DENDAM SANG PEWARIS

DENDAM SANG PEWARIS
BAB 37. KEKECEWAAN ARGA


__ADS_3

Ketiga sahabat itupun pergi meninggalkan rumah sakit di mana Rendi terbaring sambil mengerang kesakitan.


Riko yang mendengar erangan tersebut langsung berlari masuk.


"Ren, kamu kenapa? sebentar ya, Papa akan panggil dokter!' seru Riko yang panik melihat Rendi mengerang sambil memegangi perutnya.


Dokter pun datang dan kali ini dengan membawa hasil pemeriksaan.


Dokter memberikan suntikan pereda rasa nyeri, hingga perlahan Rendi pun kembali tenang.


Riko mendekati sang dokter, lalu bertanya"Bagaimana keadaan putra saya Dok?"


"Ayo ikut saya Pak, saya akan jelaskan di ruangan."


Riko pun berjalan mengikuti dokter, dia merasa cemas dan curiga, pasti ada hal serius tentang Rendi yang ingin dokter sampaikan.


"Silakan duduk Pak!"


"Terimakasih Dok, sebenarnya apa yang dialami putra saya hingga dia begitu merasa kesakitan?"


"Ternyata putra Anda terserang penyakit kanker usus dan sebagian ususnya kini sudah membusuk."


Riko kaget, lalu dia kembali berkata, "Dok, tolong selamatkan putra ku, berapapun biayanya, aku akan bayar."


"Bukan masalah uang Pak, kenapa sudah parah, baru di bawa kesini?"


"Dia selama ini tidak pernah mengeluh Dok, makanya saya kaget saat dokter bilang penyakitnya sudah parah."


"Kita harus segera melakukan operasi untuk membuang usus yang busuk agar tidak semakin menjalar. Berdoalah Pak, kami akan mengusahakan yang terbaik. Masalah hasil kita serahkan kepada yang memberi hidup."


"Iya Dok, terimakasih. Kapan operasinya akan dilaksanakan Dok?"


"Secepatnya Pak, mungkin dalam 2 atau 3 hari ke depan."


"Baik Dok, tolong lakukanlah yang terbaik untuk kesembuhan Rendi. Kalau begitu saya permisi Dok, saya akan bicarakan masalah ini dengan istri."


"Silakan Pak!"


Dengan langkah gontai, Riko meninggalkan ruangan dokter. Dia memikirkan Gisella yang pastinya syock mendengar kabar tersebut.


Sesampainya di ruangan Rendi, Riko melihat Gisella sedang memandangi Rendi yang terbaring tak berdaya. Tampak jelas, jika Gisella sangat mengkhawatirkan putra sulungnya itu.

__ADS_1


"Lho, cepat sekali kamu kembali Ma? Kenapa tidak istirahat dulu di rumah?"


"Nggak Pa, perasaanku tidak enak, jadi aku kembali kesini dengan naik taksi."


"Kenapa bukan Bara yang mengantarkan Mama?"


"Anak itu tidak peduli, tapi sudahlah, memang cuma Rendi yang aku bisa banggakan sejak dulu."


Riko hanya mendesah, dia tahu kasih sayang Gisella terhadap keduanya sangat berbeda. Makanya Bara seringkali merasa iri dengan Rendi.


"Oh ya Ma, Rendi akan di operasi. Ususnya ada yang membusuk dan harus segera di buang sebelum menjalar."


"Apa Pa! separah itukah sakitnya?"


Riko pun mengangguk, "Kanker Usus."


Gisella hampir saja terjatuh mendengar Riko mengatakan hal itu, diapun menangis lalu menghambur ke pelukan Riko.


"Kenapa Tuhan begitu kejam Pa? Kenapa harus Riko yang sakit seperti itu? hiks...hiks...hiks."


"Sabarlah, kita harus kuat. Kita harus memberi dukungan kepada Rendi agar tetap semangat. Mama jangan menangis lagi, nanti Rendi melihat, dia bisa down."


Gisella menghapus air matanya, lalu berkata, "Aku akan melakukan apapun untuk kesembuhan Rendi, meski harus membawanya berobat keluar negeri."


Akhirnya Gisella pun menuruti permintaan Riko. Dia berusaha untuk tidur meski hanya sejenak.


Arga dan teman-temannya masih berada di rumah sakit. Mereka yang melihat Gisella datang mengurungkan niat untuk pulang. Ternyata mereka mengintip dan mencuri dengar pembicaraan antara Riko dengan Gisella.


Tangan Arga mengepal, dia kecewa terhadap sang Papa. Papanya bisa bersikap semanis itu terhadap wanita yang paling Arga benci.


Dirta yang melihat hal itu langsung menarik Arga dan mengajaknya pergi dari sana.


"Sabar Ga, aku tahu perasaan mu. Tuhan telah menghukum Rendi dan pastinya saat ini wanita itupun tersiksa melihat putranya terbaring tidak berdaya."


"Pokoknya aku harus membalas mereka Dir, demi mama. Aku benci mereka, benci Gisella yang telah menyakiti mama dan mengambil Papa dari kami."


"Iya aku tahu. Kamu harus sabar. Sekarang kita pulang, nanti Papa mama khawatir dan mencari kita."


"Iya Ga, kamu lihat kan, Rendi sudah terima hukumannya. Sekarang kamu fokus balas mereka lagi lewat Bara," ucap Artha.


"Kamu benar Tha. Aku akan secepatnya mengutarakan perasaan ku terhadap Cinta. Aku berharap, Cinta akan menerima dan segera memutuskan Bara. Kita pancing kemarahan Bara, biar mamanya makin stres."

__ADS_1


"Aku setuju. Semangat Ga!"


"Tapi ingat, rencana kita jangan sampai ketahuan mama. Aku tidak mau mama sedih dan teringat papaku lagi. Biarlah mama tetap menganggap jika papaku sudah mati. Aku ingin mama terus bahagia, hidup bersama Papa Fras."


"Oke sobat. Kami janji akan merahasiakan hal ini. Kalau begitu, ayo kita pulang!" ajak Dirta.


Kemudian ketiganya pun bergegas meninggalkan rumah sakit dan pulang ke rumah.


Mirna yang menunggu kepulangan anak-anaknya pun merasa khawatir. Lalu dia meminta Fras untuk menghubungi salah satunya.


Ponsel Arga berdering dan dia melihat nomor kontak sang Papa yang sedang melakukan panggilan.


Arga buru-buru menerima panggilan tersebut dan dia mengatakan jika mereka sedang dalam perjalanan pulang.


Mirna pun merasa lega, lalu dia pergi ke dapur membantu simbok untuk menyiapkan makan malam.


Setibanya di rumah, Arga, Dirta dan Artha sudah sepakat dan menyiapkan jawaban, bahwa mereka telat pulang karena singgah di rumah teman Arga.


Fras yang melihat ketiganya sampai, meminta mereka untuk duduk, ada yang ingin dia tanyakan.


"Kalian dari mana saja? kami sejak tadi menunggu kepulangan kalian. Papa mohon, jangan seringkali membuat Mama khawatir, soalnya saat ini perasaan mama sedang sensitif, barangkali karena pengaruh kehamilannya."


"Maaf Pa. Kami keasyikan ngobrol di rumah teman, jadi lupa waktu," bohong Arga.


"Ya sudah, pergi dan bersihkan diri kalian, setelah itu baru temui mama."


"Baik Pa, kami ke kamar dulu," pamit ketiganya.


Di dalam kamar, Arga menyempatkan diri menelepon Cinta dan diapun meminta Cinta untuk menemuinya besok di cafe dekat kampus.


Arga tidak ingin berlama-lama lagi, dia berencana ingin segera mengutarakan perasaannya.


Setelah menutup panggilannya, Arga pun bermonolog, "Maaf Cin, aku terpaksa menggunakan mu untuk mencapai tujuanku. Suatu saat nanti aku akan menjelaskan semuanya," monolog Arga.


Dirta menepuk bahu Arga hingga membuatnya terkejut, "Sudah mandi dulu, nanti keburu mama datang kesini."


"Eh iya Dir, kalian turun dulu dan bantu Mama untuk menyiapkan makanan. Katakan saja jika aku sedang menyiapkan tugas kuliahku. Nanti aku akan menyusul kalian."


Keduanya pun mengangguk, lalu pergi menemui mama Mirna, sedangkan Arga bergegas mandi.


Selesai dengan ritualnya, Argapun menyusul kedua sahabatnya untuk menemui sang Mama.

__ADS_1


Mirna merasa lega, melihat ketiga putranya sudah pulang. Lalu diapun mengajak mereka untuk makan malam bersama.


Bersambung.....


__ADS_2