
Titan menceritakan hasil penyelidikannya dan dia mengatakan jika pemilik Warung kuliner memang benar bernama Mirna, tapi bukan janda melainkan istri dari pengusaha yang bernama Fras.
Dan Titan juga mengatakan jika mereka memiliki 3 orang putra yang sudah remaja. Hal ini membuat Riko tidak yakin jika Mirna yang di maksud adalah Mirna istrinya.
Setelah mendapatkan penjelasan dari Titan, Riko pun merasa kecewa dan dia menyesal karena telah berprasangka buruk terhadap Gisella.
Kemudian Riko kembali ke dalam untuk menemani Gisella. Walau bagaimanapun Gisella adalah istri yang telah merawatnya saat dia hilang ingatan dan telah melahirkan Bara putranya.
Sekarang Riko harus fokus dan tidak boleh egois hanya memikirkan Mirna serta Arga saja yang tidak tahu masih hidup atau sudah mati.
Riko memiliki kewajiban dan tanggung jawab lain yaitu memberi dukungan kepada Gisella serta Rendi.
Melihat Riko masuk, Gisella pun meraih tangannya dan berkata, "Pa, ayo kita temui dokter mama sudah tidak sabar ingin melihat Rendi. Rendi pasti butuh kita."
"Sabar Ma, kalau sudah boleh dijenguk, pasti dokter atau perawat akan memberitahu kita."
"Tapi ini sudah terlalu lama Pa, mama khawatir."
Riko pun memeluk Gisella dan berkata, "Tenanglah Ma, Rendi anak yang kuat, papa yakin dia pasti sembuh."
Saat Riko sedang menenangkan Gisella, perawatpun menghampiri mereka, "Keluarga Mas Rendi?"
"Eh, iya Sus. Bagaimana keadaan anak kami, apakah sudah boleh dijenguk?"
"Iya Pak, Mas Rendi sudah dipindahkan ke ruangan tapi keadaannya masih lemah, jadi tolong jangan terlalu lama berbicara dengannya."
__ADS_1
"Baiklah Sus, terimakasih. Kami akan menjenguknya."
"Bapak langsung saja ke ruangan Melati yang ada di lantai 6 kamar 601."
"Baik Sus, terimakasih atas informasinya."
"Ayo Pa, mama sudah tidak sabar ingin melihat Rendi!" ucap Gisella yang langsung berlari menuju lift.
Riko pun mengejar Gisella dan langsung masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.
Gisella sudah tidak sabar, dia mengetuk ngetuk dinding lift berharap mereka akan segera tiba di lantai 6.
Begitu pintu lift terbuka, Gisella pun berlari mencari nama dan nomor kamar di maksud.
Dan saat Gisella menemukan kamar tersebut diapun berhambur masuk, Gisella melihat Rendi terbaring dengan perban yang ada di perutnya.
Gisella langsung menghambur dan ingin memeluk Rendi. Tapi dia mengurungkan niat saat takut pelukannya malah akan membuat Rendi bertambah sakit.
"Bagaimana keadaanmu Nak!"
Rendi tidak menjawab, karena saat ini dia tidak merasakan apapun. Pengaruh obat bius yang masih tertinggal membuat Rendi tidak merasakan sakit sama sekali.
"Kamu baik-baik saja kan Nak, apakah tidak sakit?"
"Saat ini tidak sakit Ma, tapi entah nanti jika pengaruh obat biusnya hilang."
__ADS_1
"Hai Nak, kamu tetap semangat ya. Semua akan kembali normal kok. Dokter pasti telah melakukan yang terbaik untuk kesembuhan kamu," ucap Riko.
"Terimakasih Pa, oh ya Bara mana Ma?"
Gisella memandang Riko, dia ingin Riko yang menjelaskan tentang sikap Bara belakangan ini.
Namun Riko nggak mau menambah beban pikiran Rendi dan dia terpaksa berbohong.
"Bara sedang mengerjakan tugas kelompok di rumah temannya. Nanti dia pasti bakal kesini. Bara pasti senang melihat operasi ini berhasil."
"Kamu sekarang istirahat saja ya Nak, nggak usah pikir apapun. Mengenai adikmu, tenang saja, dia pasti datang."
Rendi pun memejamkan mata, dia memang merasa lelah dan mengantuk.
"Ma, kamu jaga Rendi ya, Papa pulang dulu untuk mencari Bara."
"Iya Pa, hati-hati ya. Papa harus cepat kembali lagi kesini!"
"Baiklah, papa akan usahakan secepat mungkin kesini dengan Bara."
Riko pun bergegas pulang, tapi sebelumnya dia akan mencari Bara, di tempat biasanya nongkrong bersama teman-temannya.
Sementara Bara sempoyongan menuju warung kuliner Mirna, dia ingin membuat acara tersebut berantakan.
Bara masih kesal serta marah kepada Arga dan Cinta, jadi kesempatan ini akan dia pergunakan untuk mempermalukan keduanya.
__ADS_1
Bersambung....