Demi Kasih

Demi Kasih
9


__ADS_3

Bugh


Bugh


Bugh


Ayah mertuaku masih terus memukuli Mas Aji. Aku tak kuasa walau hanya untuk menahan. Malah membiarkannya dengan begitu saja.


Lagi dan lagi, wajah Mas Aji dihantam dengan tangan kokoh dari mertuaku. Tak bisa dipungkiri kalau tenaganya masih begitu kuat. Aku jadi ngeri sendiri.


Cynthia sudah bergetar ketakutan sejak tadi. Aku dan adik iparku sedang merengkuh Bunda mertuaku yang tentunya menangis histeris.


Lama kelamaan aku juga tak tega melihat Mas Aji mendapat tindakkan seperti ini.


Kemudian aku memberanikan diri, meminta Ayah mertuaku untuk berhenti. Untunglah beliau menurut. Tapi tatapannya masih menatap ke arah Mas Aji tajam. Napasnya masih memburu hebat.


"Suami gak tahu diri! Di mana otak kamu?! Kenapa kamu tega lakukan ini sama istri kamu?!" pekik Ayahku keras.


Iya, kedua mertua beserta adik iparku tahu tentang skandal perselingkuhan yang dilakukan Mas Aji.


"Ayah malu punya anak seperti kamu!! Seluruh rekan kerja Ayah bahkan sampai membicarakan kamu karena video itu!!"


Tanpa kusangka ternyata kejadian beberapa hari yang lalu di toko perhiasan akan berdampak seperti ini.


Orang-orang yang ada di sana ternyata merekam apa yang terjadi.


"Brengsek kamu, Aji!!" Ayah terlihat sangat-sangat marah. Aku tahu kalau dia termasuk orang yang bepergang teguh pada komitmen. Dia orang yang sangat-sangat setia dan tentunya benci perselingkuhan. Apalagi sekarang pelakunya adalah anaknya sendiri.


"Ayah udah cukup, kasihan Mas Aji," kataku menenangkan.


"Kenapa harus kasihan sama lelaki macam dia? Lelaki brengsek yang gak tahu diuntung harusnya kamu tinggalkan!"


Aku tersentak mendengar ucapan Ayah mertuaku sendiri. Memang benar, seharusnya dia aku tinggalkan bahkan sejak dulu. Tapi, yang menjadi pertimbanganku adalah anak-anak.


Aku menatap Mas Aji lirih. Aneh saja, sekarang malah iba melihatnya. Mas Aji hanya tersenyum mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja.


"Dan kamu!" Ayah mertuaku menunjuk Cynthia di depan wajahnya. "Berapa uang yang sudah diberikan lelaki sialan ini?! Kenapa kamu mau melakukan ini?!"


Cynthia semakin tak karuan. Dia daritadi sudah terisak sangat hebat.


Tiba-tiba saja tanpa aku duga, adik iparku maju mendekat ke arah Cynthia. Dan benar saja, apa yang aku pikirkan terjadi juga. Dia menampar pipi Cynthia sampai dua kali kanan kiri.


Dia memang wanita tangguh dan kuat. Juga, sama seperti Ayahnya yang sangat-sangat benci dengan perselingkuhan.

__ADS_1


"Dasar ******! Kenapa mau jadi wanita simpanan suami orang! Sadar gak sih tindakkan lo itu udah kayak *******?! Demi uang lo sampai rela ngangkang di depan laki-laki yang bukan suami lo! Mana harga diri lo?!" Hanna adikku itu berteriak keras.


Dari kami semua yang ada di sini, sekarang yang paling murka adalah Hanna dan Ayah. Aku sudah lumayan tenang setelah melihat kalau ternyata masih banyak juga yang membelaku.


"Cewek murahan, cuma bisa jadi sampah masyarakat," katanya lagi. Napas Hanna begitu memburu. Tangannya terkepal kuat. Jika saja Bunda tidak bicara, mungkin Hanna akan menyerang lagi.


"Lebih baik suruh dia pergi sekarang, Na!" perintah Bunda begitu tegas.


Hanna kemudian mengangguk menuruti. Walau aku yakin dia masih ingin menyumpah serapahi. "Lo denger kan? Pergi dari sini! Gak yang menginginkan kehadiran lo! Sekarang silakan lo keluar!" Hanna berucap tegas juga.


Aku hanya diam. Sudah tak kuasa walau hanya untuk menanggapi.


Benar saja, Cynthia pergi setelah mendengar gertakan dari Hanna.


Tinggallah kami berlima. Keadaan selanjutnya hening tercipta. Mas Aji masih terduduk di lantai dan meringis akibat pukulan bertubi dari Ayah.


Ayah sendiri sedang menenangkan Bunda dengan mendekapnya. Aku? Dipeluk sangat erat oleh Hanna.


Mas Aji kemudian bangun, dia duduk bersimpuh di depan kakiku dan kaki Bunda. Dia mulai menangis sambil terus menggumamkan kata maaf.


Emosiku yang sedari tadi sudah luluh lantah, semakin membuatku tak karuan. Aku menangis lagi. Pun dengan yang lainnya kecuali Ayah.


"Maafin Aji, Bun. Maafin Mas, sayang."


"Maaf, Aji khilaf. Mas khilaf," katanya lagi.


Ku dengar Ayah tertawa sumbang, membuat kami menatap ke arahnya.


"Sekarang baru minta maaf dan ngaku khilaf?Kemarin-kemarin ke mana aja?"


Mas Aji menatap Ayahnya sendu. "Aji ngaku salah, Yah."


"Ya memang kamu salah!"


Mas Aji beralih menatapku. "Tolong kasih Mas kesempatan kedua."


Aku mengusap kepalanya yang berada di atas pahaku. "Sepertinya aku gak bisa, Mas," kataku lirih.


Mas Aji menatap terkejut. "Maksud kamu?"


Sebelum aku menjawab, Ayah mertuaku berbicara dengan mengatakan kalau dia akan pulang dan kembali lagi nanti. Mereka coba memberikan kesempatan pada kami untuk bicara berdua karena mereka paham, ini masalah rumah tangga kami.


Ayah, Bunda dan Hanna sudah pergi. Tinggallah aku dan Mas Aji, juga dengan keheningan yang kemudian tercipta.

__ADS_1


"Kamu ingin cerai, sayang?" Mas Aji bertanya juga. Walau sendu nadanya.


Aku menangkup wajah rupawannya yang sekarang sudah basah dengan air mata. "Aku dan anak-anak akan pergi kalau itu bisa membuatmu bahagia, Mas. Walau mungkin itu akan menyakiti egoku sebagai wanita. Anggap aja kalau ini bagian dari kepatuhanku sama kamu. Jangan khawatir, aku gak akan nutup akses buat kamu untuk ketemu dengan anak-anak. Temui kami dengan rutin nantinya. Aku janji akan membuat anak-anak bahagia walau harus berjuang tanpa kamu. Aku janji itu, Mas."


Mas Aji terkejut mendengarnya.


"Kamu udah gak cinta sama Mas, sayang?"


Aku menggeleng pelan. Memalingkan wajah ke arah lain. Bukan aku sudah tak cinta, Mas. Aku sangat-sangat mencintai kamu. Hanya saja, aku ini cuma manusia biasa. Yang tentunya gak mau kalau terus-terusan merasakan derita.


"Kamu benci sama, Mas?"


Aku menggeleng lagi. Menunduk menatap jemari kami yang sudah bertaut. "Aku sangat mencintai kamu, Mas. Hanya saja aku benar-benar benci dengan perlakuan bejad kamu selama ini. Sudah cukup lama aku tahan ini, dan mungkin inilah saatnya aku tumpahkan semua. Atau bahkan mengakhiri semuanya."


Mas Aji menatapku lekat. Matanya yang sudah kabur dengan air mata tak pernah pergi barang sedetik pun dari wajahku.


"Mas juga cinta sama kamu. Mas cinta sama anak-anak, sayang. Apa kamu gak mau percaya kalau Mas meminta kesempatan kedua?" tanyanya lirih.


Melihat aku yang terdiam, Mas Aji langsung memelukku erat. Sangat-sangat erat. Seakan seperti tak ada lagi esok untuk melakukannya.


Aku hanya menatap kosong lurus ke depan. Tak memperdulikan tangisan dan pelukan yang kian mengencang.


"Aku gak bisa, Mas. Aku gak bisa lagi hidup dengan lelaki yang tega membagi hati selain pada istrinya sendiri. Mas pasti tahu, kalau hampir setiap wanita gak rela jika cintanya harus terbagi. Aku pun begitu. Sangat-sangat gak rela kalau harus ada cinta lain di hidup kamu. Dan karena hal itu udah terjadi, lebih baik aku pergi."


Mas Aji melepaskan pelukannya. Kemudian tanganku dikecupnya berkali-kali.


"Kasih Mas kesempatan kedua. Mas janji akan mengakhiri semuanya dengan Cynthia. Mas janji, sayang."


Mas Aji terdiam sebentar, suaranya tercekat di tenggorokkan.


"Mas cuma cinta sama kamu dan anak-anak. Mas gak cinta sama Cynthia. Mas ... Mas udah jelasin kan sama kamu, kalau ... Kalau aku cuma butuh pemuas hasrat biologisku aja. Aku tertarik dengan Cynthia karena ... Sex."


Aku terpejam mendengarnya. Sakit sekali. Bagai dihantam ribuan ton batu, sesaknya sungguh luar biasa.


"Gak ada buaya yang menolak bangkai, Mas," kataku.


Mas Aji menggeleng lirih.


"Setiap pelaku kejahatan, pasti akan melakukan kejahatan lagi jika ada kesempatan. Mungkin juga dengan kamu, Mas."


Mas Aji diam membisu. Tatapannya semakin sendu. "Jadi, kamu benar-benar sudah gak percaya sama Mas? Kamu benar-benar ingin cerai dari, Mas?"


Aku menatapnya sejenak, kemudian lirih aku berkata, "Iya."

__ADS_1


__ADS_2