DENDAM SANG PEWARIS

DENDAM SANG PEWARIS
Siapa Dia ?


__ADS_3

Bagai di sambar petir, kaki Kenzia lemah dan Ia jatuh terkulai, sia-sia Kenzia balik lagi ke sana, ternyata Lucki sudah check Out dari Hotel itu.


“Ini ada yang salah, kenapa Resepsionis itu tidak mengatakan kalau Paman Lucki sudah Check Out ya...” guman Ken


Benar apa yang di pikirkan oleh Kenzia, dari arah Lift terlihat kalau Resepsionis itu menghampiri ya.


“Maafkan saya, ternyata saya salah menginformasikan, pak Lucki Purwanto menginap di Lantai enam kamar 157, mari saya antar,” ucap Resepsionis itu, Kenzia bernafas lega mendengarnya, berarti masih ada harapan untuknya bertemu dengan Lucki.


Kenzia mulai mengikuti Resepsionis itu dan akhirnya dia sampai juga di sana. Ia mulai mengetuk pintu itu perlahan, tak lama seorang pria dengan menggunakan singlet dan celana pendeknya membukakan pintu itu dengan kening berkerut.


“Kamu...!


Kenzia mendorong Lucki masuk ke kamar itu sambil memeluknya, dia tidak mau kalau Resepsionis itu tahu kalau Dia sudah membohonginya.


“Paman Lucki, aku kangen banget sama paman ,” ucap Kenzia sambil membisikkan sesuatu di telinga Lucki agar dia mengikuti sandiwaranya,Lucki segera membalas pelukan Kenzia.


“Sayang...kamu sudah besar ya...ayo masuk,” ucap Lucki sambil melihat ke arah Resepsionis itu.


“Kamu boleh pergi, ini ponakan saya ,” ucapnya


“Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu,” ucap Resepsionis itu lalu pergi.


Kenzia mendorong tubuh Lucki sehingga dia terpental ke lantai.


Awwww...


“Why....kenapa kamu mendorongku ?


Kenzia berjalan masuk ke dalam kamar Hotel tersebut dan duduk di Sofa, Lucki bangun dan juga mengikutinya. Kenzia membuka tasnya lalu mengeluarkan Kotak Tua peninggalan Orang tuanya.


Mata Lucki berbinar melihat Kotak Tua itu, dia tidak percaya kalau gadis yang ada di hadapannya itu adalah Putri kecil Pramana sahabatnya, Lucki segera memegang kotak itu namun di tahan oleh Kenzia.


“Jangan coba-coba menyentuhnya, sekarang Paman sudah percaya kan kalau aku Putrinya Pramana ?” tanya Ken dingin.


“Sekarang saya percaya, kotak ini hanya satu di dunia yang saya buat Khusus untuk Pramana, sebentar saya ambil kuncinya dulu, saya juga penasaran apa isi kotak itu.” Ucap Lucki

__ADS_1


Lucki membuka lemari dan mengambil tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil yang juga mirip dengan Kotak Tua milik Kenzia.


“Bawa sini Kotaknya saya Buka,” pinta Lucki.


“Jangan..!


Lucki mengerutkan keningnya karena sontak Kenzia mendekap Kotak Tua itu dengan erat di tangannya.


“Biar aku sendiri saja yang membukanya,” ucap Kenzia menatap tajam ke arah Lucki.


“Tenang saja gadis manis, saya tidak akan mengambil isinya kok ,” ucap Lucki yang tahu dengan isi pikiran Kenzia.


“Untuk saat ini aku tidak percaya sama siapa pun juga, berikan Kunci itu biar aku membukanya sendiri.”


“Huff... Baiklah, ini Kuncinya, pin nya tanggal lahir kamu,”


Kenzia mengambil kotak kecil itu lalu menekan tanggal lahirnya dengan jantung deg-degan. Perlahan Ia menekan tombol kecil yang ada di samping kotak tersebut dan kenzia merasa lega ketika melihat kotak kecil itu terbuka.


“Ternyata kamu memang putrinya Pramana, maafkan paman nak karena Paman tidak mengenali kamu,”


Tes...


Air mata Kenzia menetes ketika dia meluhat sebuah Foto yang ada di sana, Foto keluar besar mereka, perlahan Kenzia mengambilnya dan melihat satu persatu anggota keluarga itu.


Terlihat di sana ada Opa dan Omanya duduk di kursi dengan 3 orang pria di belakangnya. Eh tunggu.. kenapa Papa Kenzia ada dua ?


“Paman lucki paman kan temannya Papa, Paman tahu gak kenapa di sini ada dua orang yang mirip Papa ?” Kenzia menunjukkan Foto itu kepada Lucki, Lucki tersenyum melihatnya.


Kenzia heran melihat Lucki tersenyum, dia mengambil Foto itu lalu mengelusnya dengan lembut.


“Saya kangen dengan wajah ini,” ucapnya masih saja mengelus Salah satu wajah pria yang mirip Pramana. Kenzia menatap lekat ke arah Lucki seakan mengharap penjelasan darinya apa yang di katakannya tadi.


Lucki tahu kalau Kenzia sangat bingung dengan apa yang di lihatnya saat ini, dia mulai Menghela nafasnya panjang.


“Ceritanya panjang Sayang,” Ucap Lucki

__ADS_1


“Bisa di persingkat gak paman ?, hari ini aku tidak punya banyak waktu untuk mendengarnya, paman Lucki katakan saja siapa orang yang mirip dengan Papaku ini,” ujar Kenzia masih menatap lekat ke arah Lucki.


“Sebenarnya yang di Foto itu adalah...” Ucapan Lucki terputus karena ponsel Kenzia berbunyi.


“Sebentar paman...aku angkat telfon dulu,” kenzia melihat kalau yang menelfonnya adalah Supir taksi Online yang membawanya ke sana, dia lalu mengangkatnya .


“Iya pak, ada apa ?”


“Mbak.. kalau mbak mau kita sampai ke Jakartanya sebelum Fajar, sepertinya kita harus berangkat sekarang,”


“Oh begitu ya, Baiklah saya akan segera ke sana,” Lucki melihat ke arah Kenzia karena tadi sempat mendengarkan percakapan Kenzia di Telfon.


“Paman sepertinya aku harus pergi, walaupun rasa penasaran ini sangat memenuhi kepalaku akan tetapi aku tetap harus pergi, kalau Nanti kuta bertemu kembali aku akan menagih penjelasanmu,” ucap Kenzia sambil memasukkan Kotak Tua itu beserta kotak kuncinya ke dalam Tasnya lalu hendak pergi dari sana.


“Kenzia tunggu ..!” Kenzia kembali berbalik ke arah Lucki dengan kening berkerutnya.


“Ini ambil Kartu nama Paman, kamu bisa menemui paman di sana dan kami juga bisa hubungi Paman di Nomor itu,” ucap Lucki sambil menyerahkan kartu namanya kepada Kenzia.


“Makasih paman, baiklah saya akan simpan ini dengan baik,” Kenzia pun pergi dan Lucki yang dari tadi menahan air matanya bobol sudah pertahanannya, seketika butiran bening mengalir di Pipinya.


“Pramana, maafkan aku yang tidak bisa menyelamatkan kamu dari kekejaman Bramantyo, Aku akan menolong Putrimu agar dia mendapatkan haknya kembali dan merebut semua harta kekayaan milikmu yang telah di Rampasnya dengan kejam dari tanganmu, itu janjiku ,” ucap Lucki sambil menghapus air matanya.


Sementara Kenzia buru-buru menuju ke arah taksi Online yang masih setia menunggunya di sana, terlihat pak supir bersandar di pintu mobil tersebut.


"Maaf pak agak lama,"ucapnya


"Tidak apa-apa mbak, asal mbak pengertian saja," ucap supir taksi tersebut sambil tersenyum.


"Beres pak, asalkan Bapak bisa sampai di jakarta sebelum Fajar," pak Supir itu hanya cengengesan saja menanggapinya.


"Kalau begitu ayo kita berangkat," ucap Kenzia lalu memasuki mobil itu dan pak supir pun juga masuk ke dalam mobil.


"Pakai sabuk pengamannya mbak, kita meluncur," ucap supir itu dengan gaya lucunya sehingga Kenzia tertawa di buatnya.


Supir itu pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2