
"Berhentilah menangis Sayang, sekarang kalian memiliki aku. Aku akan membahagiakan kamu dan anak-anak kita. Lupakanlah Riko, dia hanya masa lalu, dan masa depanmu sekarang ada bersama ku."
Mirna mengangguk, dia berjanji akan melupakan semua masa lalunya termasuk Riko dan hanya akan memikirkan kebahagiaannya bersama Fras dan juga anak-anaknya.
"Mas, sebaiknya hal ini tidak usah kita beritahu ke Arga, aku takut dia sedih jika sampai tahu papanya masih hidup dan tinggal bersama Gisella, tanpa mencari kami."
"Iya Sayang. Aku juga tidak ingin melihat Arga sedih. Biarlah hal ini menjadi rahasia kita saja."
"Sekarang ayo kita istirahat, tapi sebelum itu aku akan buatkan kamu susu dulu. Tunggu ya, aku tidak akan lama," ucap Fras.
Fras pun pergi ke dapur, dia selalu membuatkan susu Mirna sebelum istrinya itu berangkat tidur.
Bara menjaga Riko, dia tidak mau menghubungi mamanya lagi meski Riko memintanya.
Gisella berulang kali menelepon Riko, tapi ponsel Riko sedang tidak aktif. Padahal dia sangat berharap obat untuk Rendy segera tiba.
Dokter berulang kali menanyakan hal itu, tapi Gisel tidak bisa berbuat apapun selain menunggu.
Ternyata ponsel Riko saat ini sedang kehabisan baterai makanya tidak bisa di hubungi.
Riko menemui dokter, dia tidak mau rawat inap karena dia masih harus mengurus Rendi di rumah sakit lain.
Akhirnya dokterpun mengizinkan Riko untuk pulang, karena memang luka-lukanya tidak parah.
Riko pulang bersama Bara, sebelum ke rumah sakit, Riko sebelumnya membeli obat yang di butuhkan oleh Rendi.
Setelah mendapatkan obatnya Rikopun kembali menemui Gisella.
Dan Gisella yang melihat Riko tiba bersama Bara, awalnya mau marah, tapi saat melihat balutan perban di pelipis Riko, Gisella pun menghambur ke pelukan Riko.
"Papa kenapa? Tidak ada luka serius 'kan Pa?"
"Sudahlah tenang, aku tidak apa-apa. Tolong berikan obat ini ke dokter, barangkali masih dibutuhkan. Maaf aku telat, karena terjadi kecelakaan."
Gisella pun menyerahkan obat yang Riko bawa kepada dokter, lalu diapun kembali untuk menanyakan apa sebenarnya yang telah Riko alami.
Riko menjelaskan semuanya dan mengatakan jika yang menolongnya adalah Fras beserta istri yang merupakan keponakan Gisella.
"Fras dan Istrinya?"
"Iya, kamu sih dihubungi Fras tapi tidak diangkat, untung aku tidak luka parah."
__ADS_1
"Papa bertemu istrinya?"
"Sayangnya tidak, karena istrinya lagi ngidam jadi hanya menunggu di luar."
Gisella menarik nafas lega, dia takut jika benar istri Fras adalah Mirna bisa hancur semua yang sudah di skenariokannya selama ini.
Karena musibah terus datang beruntun, Gisella jadi lalai untuk menyelidiki keberadaan Mirna dan Arga.
Untuk saat ini yang harus dia pikirkan adalah bagaimana caranya untuk membebaskan Rendi.
Karena lelah, akhirnya Gisella tertidur di bangku tunggu dan kini giliran Riko yang menjaga Rendi.
Arga yang mendengar bahwa Rendi di rawat, segera mengajak teman-temannya untuk pura-pura menjenguk. Padahal dia ingin memberi Rendi pelajaran.
Riko akhirnya meminta Bara untuk mengajak Gisella pulang agar bisa beristirahat dan mengganti pakaiannya. Dan Riko meminta Bara untuk datang lagi membawakan baju ganti untuknya dan Rendi.
Awalnya Giselle menolak tapi Riko berhasil meyakinkan jika Rendi akan baik-baik saja dalam penjagaannya.
Setelah Gisella dan Bara pulang, Riko pun menjaga Rendi sembari keluar ruangan untuk merokok.
Riko menjadi perokok berat, sejak kecelakaan dulu. Dia selalu merokok apabila sedang stres.
Arga, Dirta dan Artha, sudah tiba di rumah sakit. Mereka pun menanyakan kepada bagian pelayanan, di mana letak ruangan rawat Rendi.
Melihat Arga berhenti Dirta dan Artha pun heran. Lalu Dirta bertanya, "Kenapa?"
Arga menunjuk ke arah Riko yang sedang menatap kejauhan sembari merokok.
"Dia...?" tanya Dirta yang tidak menyelesaikan pertanyaannya karena keburu Arga mengangguk.
"Ya, pria itu adalah Papa kandungku. Kalian bisa lihat 'kan, dia lebih menyayangi mereka ketimbang mencariku yang jelas anak kandungnya."
"Mereka hidup senang di atas penderitaan ku dan mama. Aku benci mereka! Aku benci Riko, Rendi, Gisella dan Bara!" ucap Arga sembari tangannya mengepal.
"Orang itu sangat mirip denganmu Ga, kalian sama-sama tampan."
"Hemm, tapi aku tidak mau seperti dia. Pria tidak bertanggungjawab!"
"Gini saja Ga, aku dan Artha akan coba ngobrol dengan Papamu untuk mengalihkan perhatiannya, dan sebisa mungkin kamu menyelinap masuk. Tapi hati-hati ya! Ayo semangat!" ucap Dirta.
Kemudian Dirta dan Artha menghampiri Riko,
__ADS_1
"Selamat sore Om?"
"Eh, sore. Kalian siapa ya?"
"Kami keluarga pasien yang ada di kamar ujung sana, kebetulan jenuh makanya kami jalan-jalan. Om kenapa sendirian, memangnya siapa yang sakit Om?"
"Anak saya, istri dan anak saya satunya lagi sedang pulang. Jadi kami gantian menjaganya."
Artha dan Dirta terus mengajak Riko ngobrol, mereka juga berhasil mengorek tentang cerita masa lalu Riko, sedangkan Arga sudah berhasil menyelinap masuk.
Arga melihat Rendi terbaring dengan luka-luka di wajah yang mulai mengering. Tapi wajahnya masih lebam dan hampir tidak di kenali.
"Hah, baru tahu rasa kamu Ren, dulu kau dan ibumu selalu menyiksaku. Saat ini, meski bukan aku yang membalas, tapi aku puas melihatmu terbaring tak berdaya di sini."
"Apalagi kasusmu juga berat, meskipun kamu sembuh, kau akan kembali ke dalam neraka kurungan, yang setiap saat bisa saja membuatmu seperti ini lagi."
"Aku bisa saja melenyapkan mu sekarang, tapi aku bukan pengecut, melawan orang yang tidak sadarkan diri!" monolog Arga.
Saat Arga ingin menyentuh wajah Rendi, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, Arga pun langsung bersembunyi di balik tirai yang lumayan panjang.
Ternyata yang datang adalah dokter beserta dua orang suster. Mereka membicarakan penyakit lain yang di derita oleh Rendi. Dan kemungkinan penyakit itu adalah kanker usus.
Tim dokter sedang melakukan pemeriksaan akurat dan setelah hasilnya keluar, barulah mereka akan menyampaikan kepada pihak keluarga untuk tindakan selanjutnya.
Arga tersenyum, satu tugasnya selesai tanpa dia harus mengotori tangannya. Rendi telah mendapatkan hukumannya dengan cara yang Tuhan mau.
Setelah dokter dan perawat pergi, Arga pun langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan dia kembali mendekati Rendi.
"Kasihan sekali nasibmu Ren, harusnya kamu bertobat sebelum perjuangan mu melawan kanker di mulai," monolog Arga.
Arga memegang rahang Rendi dan memperhatikan wajahnya. Lalu Arga melihat Rendi sadar dan mengerjapkan mata.
Rendi kaget saat matanya terbuka dia melihat sosok anak yang di bencinya.
Arga menyeringai dan berkata, "Masih mengingatku?"
Rendi hendak bangkit tapi dia tak berdaya, rasa sakit pada perutnya sangat luar biasa, hingga Rendi mengerang sambil memegangi perutnya.
Arga melepaskan cengkeraman pada rahang Rendi, lalu dia berkata, "Nikmatilah karmamu! ingat apa yang telah kau lakukan padaku dan mama puluhan tahun lalu? Kau telah merampas semua yang menjadi hak kami. Kini yang kau rampas itu akan menggerogoti mu hingga kamu mati!"
Setelah mengatakan hal itu, Arga pun menyelinap keluar, lalu dia memberi kode ke arah Dirta yang kebetulan melihatnya keluar dari ruangan Rendi.
__ADS_1
Bersambung....