DENDAM SANG PEWARIS

DENDAM SANG PEWARIS
BAB 41. SENJATA MAKAN TUAN


__ADS_3

Arga sangat geram mendengar pengakuan keduanya. Lagi-lagi Gisella membuat ulah, mengganggu kehidupan Arga serta mamanya.


Ternyata saat kedua pengawal tadi mengaku, Dirta telah merekamnya, jadi Arga memiliki senjata untuk menyerang balik Gisella.


"Tunggu pembalasanku Gisella, kau berani mengusik mamaku lagi, dan aku akan menghancurkan keluargamu," monolog Arga sembari mengepalkan kedua tangannya.


"Pak, kita kurung saja keduanya di kamar belakang. Bukankah di sana tidak ada celah untuk mereka melarikan diri," ucap Artha kepada pengawal Fras.


"Ya, kamu benar. Bagaimana Den Arga?"


"Aku setuju Pak, besok papa yang akan menentukan hukuman buat mereka."


"Apakah Tuan perlu kita beritahu sekarang Den?"


"Tidak usah Pak, besok saja. Kasihan juga jika Papa harus putar balik kesini. Biarkan Papa dan mama malam ini beristirahat, karena pekerjaan besok, pasti akan lebih melelahkan."


"Baiklah saya akan mengurung mereka dulu, setelah itu baru membantu Aden dan yang lain membereskan kembali tempat ini."


Setelah mengatakan hal itu, pengawal Fras pun menyeret pengawal Gisella menuju kamar kosong di belakang warung.


Sementara Arga, Dirta, Artha dan di bantu koki serta anak buahnya membereskan serta merapikan kembali tempat itu, meski tak seindah sebelumnya.


Mereka selesai membereskan semuanya menjelang dini hari dan koki pun tidak lagi tidur, dia langsung mengolah makanan.


Fras dan Mirna datang setelah subuh, mereka heran melihat ada yang berubah dengan tempat itu.


"Lihat Ma, kenapa ini pada rusak! Sebenarnya ada kejadian apa tadi malam dan kenapa Arga atau yang lain tidak memberitahu kita."


"Iya ya Pa, ayo kita masuk dan tanya mereka."


Keduanya pun bergegas masuk dan ternyata Arga, Dirta dan Artha sedang membantu menyiapkan piring serta gelas untuk acara sore nanti.


Melihat kedatangan Papa dan mamanya, Arga pun bangkit lalu menjelaskan kejadiannya.


"Kurang ajar Tante Gisella, dia mau mencari masalah lagi dengan kita. Besok papa akan menemuinya, sekarang kita fokus dulu dengan acara nanti. Jangan sampai kita mengecewakan tamu."


Mendengar nama Gishella disebut, Mirna pun menatap Arga, dia takut Arga akan menyamperin Gisella dan akhirnya bertemu dengan papanya.


"Ada apa Ma? Mama nggak perlu takut. Jika wanita itu berani menyakiti mama lagi, kami semua yang akan menghadapinya."


"Biarkan saja Nak, biar papa yang mengurusnya, bukankah mereka masih kerabat papa. Kita tidak usah ikut campur."

__ADS_1


"Iya, Mama benar Ga, biar papa yang urus semuanya. Kamu fokus kuliah dan di kantor saja."


Arga pun mengangguk hingga membuat Mirna tenang. Padahal Arga sudah memiliki rencana untuk mempermalukan Gisella via medsosnya.


"Ayo anak-anak bantu papa menempelkan hiasan ini di dinding. Setelah itu, kalian bantu ibu menyusun alat makan di tempatnya."


"Siap Pa!"


Ketiganya pun melakukan tugas sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Mereka senang jadi memiliki kegiatan daripada hanya bengong di rumah.


Persiapan sudah 80% selesai dan Arga pun pamit untuk menjemput Cinta.


Cinta ternyata hari ini ke kampus, sedangkan Arga sedang tidak ada jadwal kuliah.


Arga mengajak Cinta ke kantin dulu sebelum mereka kembali ke warung kuliner.


Di sana Arga menceritakan semua yang terjadi dan diapun meminta nomor Gisella dari Cinta. Arga ingin mengirim pengakuan tersebut ke WhatsApp Gisella.


Gisella kaget, melihat anak buahnya tidak berkutik dan terkurung. Pantas saja sejak tadi keduanya tidak memberi kabar dan tidak bisa di hubungi.


Dengan kesal Gisella membanting pinselnya di sofa hingga Riko yang baru masuk merasa terkejut.


"Apa-apaan kamu Ma, memangnya ada masalah apa hingga kamu emosi seperti itu?"


"Kita sudah terlalu banyak masalah Ma, jadi ngapain lagi mikirin group arisan yang malah membuat mama bertambah pusing. Sekarang kita fokus dulu ke operasi Rendi."


Gisella pun mengangguk, dia bingung mana duluan yang harus dipikir. Menyingkirkan Mirna dan operasi Rendi sama penting baginya.


Saat Gisella terdiam, terdengar suara Rendi memanggil.


"Maa...Rendi haus!"


Gisella dan Riko pun mendekat, mereka tidak tega melihat kondisi Rendi yang makin melemah.


"Ada apa Nak?"


"Minum Ma!"


"Kamu kan di minta puasa dan sore ini operasi akan dilaksanakan, tahan ya Sayang."


"Olesin saja bibirnya sedikit dengan air minum Ma," ucap Riko.

__ADS_1


"Iya Pa, sebentar ya Nak!"


Karena khawatir dengan Rendi, Gisella jadi tidak punya waktu lagi untuk memikirkan Mirna saat ini. Padahal dia ingin sekali mengacaukan pembukaan usaha Mirna.


Gisella juga tidak tahu, jika di medsos juga sudah heboh, Arga dengan akun baru menyebarkan rekaman pengakuan anak buah Gisella.


Arga ingin mempermalukan Gisella.


Dokter sudah membawa Rendi ke ruangan operasi, sementara Gisella mondar mandir gelisah menunggu di depan ruangan bersama Riko.


Di warung kuliner Mirna, acara pun sudah di mulai, pengunjung sangat ramai dan ada beberapa wartawan yang meliput acara pembukaan tersebut sekaligus ingin mengklarifikasi kebenaran berita pengrusakan yang heboh di medsos.


Para karyawan dan relasi perusahaan Fras pun sudah hadir dan adik-adik Fras juga berkumpul di sana memberi ucapan selamat.


Walaupun lelah, tapi Mirna sangat bahagia, cita-citanya sejak dulu akhirnya terwujud bersamaan dengan kebahagiaan akan mendapatkan momongan lagi.


Arga, Artha dan Dirta juga senang, mereka membantu melayani tamu yang hadir dan juga para anak yatim piatu yang akan diberi santunan.


Acara berjalan meriah dan tidak ada gangguan apapun lagi, karena Gisella masih sibuk memikirkan keberhasilan operasi Rendi.


Riko yang masih menanti di depan ruangan operasi mendapatkan telepon dari temannya.


"Hallo Mas Riko, coba Mas lihat di medsos lagi heboh membicarakan istri Mas."


"Ada masalah apa Tian?"


"Mas langsung cek deh, Mbak Gisella terlibat pengrusakan sebuah warung kuliner yang hari ini di resmikan. Ada bukti pengakuan orang suruhannya Mas."


"Terimakasih Tian, aku akan cek dulu apakah berita itu benar atau ada kesalahpahaman."


"Iya Mas cepatlah sebelum beritanya makin marak, kasihan Mbak Gisella dan Mas serta anak-anak pasti malu."


Riko pun mengecek medsos dan kiriman screenshot dari Tian. Riko sangat kaget saat melihat nama warung kuliner tersebut.


Meski tidak ada satu foto pun yang bisa membuktikan jika warung itu ada kaitannya dengan Mirna sang istri, namun nama Mirna berhasil membuatnya terduduk lemas.


"Mirna..., aku akan menyelidiki warung kuliner itu setelah operasi Rendi selesai. Tapi apa hubungannya dengan Gisella, kenapa dia membuat kerusakan di sana? Apa mungkin, warung itu milikmu Mirna, hingga Gisella mengganggumu?" monolog Riko.


Berbagai pertanyaan berkecamuk di pikiran Riko, hingga membuat kepalanya pusing.


Riko memijat kepalanya sambil terus mengecek ponsel. Dia berharap ada berita lain yang bisa membuatnya yakin jika warung itu ada hubungannya dengan Mirna dan Arga.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2