Demi Kasih

Demi Kasih
3


__ADS_3

Malamnya, saat aku baru saja selesai menidurkan anak-anak, lalu kemudian aku masuk ke dalam kamarku.


Kulihat, Mas Aji sedang duduk di ranjang dengan tangan yang memegang handphone. Aku menghela napas. Sudah dapat dipastikan kalau suamiku sedang melakukan chat bersama wanita simpanannya.


Ku ambil handphone guna melihat pesan yang masuk ke dalam akun WhatsApp-mu.


Sakit sekali rasanya saat membaca pesan-pesan yang kalian kirimkan. Berisi gombalan-gombalan yang Mas Aji katakan, pesan-pesan manja yang Cynthia balas, sungguh semua itu membuatku muak dan jijik. Terlebih lagi, saat aku membaca pesan yang membahas tentang sex yang mereka lakukan tadi pagi.


Aku menghela napas lagi. Lalu ku simpan handphoneku di nakas. Menyudahi kegiatanku itu, karena kalau tidak, aku pasti tambah merasa sakit.


Ku lirik Mas Aji yang sedang tersenyum-senyum menatap layar. Tak menghiraukan kehadiranku di sisinya.


"Mas," panggilku mencoba mengalihkan atensinya.


Suamiku itu hanya berdeham menanggapinya. Aku menghela napas lagi. Pasrah kemudian.


Setelah itu, lebih baik aku beristirahat. Aku berbaring dengan posisi membelakangi Mas Aji.


10 menit kemudian mataku tak kunjung juga terpejam. Lalu tiba-tiba saja ada pergerakan dari arah lain. Mas Aji ikut berbaring. Dia kemudian memelukku dari belakang, sangat erat.


"Sayang, udah tidur?" tanyanya tepat di telingaku.


Aku hanya diam tak menanggapi.


"Aku kangen nih."


Aku memejamkan mata saat mendengar ucapannya. Karena aku tahu ke mana arah pembicaraannya. Ya, dia mengajakku untuk melakukan kewajiban sebagai seorang suami istri.

__ADS_1


Ingin menolak tapi ini kewajiban. Lantas bagaimana? Sungguh aku tidak mau melakukan hal itu sedangkan hatiku sedang tersayat-sayat. Sungguh aku tidak mau melakukannya apalagi setelah tahu dia pun melakukan hal yang sama dengan perempuan lain.


Mas Aji semakin mengeratkan pelukannya sambil menciumi leherku. Aku mengusap lengannya yang berada di perutku.


"Boleh?" tanya Mas Aji lagi.


Aku bangun untuk duduk. Mas Aji mengikuti.


"Mas kan pasti capek," dalihku mengalihkan.


Mas Aji tersenyum, mengusap pipiku lembut. "Mas gak capek kok, sayang. Mau, ya?"


Aku tampak berpikir, memutar otak. "Sebelumnya, kita ngobrol dulu, ya? Udah lama kita gak bicara berdua."


Mas Aji tampak mengernyit.


Suamiku itu mengangguk. "Mau bicara apa memangnya?"


"Apa aja, Mas. Segala hal."


Aku mendekat ke arah Mas Aji. Kemudian menjatuhkan diriku pada dirinya. Lebih tepatnya bersandar pada dadanya. Refleks, dia mengusap rambutku.


"Akhir-akhir ini Mas kan selalu sibuk. Jarang ada waktu untuk aku dan anak-anak."


"Mas kan kerja, sayang."


Aku tersenyum sinis. Kerja apa? Kerja di ranjang bersama perempuan lain, iya?

__ADS_1


"Iya, aku tahu, Mas. Tapi Mas jadi lebih sibuk dari biasanya. Kerjaannya numpuk banget, ya?" tanyaku basa-basi.


Mas Aji mengangguk. "Iya, sayang. Akhir-akhir ini memang kerjaan Mas banyak banget, jadinya harus ekstra kerja."


Aku menganggukkan kepala pura-pura mengerti. "Sebenarnya gak apa-apa sih kalau Mas sibuk karena kerjaan, asal jangan karena hal lain."


Usapan di rambutku terhenti.


"Maksudnya?"


"Tadi tetangga kita cerita, Mas. Suaminya itu selingkuh. Padahal selama ini dia bilang kalau dia sibuk kerja, tapi nyatanya malah sibuk dengan perempuan lain."


Sesaat setelah aku mengatakan itu, ku rasakan tubuh Mas Aji menegang. Tersinggung mungkin.


"Mas gak kayak begitu, kan? Mas setia, kan?" pancingku setelah melepaskan pelukan.


Mas Aji mengangguk ragu-ragu. Ada raut kecemasan di matanya. Mungkin cemas kalau aku tahu perbuatan busuknya.


"Gak mungkin dong sayang Mas begitu. Mas kan setia sama kamu. Mas cinta sama kamu."


Aku pura-pura tersenyum senang. Walau nyatanya ada kepahitan yang aku rasakan.


"Memang harus setia, Mas. Jangan sampai main gila di belakangku. Mas harus ingat kalau ada aku dan anak-anak yang selalu nunggu di rumah. Ada aku dan anak-anak yang selalu sayang sama Mas."


"Mas harus ingat janji kita dulu untuk saling menjaga komitmen satu sama lain. Semoga Mas bisa jaga janji itu, karena aku pun begitu."


Mas Aji tampak tersenyum kikuk. Kemudian mengangguk. "Iya, Mas janji sayang."

__ADS_1


Saat Mas Aji mengucapkan itu, aneh, tidak ada kelegaan di dalam hati. Rasanya hambar. Karena mungkin aku sudah tahu kalau yang dia katakan hannyalah sebuah kebohongan. Janjinya untuk setia hannyalah omong kosong. Karena faktanya, justru dia sudah bermain gila.


__ADS_2