DENDAM SANG PEWARIS

DENDAM SANG PEWARIS
BAB 55. PENGAKUAN PENYUSUP


__ADS_3

Gisella menangis, meski dia selalu berdebat dengan Bara tapi tetap saja Bara adalah putranya dan dia tidak ingin melihat Bara hancur.


Dengan terburu-buru Gisella kembali ke kamar Rendi untuk memberitahukan kabar tersebut. Lalu diapun bergegas ke rumah sakit untuk menemani Bara, sedangkan Rendi untuk sementara ditemani oleh pembantu.


Riko sangat bersyukur Bara selamat, sementara kedua temannya meninggal akibat over dosis. Tapi Riko belum berani memberitahu, dia takut jika Bara syock mendengar berita tersebut.


Gisella pun tiba dan dia langsung menghambur memeluk Bara, sedangkan Bara yang baru tersadar mengerjap bingung.


"Mama! kenapa Mama menangis? dimana ini Ma?"


"Kamu buat Mama khawatir saja, kamu saat ini di rumah sakit. Kakakmu baru pulang dan sekarang malah kamu yang di sini."


"Memangnya Bara kenapa Ma, Bara sehatkan?"


Riko pun mendekat, lalu berkata, "Istirahat saja Nak, biar kamu cepat pulih."


Bara yang masih dalam pengaruh obat dokter pun mengantuk dan tidur kembali.


Melihat hal itu, Riko menarik lengan Gisella dan membawanya keluar ruangan. Dia ingin membicarakan tentang Bara.


"Ada apa Pa!"


"Kedua teman Bara meninggal jadi untuk saat ini jangan beritahu Bara dulu, kita harus membawa Bara ke panti rehabilitasi sebelum kecanduannya semakin Parah."


"Bara butuh perhatian khusus dari kamu, dia merasa kamu lebih menyayangi Rendi. Jadi aku mohon mulai sekarang rubahlah kebiasaanmu yang selalu menyalahkan dan membandingkan mereka. Itu jika kamu tidak mau melihat dia semakin hancur."


"Dia harus bisa melupakan Cinta, karena perasaan seseorang tidak bisa kita paksakan. Jadi untuk mengobati rasa kecewanya, berilah dia dukungan."


Untuk poin yang kedua Gisella tidak terima, dia merasa Riko berpihak kepada anak kandungnya. Tapi Gisella berpura-pura menurut saja. Padahal dia juga akan memberi pelajaran kepada Cinta yang telah membuat Bara terpuruk.


"Kenapa kamu diam Ma, kamu masih menyalahkan Cinta?"


"Aku kesal saja terhadap gadis itu, seenak hatinya saja memutuskan Bara, padahal kita sudah sepakat kan untuk mengadakan acara pertunangan mereka."


"Bukan kita, tapi Mama. Papa kan sudah bilang sejak awal, jangan paksakan kehendak, karena Papa tahu, gadis itu tidak mau dipaksa. Andai Bara menuruti omongan Papa mungkin Cinta saat ini masih menjadi pacarnya. Karena papa tahu anak itu baik dan penurut, cuma dia tidak mau dipaksa."


"Sudahlah, Mama tidak ingin membahas gadis itu lagi! Bikin bete saja!" ucap Gisella sembari meninggalkan Riko dan duduk di sofa.

__ADS_1


Riko menggeleng, susah untuk merubah watak Gisella yang sejak dulu selalu keras kepala.


Di rumah kediaman Fras, Mirna sedang membuatkan kopi untuk suaminya, saat dia mendengar suara mencurigakan, seperti ada orang yang hendak membuka paksa.


Mirna yang terbiasa waspada lalu meninggalkan kopi dan kembali ke kamar dengan mengendap-endap.


Sesampainya di kamar, Fras merasa heran kenapa istrinya tidak membawa kopi yang dia minta.


Sebelum Fras membuka suara, Mirna telah memberi kode dengan telunjuk yang dia tempelkan di mulut.


Fras buru-buru menghampiri, lalu bertanya kenapa istrinya bersikap aneh. Mirna pun menjelaskan tentang apa yang dia dengar dan menimbulkan kecurigaannya.


"Mama di sini saja dan kunci pintunya, siapapun yang datang dan apapun yang terjadi jangan dibuka sampai aku kembali."


"Tapi Pa..."


"Mama jangan khawatir, aku sudah kirim pesan ke Arga dan pembantu yang lain siaga jika memang ada penyusup masuk. Ingat ya Ma, tetap di kamar!"


Mirna pun mengangguk, lalu Fras keluar dengan mengendap dan dia pastikan jika kamarnya sudah di kunci oleh Mirna.


Karena memang di rumah Fras banyak kamar, baik di lantai bawah maupun di lantai atas.


Arga dan pembantu laki-laki lain juga sudah siaga dengan alat-alat perlawanan seadanya.


Sementara Fras yang memang memiliki izin dalam pemakaian senjata, sudah bersiap dengan senjata di tangannya.


Fras yang paham dengan lika liku rumahnya bersembunyi di kegelapan untuk mengintai keadaan. Dan benar saja dia melihat dua orang tersebut berpencar.


Satu orang naik ke atas dan satu lagi menyusuri bagian bawah. Fras langsung mengirim pesan ke Arga yang berada di lantai atas untuk berhati-hati dan dia meminta pembantu laki-laki untuk membantu Arga menghadapi penyusup yang terlihat membawa senjata tajam.


Sementara dirinya akan membereskan penyusup yang saat ini mengendap ke arahnya.


Fras tidak akan memberi ampun kepada siapapun yang berani mengganggu ketenangan keluarganya.


Kedua penyusup itu tidak tahu jika mereka sudah menjadi intaian pemilik rumah. Fras melepaskan tembakan, hingga penyusup yang ada di depannya tidak bisa mengelak dan peluru itu berhasil menembus kakinya.


Fras sengaja hanya menembak bagian kaki, karena dia tidak ingin membunuh mereka. Fras ingin tahu siapa dan apa maksud si penyusup tersebut memasuki rumahnya. Lagipula saat ini Mirna sedang hamil dan dia harus berhati-hati dalam setiap tindakannya.

__ADS_1


Sementara penyusup yang sudah naik ke lantai atas merasa terkejut mendengar suara tembakan tersebut dan saat dia berbalik dan hendak turun, Arga beserta yang lain secara bersamaan memukulnya.


Mereka tidak memberi ampun sebelum orang tersebut melepaskan pisau dari tangannya.


Arga dengan kemampuan ilmu beladirinya berhasil menendang perut pria tersebut hingga tubuhnya terdorong mengenai tembok dan pisau terpental dari tangannya.


Salah seorang pembantu mengambil pisau tersebut dan yang lain membantu Arga menghajar orang itu. Perlawanan sengit terjadi karena penyusup juga memiliki ilmu beladiri.


Arga sempat terjengkang karena tendangan yang mengenai kakinya. Tapi dia bangun lagi saat melihat para pembantu juga terkapar. Dengan sisa-sisa tenaganya dia berhasil melumpuhkan orang tersebut.


Para pembantu mencari tali untuk mengikat tangan serta kaki penyusup itu.


Sementara Fras dengan mudah berhasil membekuk penyusup yang sudah terluka. Karena kemampuan bela diri Fras pun tidak bisa dianggap remeh.


Mirna gemetar di kamar, dia terduduk lemas dilantai saat tadi mendengar suara tembakan. Mirna menangis karena mengkhawatirkan anak dan juga suaminya.


Tapi sesuai janjinya kepada Fras dia tidak berani keluar sebelum Fras sendiri yang datang ke kamar.


Setelah kedua penyusup di bekuk dan mengikatnya, Fras dan Arga membuka penutup wajah mereka, tapi Fras tidak mengenali orang-orang tersebut.


Fras menyerahkan kepada Arga untuk membuka mulut mereka agar mengaku, sementara dia akan ke kamar dulu untuk menemui Mirna.


Saat mendengar suara Fras mengetuk pintu, Mirna pun bangkit sambil mengelap air matanya, dan Mirna langsung memeluk Fras sembari menanyakan keadaan Arga dan yang lain.


Mirna akhirnya merasa tenang karena tidak ada korban dan Fras memintanya untuk tetap di kamar saja, sampai polisi tiba.


Arga belum berhasil mengorek keterangan hingga membuatnya merasa kesal. Lalu dia meminta salah seorang pembantu untuk menyulutkan puntung rokok.


Fras juga ikut memaksa mereka, tapi belum juga berhasil. Polisi pun tiba dan kini menjadi tugas abdi negara itu untuk mengorek keterangan dari mulut keduanya.


Akhirnya keluarlah pengakuan jika mereka diperintahkan oleh Gisella untuk menyingkirkan Mirna dan Arga.


Mendengar pengakuan itu Fras sangat geram, beberapa kali tamparan dan pukulan pun mendarat ke wajah keduanya hingga bonyok.


Seorang pembantu yang mengabadikan momen tersebut memberikan rekaman itu kepada Fras, lalu Fras pun mengirimkan video itu kepada Riko setelah polisi membawa pergi kedua penyusup tersebut.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2