya jatuh cinta walau sudah 4 kali ditolaknya.


Mereka kemudian mengobrol. Membicarakan banyak hal. Mulai dari pekerjaan, juga masalah anak-anak.


3 jam keluarga Aji ada di rumah milik kediaman Tria itu. Sampai kemudian, Herry, Rina, Aji beserta Hanna pamit untuk pulang.


Sebelum mereka benar-benar pulang, Rina sempat menanyakan hal yang membuat Aji mengernyit heran.


"Nak, maaf ... kamu belum menikah, kan?"


Salwa menggeleng.


Rina tersenyum lega. Sambil mengusap-usap kepala, lengan dan punggung Salwa dengan lembut. "Dijaga, ya?"


Kata itulah yang membuat Aji bingung sebingung-bingungnya.


Apa yang harus dijaga?

__ADS_1


__ADS_2