
Tak terasa ternyata sekarang sudah masuk akhir pekan. Hari minggu biasanya kami manfaatkan untuk berkumpul. Syukurlah kalau Mas Aji pun bisa menghabiskan waktu dengan aku dan anak-anak. Tanpa gangguan pekerjaan atau bahkan ... Wanita ****** itu.
Entahlah, setelah malam itu kami berbincang tentang komitmen, beberapa hari terakhir aku perhatikan Mas Aji lebih perhatian padaku dan anak-anak.
Apa karena dia sudah berubah? Sudah sadar? Atau kelembutannya kali ini hanya sebagai topeng? Aku masih menunggu semua jawaban itu. Biarlah waktu yang akan mengatakannya. Biarlah semua mengalir dulu.
Anak-anak sangat senang bermain dengan Mas Aji. Apalagi si kecil Nat. Sejak pagi, dia meminta digendong. Tak pernah lepas dari Ayahnya itu. Anak keduaku Aksa juga sama, sejak tadi sibuk bermanja dengan Ayahnya. Pun dengan si sulung Zayn, dia sibuk menceritakan pengalamannya saat di sekolah.
Aku tersenyum, begitulah anak-anak. Mereka sangat-sangat rindu dengan momen seperti ini.
Aku berharap semoga perhatian dan kelembutannya bukanlah kesadaran sementara. Tapi semoga seterusnya seperti itu.
"Bunda, tolong. Ayah di serang," ucap Mas Aji sedikit teriak.
Aku tertawa saat melihat ketiga anakku menyerang Ayahnya. Menaiki dan menggelitiki tubuhnya.
Tawa anak-anak pun terdengar keras. Sangat bahagia bisa berada pada momen yang sudah lama mereka rindukan.
Mereka terus bermain sambil sesekali bercanda. Juga tak lupa Mas Aji menyelipkan beberapa nasihat untuk ketiganya. Pun dengan aku.
Saat sedang asyik mereka tertawa. Ku dengar ada suara pesan masuk di handphone Mas Aji yang juga pesannya masuk ke handphoneku.
Mas Aji sejenak mengambil handphonenya guna membaca pesannya. Tak mau ketinggalan, aku pun begitu.
Seketika rasa sakitku kembali memuncak saat ku lihat pesan yang dia terima ternyata dari Cynthia, wanita simpanannya.
__ADS_1
[ Babe, bisa ke kontrakanku sekarang? ]
Aku beristigfar dalam hati. Kenapa di saat seperti ini, perempuan itu harus datang mengganggu.
Mas Aji mengetikkan balasan,
[ Tapi aku lagi sama anak-anak, Babe. Memangnya ada apa? ]
Chyntia si wanita penggoda membalas lagi.
[ Gak ada apa-apa, aku cuma kangen. Apa kamu gak kangen sama aku? Gak kangen saat aku pakai lingerie merah kesukaanmu itu? ]
Aku memejamkan mata membacanya. Sungguh menjijikkan.
[ Ah, Babe. Kamu selalu berhasil memancing pikiran liarku. Kamu berhasil membuat si kecil bangun ]
[ Maka ayolah datang kemari. Kamu bisa menikmati aku sepuasnya. Lupakan dulu anak-anak dan istrimu itu, Babe ]
[ Ya ... Sejak dulu kamu memang selalu berhasil menggodaku. Tunggulah, aku akan ke sana. Jangan lupa dandan yang cantik dan pakai lingerie warna merahnya ]
Setelah Mas Aji mengirimkan balasannya. Dia berdiri. Anak-anak sudah pasti kebingungan melihatnya.
"Ayah mau ke mana?" tanya Aksa.
"Ayah harus pergi. Ada kerjaan, Nak."
__ADS_1
Ketiga anakku langsung murung mendengarnya. Aku menghampiri Mas Aji mencoba membujuknya.
"Mas, ini kan hari minggu, kenapa harus kerja?"
"Mas juga kan gak pernah perkirakan soal ini, sayang. Barusan anak kantor WhatsApp, katanya ada kerjaan mendadak."
Bagus sekali Mas aktingmu. Bagus sekali alasanmu. Aku tidak habis pikir kenapa kamu bisa setega itu.
"Ayah jangan pergi, Kakak masih mau main sama Ayah," kata si sulung.
Mas Aji menghela napas. "Ayah harus tetap pergi ke kantor, sayang. Nanti kita main lagi, ya?"
"Tapi Mas, anak-anak masih pengin main sama kamu. Coba lihat mereka, apa Mas gak kasihan?" selaku.
Mas Aji memandangi satu persatu wajah anak-anak. Kemudian dia menghela napas. "Tapi kerjaan Mas gak bisa ditunda. Harus dikerjakan saat ini juga. Tolong kamu ngertiin itu," katanya ngotot. "Mas harus pergi."
Napasku seketika memburu. Aku kesal mendengarnya. Dengan sangat keras, aku membanting handphoneku di hadapannya dan anak-anak.
Mas Aji dan anak-anak tampak terkejut. Apalagi saat aku mulai menangis. Si kecil Nat juga ikut menangis. Ketakutan. Sampai-sampai Bi Lastri datang menemui kami dan langsung membawa anak-anak menjauh.
"PERSETAN DENGAN PEKERJAAN!! MAS JUGA HARUSNYA NGERTIIN PERASAAN ANAK-ANAK!! MAS HARUS TAHU KALAU MEREKA RINDU SAMA KAMU!! HARUSNYA KAMU PAHAM ITU!!" teriakku keras di depan wajahnya.
Mas Aji hanya menatapku lirih. Ada keraguan di matanya. Tapi nyatanya, tangisan dan kemarahanku tak juga membuatnya gentar. Dia tetap pergi menemui wanita sialan itu.
Mas Aji mengusap kepalaku. Mengucapkan kata maaf tepat pada telingaku. Setelah itu dia pergi.
__ADS_1
Aku semakin menangis tersedu. Tubuhku luruh di lantai. Sungguh aku tak kuasa, kalau begini terus lebih baik berhenti saja.