Demi Kasih

Demi Kasih
12


__ADS_3

Dengan langkah tergopoh, aku berjalan menuju salah satu ruangan di rumah sakit.


Mas Aji tadi mendapat telepon kalau Aksa, anak keduaku yang baru saja berumur 5 tahun kecelakaan. Korban tabrak lari lebih tepatnya.


Untunglah, keadaannya tidak terlalu parah. Hanya memar dan lecet di beberapa bagian tubuhnya.


"Keadaannya baik-baik saja kan, Dok?" tanyaku saat sudah sampai.


"Sekarang keadaannya sudah membaik, Bu, Pak. Luka-lukanya sudah diobati."


Aku menghela napas, lega. Lalu, kuhampiri Aksa yang sekarang sedang tertidur. Mas Aji berada di luar, sedang menerima telepon entah dari siapa.


"Bunda ..." Aksa terbangun, memanggilku lirih.


"Iya, sayang. Bunda di sini." Aku mengusap lembut rambutnya. "Abang mau minum?"


Aksa mengangguk. Lalu dengan gesit, aku mengambilkannya air minum.


"Ayah ikut, Bunda?"


Aku tersenyum mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Aksa. Sudah kubilang, kalau anak-anak sangat tidak bisa lepas dari Ayahnya. Apalagi saat sakit seperti ini.


"Ikut. Tapi lagi telepon dulu, sebentar lagi juga selesai."


Aksa mengangguk.


"Abang istirahat lagi aja, ya? Biar cepat sembuh."


Dia menurut, berbaring kembali. Tak lama dari itu, Mas Aji kembali masuk dengan wajah yang bisa dikatakan tidak baik. Ada emosi di sana. Rahangnya mengeras dan matanya memerah.


Dia duduk di kursi yang satu, tepat di sampingku. Penasaran, aku bertanya, "Are you okay?"


Dia menoleh ke arahku.


"Habis telepon siapa, Mas? Cynthia, ya? Ada masalah?"


Mas Aji malah berdecak. "Stop sebut nama dia lagi."


Aku mengernyit. "Kenapa?"


Mas Aji tidak menjawab. Detik selanjutnya, Mas Aji memeluk tubuhku. Menyembunyikan wajahnya pada ceruk leherku. Ku biarkan. Tak apa, mungkin ini yang dia butuh kan sekarang. Lagi pula, dia masih suamiku.


"Biar dulu seperti ini. Mas butuh ketenangan," katanya.


Aku mengangguk. Tanganku terangkat untuk mengusap punggungnya.


"Ada masalah, Mas?"


Sebelum menjawab, Mas Aji menghirup dalam aroma leherku. "Wanita itu, dia pelakunya ternyata."


"Wanita itu siapa?" tanyaku bingung.


Mas Aji melepas rengkuhannya. "Cynthia. Dia orang yang tabrak Aksa."


Aku tersentak. Menatap Mas Aji meminta penjelasan.

__ADS_1


"Mas minta orang untuk cari pelaku yang tabrak Aksa. Dan tadi, orang suruhan Mas telepon. Katanya, dia sudah nemuin motor yang dipakai si pelaku. Setelah ditelusuri ternyata pelakunya perempuan, Cynthia."


"Mas ... Serius?"


Mas Aji mengangguk. "Iya, sayang. Wanita itu, orang yang sudah buat Aksa kita jadi seperti ini."


"Tapi kenapa?" tanyaku masih bingung.


Mas Aji menghela napas gusar. "Mungkin dia marah sama Mas karena Mas udah selesain hubungan kami begitu aja. Dia gak terima dan malah melampiaskan ini semua ke Aksa."


Aku menggeleng tak percaya mendengarnya. Wanita itu benar-benar nekat.


"Mas ... Kamu harus bicara sama dia, bilang kalau hubungan kalian masih bisa berlanjut. Karena pernikahan kita juga ..."


"Cukup! Jangan pernah bicara soal itu lagi. Pernikahan kita masih akan terus berlanjut." Mas Aji memotong ucapanku dengan nada yang tak biasa. Ada kemarahan di sana.


"Mas ..." Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku. Seseorang datang dari arah pintu.


"Maaf, Pak, Bu, jika menganggu. Saya hanya ingin memberikan resep obat. Nanti Bapak atau Ibu bisa tebus di apotek." Suster berkata seraya menyodorkan secarik kertas.


Setelah pamit, dia pergi lagi.


"Aku ambil obat dulu, Mas," kataku sambil bangkit.


Mas Aji mencekal. "Biar Mas aja. Kamu tunggu di sini."


Aku menggeleng. "Enggak, Mas. Biar aku yang ambil obat, kamu pasti capek. Sekalian jagain Aksa. Tadi juga Aksa nanyain kamu."


Mas Aji menurut. Aku mulai berjalan ke luar ruangan. Menuju apotek yang jaraknya tak jauh dari kamar inap Aksa.


Setelah selesai mengambil obat sesuai dengan resep dari Dokter, aku kembali melangkah menuju ruangan. Di jalan, karena terlalu fokus terhadap obat-obatan yang ada di tangan, tiba-tiba aku menabrak tubuh seseorang. Akibatnya beberapa obat yang aku bawa pun berceceran.


"Lho, Salwa?"


Aku mendongak menatap wajah orang yang baru saja aku tabrak. Dengan wajah terkejut aku berkata, "Karel?"


Lelaki yang aku sebut Karel itu terkekeh melihat keterkejutanku.


Aku ikut tersenyum melihatnya. "Kamu udah ada di sini?"


Karel mengangguk. "Iya, udah dari dua hari yang lalu sebenarnya. Btw, kamu ngapain di sini?"


"Oh ini." Aku menunjuk obat yang aku bawa. "Aksa kecelakaan jadinya harus di rawat di sini."


Karel sedikit terkejut mendengarnya. "Sekarang keadaannya gimana?" tanyanya panik.


Aku terkekeh mendengarnya. "Sekarang udah membaik, kok."


Karel bernapas lega. "Boleh aku jenguk Aksa?"


Aku mengangguk antusias. "Tentu boleh dong. Tapi kamu gak sibuk, kan?"


Karel menggeleng.


"Ya udah ayo." Aku mengajaknya menuju ruangan Aksa.

__ADS_1


Sampai, melihatku yang datang dengan Karel, Mas Aji berdiri dari duduknya. Menatap aneh ke arahku dan Karel.


"Mas ..." kataku. "Ini Karel, teman SMA-ku dulu."


Karel menyodorkan tangannya, bersalaman. Mas Aji menerimanya walaupun ogah-ogahan.


"Aji."


"Karel."


"Duduk, Rel," ucapku.


Lelaki itu tersenyum. "Gak usah, Wa."


Aku mengangguk, tak mau memaksa juga.


"Obatnya udah ditebus, sayang?" Mas Aji bertanya.


Aku dan Karel sontak menoleh ke arahnya.


"Udah, Mas."


Mas Aji mengangguk. Kemudian mengalihkan tatapan ke arah Karel. "Kok kalian bisa ketemu?"


"Ah itu ... Kebetulan saya juga ada urusan di rumah sakit. Tadi gak sengaja papasan, dan Salwa cerita kalau Aksa sakit jadinya saya mampir. Gak masalah kan?" tanya Karel agak ragu.


Mas Aji mengangguk. "Gak masalah, cuma saya gak nyaman aja," katanya sambil mengalihkan pandangan pada Aksa.


Aku terlonjak kaget mendengar ucapannya barusan. Lalu kuberi dia tatapan tak suka. "Mas!" peringatku.


"Oh ya sudah. Saya permisi. Wa, aku permisi dulu. Semoga Aksa cepat membaik." Karel jadi agak kikuk.


"Eh, Rel ..." Ucapanku terpotong oleh ucapan sarkas Mas Aji.


"Iya silakan. Terima kasih sudah mau menjenguk."


Karel kemudian pergi. Aku menghela napas kasar. Mendelik ke arah Mas Aji yang malah memberikan tatapan tak berdosa.


"Mas ini apa-apaan, sih?!"


Mas Aji mengernyit. "Kenapa?"


"Kenapa Mas bicara begitu sama Karel."


"Emang salah?"


Astaga!


"Iyalah. Gak sopan. Dia datang ke sini dengan niat baik kenapa malah Mas usir begitu?"


Mas Aji mengalihkan pandangan ke arah Aksa, lagi. "Gak baik bawa laki-laki lain, sedangkan suami kamu ada di sini."


Aku membolakan mata mendengarnya. Kemudian terkekeh sinis. "Gak baik? Apa kabar sama Mas?"


Mas Aji terdiam.

__ADS_1


"Karel temanku. Bukan lelaki simpananku, Mas! Terus apa masalahnya?" kataku. "Mas Aji cemburu? Atau gimana? Kalau iya, apa Mas pernah berpikir hal yang sama waktu kamu punya wanita simpanan? Apa Mas peduli aku akan sakit hati akan cemburu? Enggak, kan! Mas cuma mentingin diri Mas sendiri tanpa peduli aku dan anak-anak."


Aku menghela napas kasar. "Asal Mas tahu, Karel lebih paham dan peduli sama aku selama ini."


__ADS_2