Demi Kasih

Demi Kasih
20


__ADS_3

Pov Aji


Hari ini, kebetulan aku sedang berada di kediaman kedua orang tuaku. Berkunjung sambil mencoba menenangkan pikiran dari beberapa hal yang membuat kepalaku sakit akhir-akhir.


Ku lihat, Bunda sedang berada di halaman belakang. Duduk di kursi malasnya sambil membaca buku. Sedangkan Ayah, baru 10 menit yang lalu dia pergi. Katanya akan bertemu teman lama.


Kuhampiri Bunda, lalu duduk di sebelahnya. Bunda menoleh dan tersenyum. Lembut sekali. Inilah yang perlu aku syukuri di tengah keadaanku yang sedang kacau.


Ayah maupun Bunda, mereka senantiasa menerimaku sampai detik ini. Walaupun, anaknya ini sudah bersikap sangat-sangat banjingan.


"Kenapa, Nak?" tanya Bunda. Mungkin menyadari wajahku yang tampak gelisah.


Aku lantas memeluknya. Hal inilah yang aku butuhkan saat ini. Sebagai obat penenang dari setiap keadaan.


Bunda mengelus rambutku dengan sangat lembut. "Kapan mau ketemu anak-anak lagi?"


Aku menggeleng. "Belum tahu, Bun."

__ADS_1


"Tadi Bunda teleponan sama Aksa. Dia cerewet banget nanyain kamu. Katanya, kalau ada Ayah tolong bilangin, cepet pulang. Gitu," kata Bunda, "terakhir kali kamu ketemu mereka kapan?"


"Dua minggu yang lalu, Bun," ucapku, "penginnya juga sering-sering ketemu sama mereka. Tapi, Salwa suka larang. Katanya, jangan terlalu sering datang, mancing perbincangan orang-orang. Maklumlah, Bun. Di sana kan desa."


Bunda menganggukkan kepalanya.


"Bun, doain dan dukung Aji terus, ya? Supaya bisa seperti dulu lagi. Jujur aja, Aji masih mengharapkan Salwa dan anak-anak kembali lagi." Aku menghela napas.


Memang, baru beberapa bulan aku terpisah jauh dari Salwa dan anak-anak. Batinku rasanya sangat tersiksa. Setiap pulang kerja, tak ada yang membuatku semangat.


Pulang ke rumah, kosong. Tak ada siapa-siapa. Tak ada lagi Salwa yang menyambutku. Tak ada lagi anak-anak yang selalu berebutan minta digendong.


"Sudah pasti, Nak. Karena Bunda juga mengharapkan yang sama. Masih ingin Salwa dan anak-anak ada di tengah-tengah kita.


Pesan Bunda, kalau suatu saat mereka kembali, tolong jangan ulangi kesalahan yang sama, ya?" ucap Bunda penuh pengharapan.


Aku terseyum dan mengangguk haru. Tentu, aku berjanji, tidak akan mengulangi itu lagi.

__ADS_1


"Bismillah, semoga bisa."


Tling!


Ponselku tiba-tiba berbunyi. Segera aku melihatnya.


Boom!!


Betapa terkejutnya aku saat melihat pesan apa yang baru saja masuk.


Mau bermain-main lagi, sayang? Foto ini akan sangat bagus jika dikirim ke mantan istrimu itu


Sebuah pesan berbahaya dari nomor tidak dikenal berisi sebuah ancaman dan juga foto-foto yang amat sangat membuatku geram.


Sudah tidak ragu lagi, pasti wanita itu pelakunya.


Sial! Aku kecolongan. Tak pernah terpikirkan kalau dia akan kembali dan berbuat aksi yang lebih berbahaya seperti ini.

__ADS_1


Ah, seharusnya dulu kubuat wanita kapok dan menderita. Dan kalau perlu, wanita itu pergi sejauh mungkin dari hidupku. Agar dia tidak merusak apa yang akan kulakukan ke depannya.


Aku harus bergerak cepat, Sebelum Salwa melihat dan mengartikan itu dalam sudut pandang yang salah. Jangan sampai Salwa melihat dan kemudian terjadi kesalah pahaman yang membuat hubungan kami menjadi lebih sulit.


__ADS_2