DENDAM SANG PEWARIS

DENDAM SANG PEWARIS
BAB 39. PANIK


__ADS_3

"Kamu mau pesan apa Cin?" tanya Arga yang melihat Cinta terdiam setelah kepergian Bara.


"Eh, apa Ga?"


"Kamu mau makan apa?"


"Samakan saja dengan pesanan mu, Ga. Aku lagi nggak selera gara-gara Bara."


"Oke, sebentar ya."


Arga pun memanggil pelayan, lalu memesan makanan untuknya dan Cinta.


Sambil menunggu pesanan tiba, Arga pun menanyakan tentang hubungan Cinta dengan Bara. Dia ingin memastikan, apakah Cinta memang benar serius putus dengan Bara atau hanya karena marah hingga dia menghindar.


Cinta pun menjelaskan, bahwa dia tidak mau melanjutkan hubungannya lagi. Cinta tidak ingin terus tertekan dengan sikap Bara yang arogan dan suka memaksa. Cinta sudah memutuskan dan dia tidak akan menarik kembali keputusannya itu meski sang papa memaksa.


Mendengar hal itu, Arga pun lega, jadi dia memiliki kesempatan untuk mengutarakan perasaannya.


Sambil memegang tangan Cinta, Arga pun berkata, "Maaf ya Cin, mungkin terkesan dadakan, tapi aku tidak ingin terlambat dan kalah dari orang lain. Aku sebenarnya menyukai mu dan jika kamu bersedia, aku ingin menjadi kekasihmu," ucap Arga tanpa basa-basi.


Cinta membalas genggaman tangan Arga lalu tersenyum, dia tidak menyangka jika secepat ini perasaannya akan bersambut.


Arga yang melihat senyum Cinta pun merasa lega dan dia yakin Cinta tidak akan menolaknya.


"Bagaimana Cin, apakah kamu mau menjadi kekasihku?"


Cinta hanya menjawab dengan anggukan dan makin mengeratkan genggamannya.


"Terimakasih Cin, maaf... jika aku tidak bisa seromantis seperti pemuda kebanyakan."


"Nggak apa-apa, begini saja aku sudah bahagia. Terimakasih ya Ga, sebenarnya kamulah kekuatan ku, hingga aku berani lepas dari Bara. Aku juga mencintaimu Ga. Kebersamaan kita selama ini telah membuatku sadar, jika Cinta ku bukan untuk Bara."


"Alhamdulillah," ucap syukur Arga.


Mereka pun melepaskan pegangan tangan saat pelayan datang mengantar makanan.


Kemudian Arga mengajak Cinta untuk menikmati hidangan karena setelah itu mereka akan pergi ke Warung kuliner sang Mama.


Di warung kuliner Mirna, persiapan pun sudah di lakukan, Artha dan Dirta sudah menyebar sebagian brosur promosi dan memasang spanduk di tempat strategis agar terlihat oleh banyak orang.

__ADS_1


Arga dan Cinta yang sudah selesai makan pun beranjak pergi meninggalkan cafe. Mereka akan membantu persiapan untuk pembukaan besok.


Cinta juga sudah menyebarkan pembukaan warung kuliner tersebut melalui akun medsosnya.


Koki beserta asistennya sudah mempersiapkan bahan-bahan masakan yang akan mereka masak besok pagi.


Acara pembukaan akan di mulai selepas Dzuhur sekaligus pemberian santunan kepada anak yatim-piatu dan para fakir miskin.


Selain pembukaan warung kuliner, acara itu juga sebagai selamatan atas kehamilan Mirna dan juga kembalinya perusahaan ke tangan Fras.


Ketiga adik Fras bersama suaminya juga sudah berangkat dan malam ini mereka tiba di tanah air. Mereka sengaja tidak memberitahu karena ingin memberikan kejutan untuk sang Kakak.


Malam ini Arga, Artha dan juga Dirta menginap di warung sementara Fras beserta Mirna memutuskan untuk pulang.


Setelah warung kuliner beroperasi, Fras dan Mirna akan pindah ke sana, karena Fras tidak ingin Mirna kelelahan yang bisa berakibat fatal terhadap kandungannya.


Sementara rumah akan mereka kontrakkan dan para pelayan akan mereka tarik untuk membantu di warung Kuliner.


Gisella yang merasa jenuh iseng membuka akun medsosnya. Dan dia terkejut saat melihat teman-teman sosialitanya ramai membicarakan tentang pembukaan warung Kuliner yang namanya membuat matanya membulat.


"Mirna! Ini tidak boleh dibiarkan, Papa tidak boleh melihat ini, semua bisa berantakan."


Jika benar pemilik warung kuliner itu adalah Mirna, Gisella akan mengacaukan acara tersebut.


Gisella bangkit dan dia keluar untuk mencari Riko, sebisa mungkin dia akan membuat Riko tidak meninggalkan rumah sakit sampai anak buahnya memberikan laporan.


Riko ternyata tidak ada di luar dan hal itu makin membuat Gisella merasa cemas.


Gisella menelepon Riko, tapi tidak diangkat, dia makin kesal saat mendengar deringan ponsel Riko ternyata ada di dalam ruang rawat. Riko lupa membawa ponselnya.


Kemudian Gisella kembali mencoba menghubungi Bara dan kali ini tersambung.


"Kamu kemana saja Bar? Mama sejak tadi telepon tapi ponselmu tidak aktif. Kamu jangan enak-enakan di rumah, cepat kesini ada yang harus kamu kerjakan!"


Bara masih bermalas-malasan di atas tempat tidurnya, karena kepalanya masih pusing akibat pengaruh miras yang tadi dia minum karena stres.


"Bar, kamu dengar Mama? Cepat, sekarang juga datang kemari. Kamu harus mencari papa."


"Memangnya kenapa dengan Papa, Ma. Bukankah papa di rumah sakit bersama mama?"

__ADS_1


"Papa tadi pamit keluar, tapi mama cari tidak ada, sementara ponselnya tertinggal di ruang rawat kakak kamu."


"Kenapa mama musti panik, toh Papa nanti bakal kembali," ucap Bara.


"Cepatlah, jangan membantah! Nanti Mama jelaskan di sini. Kamu tidak mau kehilangan Papa bukan?"


"Mama aneh, masa iya, papa setua itu bisa hilang. Baiklah aku kesana, tapi mama jangan panik. Semua akan baik-baik saja."


Setelah mengatakan hal itu, Bara pun mematikan panggilan, lalu dia bersiap untuk kerumah sakit sesuai perintah sang Mama.


Gisella mondar mandir di ruangan, dia panik kenapa Mirna harus hadir di saat situasi keluarganya sedang banyak masalah.


Riko yang merasa jenuh, ternyata berkeliling rumah sakit untuk melihat-lihat sambil ngobrol dengan para pengunjung lain.


Saat melihat arloji, Riko baru sadar jika dia sudah terlalu lama meninggalkan Gisella sendirian menjaga Rendi.


Akhirnya Riko pun memutuskan untuk kembali ke ruang rawat, dia ingin menelepon sekretarisnya untuk menanyakan tentang janji dengan koleganya besok.


Saat pintu terbuka dan melihat Riko tiba, Gisella pun merasa lega. Lalu, dia menghampiri dan bertanya, "Darimana saja sih Mas? Aku cari-cari kamu di luar tidak ada. Malah, ponsel kamu tertinggal di sini."


"Aku cuma ngobrol dengan keluarga para pasien. Memangnya kenapa kamu mencariku?"


"Aku khawatir Mas, masa istri tidak boleh mengkhawatirkan suami."


"Oh, aku kira ada masalah dengan Rendi."


"Keadaan Rendi masih sama, entahlah...kenapa hal ini harus menimpanya. Kenapa tidak orang lain saja."


Riko menghela nafas lalu mendekati Rendi yang sedang terbaring tidak berdaya.


Rendi baru saja bangun, lalu saat dia melihat Riko, Rendi pun berkata, "Tolong Pa, tolong aku."


"Iya Ren, kamu yang sabar ya, dokter sedang berusaha. Kami juga selalu mendoakan mu agar segera sembuh."


"Sakit Pa, sangat sakit!"


Riko tidak bisa berkata-kata, dia merasa kondisi Rendi makin parah. Sementara operasi baru akan dilakukan besok sore.


Gisella yang mendengar hal itu memalingkan wajah. Dia menangis karena tidak tega melihat putranya merasakan kesakitan.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2