Demi Kasih

Demi Kasih
17


__ADS_3

Pagi ini, keadaanku masih sama. Mual-mual dan pusing mendera. Aku pikir hanya masuk angin atau sakit biasa, tapi aku berpikiran lain sekarang. Terlebih lagi, setelah mendengar penjelasan dari Ibu dan Mbak Sri.


"Mungkin kamu lagi isi, Neng," ucap Ibu.


Aku tertegun mendengarnya. Benarkah itu?


"Coba kamu ingat-ingat, sebelum bercerai, kalian ..."


Aku mengangguk cepat. Memotong ucapan Mbak Sri. "Sehari sebelum sidang akhir, malamnya, aku dan Mas Aji memang melakukan ... itu," kataku, "terlebih lagi, saat itu aku baru aja selesai dari hadast."


"Lah iya, masa subur-suburnya itu." Mbak Sri menegaskan.


Karena itu, pagi ini, aku akan mencoba saran dari Ibu. Untuk mengeceknya dengan test pack yang baru Mbak Sri beli.


Dan sudah 15 menit berlalu tapi aku juga belum melihat hasilnya. Terlalu takut.


Tapi, kucoba beranikan diri. Daripada lama-lama penasaran.


Aku memejamkan mata saat tahu hasilnya adalah dua garis merah. Tanganku gemetar. Tubuhku mendadak lemas dan dadaku sedikit sesak.


Bukan aku tak terima dengan kehadirannya. Hanya saja aku bingung entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.


Apakah harus berbicara pada Mas Aji dan mengakuinya? Atau tetap merahasiakan ini?


Hidupku seolah terikat dengan Mas Aji. Orang yang telah membuatku bahagia dan terluka dalam waktu yang sama.


Seakan-akan, semesta memang tidak menginginkan kami berdua terpisah semakin jauh.


Tak lama Ibu memanggilku. Dengan cepat aku menghampirinya.


"Ada apa, Bu?"

__ADS_1


"Ada Nak Karel datang."


"Lagi?"


Ibu mengangguk.


Aku menghela napas. Karel ini memang sering sekali berkunjung ke sini. Padahal sudah kubilang, jangan terlalu sering karena takut banyak orang curiga yang tidak-tidak. Maklumlah, ini di Desa.


"Gimana, Neng?" tanya Ibu sebelum aku menemui Karel.


Aku mengangguk pelan.


Ibu tersenyum sambil mengusap lenganku. "Disyukuri aja. Rezeki itu," kata Ibu menyemangati.


"Tapi ... kalau tetangga pikir aneh-aneh bagaimana, Bu?" tanyaku takut.


Ibu mengusap kepalaku lembut. "Gak usah dipikirin soal itu. Toh, kenyataannya kamu juga gak aneh-aneh. Ya?"


"Ya." Ibu memotong ucapanku. "Ayahnya tetap harus tahu, Neng. Cepat atau lambat. Gimana caranya, itu terserah kamu. Sudah ya, jangan terlalu banyak pikiran."


Aku tersenyum dan mengangguk. Ibu ini, memang penenang yang baik bagiku.


"Ada apa, Rel?" tanyaku sesaat setelah menghampiri Karel.


Karel mendongak. "Enggak ada apa-apa, kok. Cuma pengin ke sini aja."


"Baru kemarin kamu ke sini, sekarang ke sini lagi. Belum balik ke Jakarta kamu?"


Karel menggeleng.


Aku menghela napas. "Kenapa? Padahal jadwalmu lagi padat-padatnya pasti."

__ADS_1


"Iya. Tapi aku khawatir sama kamu. Kerjaan bisa dihandle sama asissten."


Aku berdecak. "Jangan begitu lah, Rel. Kamu harus profesional." Aku kesal.


Karel hanya tersenyum mendengar ocehanku. "Keadaan kamu gimana?"


"Baik."


"Tapi muka kamu masih pucat. Ke dokter aja yuk?"


Aku menggeleng. "Gak apa-apa, kok. Biasa ini."


"Wa..."


"Rel ... mending kamu pulang aja. Maaf, bukan aku ngusir kamu. Tapi jangan begini lah, kamu sampai gak kerja cuma buat nemuin aku sama anak-anak."


"Kamu jangan merasa terbebani dengan ini. Aku sendiri yang mau. Soal kerjaanku, kamu juga jangan khawatir. Hari ini gak terlalu banyak pasien."


Aku menghela napas mendengarnya. Karel ini memang punya pendirian yang keras. Kalau dia maunya A, ya harus A.


"Jadi ... gimana, Wa?" tanya Karel random.


Aku terdiam sebentar. Lalu, mengangguk. Sebelumnya, aku sudah berbicara pada Karel soal kecurigaan Ibu dan Mbak Sri yang menyatakan aku hamil. Tidak ada alasan lain memberi tahunya kecuali karena aku ingin.


"Apa gak apa-apa, kalau aku tahu lebih dulu daripada Ayahnya?" Karel meragu.


Aku sendiri bingung harus menjawab apa. Yang pasti, aku pun sama ragunya. Aku mengerti, di satu sisi, tindakkanku ini keliru. Tapi di sisi lain, mau bagaimana lagi. Soal Karel yang tahu lebih dulu, sudah menjadi keputusanku. Menurutku, selama ini Karel-lah yang membuatku percaya. Dia yang lebih besar membantuku selama ini. Terutama soal pemulihanku.


"Cepat atau lambat, Ayahnya harus tahu."


...***...

__ADS_1


__ADS_2