
"Aku habis bertemu pengacaraku untuk urus semua perceraian kita," kataku akhirnya memecah keheningan.
Mas Aji seketika menghentikan laju mobil dan menoleh ke arahku dengan cepat. "Kamu ..." Dia menggantung ucapannya.
Aku mengangguk seolah mengerti. "Ya, Mas. Tekadku sudah bulat. Aku ingin kita berhenti sampai sini."
Mas Aji menggeleng lemah. Matanya menatapku sayu. "Gak, sayang! Mas gak mau."
Dia menggenggam tanganku kemudian. Aku membiarkan.
"Apa gak ada kesempatan kedua untuk, Mas?" tanyanya lirih.
Aku menghela napas. "Maaf, Mas. Ini sudah keputusan yang paling matang."
"Apa kamu gak kasihan sama anak-anak kalau kita berpisah? Berhenti?"
"Kita hanya berhenti sebagai suami istri, bukannya berhenti sebagai orang tua mereka," kataku, "aku mohon, terima, ya?"
Lagi, Mas Aji menggeleng lirih. Dia kemudian memelukku erat dan menyembunyikan wajahnya pada cekukan leherku. Badannya bergetar, dia menangis.
Aku mengusap punggung yang masih sama tegapnya seperti pertama kali kita bertemu. "Selama hakim belum mengetuk palu, aku akan manfaatkan waktu beberapa bulan ke depan sama kamu dan anak-anak. Akan aku buat kenangan yang berkesan sebelum kita berpisah, Mas."
***
3 bulan berlalu. Selama itu aku sibuk mengurusi berkas perceraian dengan Mas Aji. Sedang Mas Aji, seperti sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaannya, di kantor. Pulang-pulang selalu menampilkan wajah lelah juga ... sedih.
Saat ini aku sedang bersama ketiga anak-anakku. Mengajaknya bermain sambil sesekali bercanda.
Mas Aji juga ada di antara kami. Kebetulan, hari ini dia sedang libur bekerja jadi bisa hadir di tengah-tengah kami.
__ADS_1
Dia tidak melakukan apa pun. Hanya diam dengan matanya yang terus menatap ke arah kami. Dengan tatapan yang paling aku benci dan hindari. Tatapannya yang sayu dan rapuh.
Besok, mungkin boleh dikatakan hari bersejarah untuk kami. Karenanya, besok majelis hakim akan mengetukkan palunya pertanda kami resmi bercerai.
"Bunda, kapan kita liburan bareng lagi?" Aksa bertanya tiba-tiba. "Randi temanku kemarin habis liburan bareng Mama Papanya ke Pantai. Kita kapan?"
Aku mencoba tersenyum pada Aksa. Memang benar, sudah lama kami sekeluarga tidak pergi untuk berlibur bersama.
Kuelus kepalanya, lembut. "Nanti kalau ada waktu, Bunda, Kak Zayn, Abang sama Adek liburan, ya?" kataku.
"Ayah?" tanya Aksa keheranan.
Aku melirik sejenak ke arah Mas Aji. Kemudian tersenyum kembali kepada Aksa. "Ayah kan sibuk, harus kerja," ucapku mencoba memberikannya pengertian yang masuk akal. Karena tidak mungkin kan kalau aku bilang bahwa kemungkinan kita tidak akan bisa seperti dulu, liburan bersama misalnya.
Karena, mau bagaimana pun juga, setelah kami bercerai, bukan tidak mungkin Mas Aji punya keluarga baru.
Tapi ku lihat, Aksa malah cemberut. Tidak terima dengan ucapanku.
Mas Aji kemudian mendekat ke arah kami. Dia duduk tepat di belakangku. Kemudian tanpa permisi, tangannya memeluk perutku dari belakang. Erat sekali. Melupakan keberadaan anak-anak yang ada di antara kami.
"Ayah, Abang mau liburan, boleh kan? Ayah gak kerja, kan?" Lagi, Aksa bertanya.
"Iya. Minggu depan kita liburan ke Pantai," jawab Mas Aji kelewat santai.
"Janji, Yah?"
"Iya."
Aksa bersorak senang.
__ADS_1
Aku menoleh ke arah Mas Aji. Karena wajahnya yang berada di bahuku, membuat jarak antara wajah kami berdua sangat dekat saat menoleh.
"Mas!"
"Ya?"
"Jangan pernah bicarain hal yang belum pasti, jangan pernah janji sama anak-anak," kataku pelan.
"Sudah pasti, sayang. Mas akan ajak kalian jalan-jalan minggu depan."
Aku menghela napas. "Besok kita sudah resmi. Dan minggu depan aku pasti sudah ada di kampung. Jadi gak akan bisa, Mas."
Mas Aji melepas rengkuhannya. Memberi jarak antara posisi kami. Dia mengusap wajahnya kasar. "Mas gak mau! Mas gak mau pisah, sayang."
Setelah mengatakan itu, Mas Aji pergi ke ruang kerjanya. Aku pun mengikuti, setelah sebelumnya berbicara dulu pada Zayn dan Aksa.
"Mas ... cobalah buat mengerti dan menerima," kataku setelah sampai.
Mas Aji sedang duduk dengan mata terpejam. Tubuhnya dia sandarkan sepenuhnya pada kursi kerjanya.
"Besok kita sudah resmi bercerai, tolong kamu harus menerima semuanya. Ini merupakan keputusan yang paling baik untuk kita berdua."
Mas Aji tidak mengindahkan. Masih dengan posisi yang sama. Hanya saja, ku lihat napasnya sedikit memburu sekarang.
Sedetik kemudian, dia bangkit. Tanpa dikomando dia malah memelukku erat. Bahkan saking eratnya badanku hampir terhuyung.
Entah apa yang dia katakan sampai kemudian mampu menghipnotisku. Mencium bibirku lembut. Mencecapnya mesra.
Masih sama, ciuman yang dia berikan sukses membuatku melayang.
__ADS_1
***