
Sejak semalam, setelah mendapatkan pesan dari Cynthia, Mas Aji pergi entah ke mana. Mungkin menemuinya, karena semalam di telepon perempuan itu bilang akan bunuh diri jika Mas Aji tidak datang.
Aku sedang bermain bersama si bungsu Natasya. Dari menemaninya bermain air, mengacak-acak satu ruangan penuh, sampai dia yang memainkan makanannya.
Di umur 2 tahun, dia memang sedang aktif-aktifnya bermain. Bahkan mampu membuatku kewalahan. Jika dulu, di saat seperti ini Mas Aji pasti akan membantu meringankan tugasku, tapi sekarang keadaannya sudah jungkir balik. Sudah berbeda. Jauh berbeda.
Dering telepon membuat fokusku terbagi. Nama Mas Aji yang tertera di layarnya.
"Halo," sapaku.
"Halo sayang. Uhm, anak-anak di mana?"
"Zayn sama Aksa sekolah. Nat lagi main. Tadi mereka nanyain kamu tapi gak rewel, kok."
Ku dengar Mas Aji menghela napas. "Maafin Mas, sayang."
"Gak apa-apa, dari kemarin Mas minta maaf mulu. Gimana urusanmu sama Cynthia, udah selesai?"
"Belum, dia sekarang ada di rumah sakit," lirih Mas Aji.
"Oh ya sudah, setelah selesai sama Cynthia, jangan lupa cepat pulang, kita selesaikan juga urusan pernikahan kita."
Mas Aji terdiam. Ku tebak, dia pasti agak tersentak.
"Kamu tetap mau cerai dari, Mas?"
"Iya," jawabku tegas.
"Tunggu, 30 menit Mas udah sampai di rumah. Kita bicara."
Panggilan telepon terputus. Benar saja, 30 menit kemudian terdengar suara mesin mobil memasuki pekarangan.
__ADS_1
Mas Aji datang dengan penampilan yang acak-acak kan. Aku mencium punggung tangannya, kemudian ke dapur untuk membuatkan minuman.
Sementara aku ke dapur, Mas Aji sedang menggendong Natasya yang kebetulan ada di sana. Diciumi pipi anak mungil itu dengan gemas sampai-sampai Natasya terkekeh kegelian.
Setelah aku kembali lagi, Mas Aji mendudukkan Natasya di pahanya. Menyesap teh hangat yang baru saja aku hidangkan.
Aku duduk di kursi terpisah, namun dia menyuruhku duduk di sampingnya. Aku menurut.
"Kita bicara soal pernikahan kita," ucap Mas Aji.
"Sekarang ada Natasya."
Walaupun dia belum mengerti, tapi aku tidak mau dia sampai ketakutan karena mungkin obrolan ini akan menguras emosi.
"Nat sama Bi Lastri aja dulu, ya? Mas pengin bicarain semuanya sekarang."
Aku mengangguk. Menyuruh Bi Lastri untuk menemani Natasya bermain. Untunglah, anak itu tidak rewel.
Aku mengangguk mantap. "Iya, aku yakin. Sangat yakin. Lagi pula, yang lebih berhak atas kamu sekarang adalah Cynthia, Mas."
Mas Aji terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab, "Dia keguguran."
Mendengarnya, aku agak tersentak. Namun selanjutnya, aku terkekeh miris.
"Dia semalam di bawa ke rumah sakit karena pendarahan. Janinnya udah gak ada saat Mas sampai di rumah sakit. Jadi, dari situ Mas bisa ambil keputusan kalau Mas gak punya lagi tanggung jawab sama dia."
Apa?! Aku menggeleng tak percaya mendengarnya. "Maksudnya? Kamu akan biarin Cynthia begitu aja?"
Mas Aji beringsut. "Iya. Mas selesai sama dia dan mau perbaiki semuanya sama kamu."
Aku terkekeh miris. Miris sekali mendengar ucapan dari Mas Aji.
__ADS_1
"Pendek banget ya pikiran kamu?!" sentakku.
Mas Aji sedikit terlonjak mendengar ucapan sarkasku. "Hati-hati sayang kalau bicara."
"Aku udah hati-hati kok. Justru Mas yang harusnya hati-hati, terutama dalam berpikir. Enak banget kamu bilang akan tinggalkan Cynthia dan kembali sama aku. Ngerasa bersalah gak, sih?!" kataku kesal.
"Jadi begini caramu memperlakukan wanita. Setelah puas kamu pakai, kemudian kamu tinggalkan? Brengsek banget kamu!"
"Ada atau enggaknya janin kalian itu, semua gak akan bisa merubah keadaan jadi seperti dulu. Aku tetap pada keputusan awal. Kita selesai."
Mas Aji menggeleng. "Sayang ... Tolong jangan begitu."
"Biar aku yang urus perceraian kita, Mas," kataku tanpa memedulikan lirihan Mas Aji.
Mas Aji menghela napas gusar. "Sayang, tolong kasih Mas waktu buat perbaiki semuanya, kita mulai dari awal. Demi anak-anak."
"Enggak, Mas. Maaf. Aku gak bisa lagi terima kamu. Kalau kamu pengin anak-anak bahagia, lebih baik lepaskan kita, Mas. Karena aku pikir, kita lebih bahagia tanpa kamu. Maaf."
Mas Aji menggeleng lirih. "Jangan, Mas ..." Belum sempat ucapan selesai, deringan telepon terdengar.
"Iya, dengan saya sendiri." Mas Aji berbicara di telepon.
"Kenapa?"
"..."
"Apa?! Baik saya dan istri akan segera ke sana." Mas Aji menutup teleponnya dengan panik.
"Kita harus ke rumah sakit sekarang, sayang."
"Kenapa? Siapa yang masuk RS?" tanyaku bingung.
__ADS_1
"Aksa. Dia kecelakaan."