
Riko meninggalkan kamar Bara lalu dia berpesan kepada pelayan untuk menyiapkan makanan jika Bara terbangun.
Saat ini dia harus membereskan pekerjaan dulu sebelum kembali ke rumah sakit.
Gisella yang melihat Rendi tertidur, ikut merebahkan dirinya di sofa. Dia sangat lelah karena beberapa hari ini tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan anak-anaknya.
Kemudian Gisella menggulirkan ponselnya, dia mengecek banyak pesan masuk dan juga panggilan tak terjawab dari teman-teman sosialitanya.
Gisella sangat terkejut melihat berita yang teman-temannya sampaikan lalu dia melihat sebuah upload-an tentang pengakuan pengawal suruhannya itu.
Wajah Gisella memerah, dia sangat marah. Kemudian Gisella pun menelepon anak buahnya untuk mengkonfirmasi hal itu dan ternyata ponsel mereka tidak aktif.
Gisella resah, dia takut jika Riko mengetahui hal itu, dan mencari informasi tentang Mirna atau mendatangi warung kuliner tersebut.
"Argh...aku harus bagaimana? Rendi tidak bisa aku tinggal tapi aku harus bisa menyingkirkan Mirna dan Arga secepatnya!" monolog Gisella.
Dia kemudian bangkit, berjalan mondar-mandir sambil berpikir apa yang harus diperbuatnya.
Rendi yang terbangun memperhatikan sang mama dan diapun bertanya, "Ma, ada apa? Kenapa Mama begitu gelisah?"
"Eh, kamu sudah bangun Nak?"
Kemudian Gisella pun mendekati Rendi lalu dia menceritakan semuanya. Gisella berharap besok Rendi bisa dia tinggal untuk pergi menemui Mirna.
Rendi terkejut dan dia mendukung rencana sang mama. Rendi juga tidak ingin rahasia mereka terbongkar hingga bisa berakibat akan kehilangan semuanya termasuk Riko.
"Pergilah Ma, Rendi nggak apa-apa Kok, besok saat Papa ke kantor, mama bisa pergi diam-diam hingga papa tidak curiga."
"Terimakasih Nak, kamu memang anak mama yang bisa diandalkan, tidak seperti adik kamu. Bukannya membantu kita malah sibuk dengan masalahnya sendiri."
"Tapi kan dia memang tidak tahu masalah ini Ma, jadi biarkanlah tetap seperti ini. Aku takut jika Bara tahu, makin kacau semuanya."
"Iya, kamu benar. Ya sudah Mama mau beristirahat sebentar, sambil memikirkan apa yang akan Mama lakukan kepada si pembawa masalah itu."
Rendi pun mengangguk dan membiarkan mamanya tidur. Sementara dia sendiri mengotak-atik ponsel.
__ADS_1
Dia masih takut, setelah sembuh, polisi akan membawanya kembali ke sel tahanan. Saat ini pihak kepolisian juga masih mengawasinya.
Rendi berencana akan kabur dari rumah sakit, tapi saat ini masih belum memungkinkan dirinya untuk pergi.
Riko duduk termenung di meja kerjanya, nama Mirna masih terngiang-ngiang di kepalanya.
Besok setelah menemui Fras di perusahaan, Riko berencana akan ke warung kuliner untuk memastikan sendiri jika Mirna istri Fras bukanlah Mirna istrinya.
Rasa takut kini menghantui Riko, dia takut mengetahui kenyataan jika memang apa yang dia takutkan menjadi kenyataan.
Kerinduannya terhadap Mirna dan Arga makin kuat. Dan untuk mengobati rasa rindu itu, Riko mengeluarkan sebuah foto usang dari dalam dompetnya. Dia sengaja menyembunyikannya di sana agar Gisella tidak curiga.
"Sayang kalian di mana, aku merindukan kalian," ucapnya lirih.
Kemudian Riko mencium foto tersebut dan perlahan memejamkan mata. Riko tertidur sembari memeluk foto tersebut.
Riko tidak jadi balik ke rumah sakit, karena dia terbangun saat hari menjelang pagi.
Kemudian Riko beranjak ingin mengecek Bara di kamarnya. Ternyata Bara juga masih tidur.
Gisella paham dan dia tahu, suaminya juga butuh istirahat. Gisella memandang foto Bara yang baru dikirim Riko dan dia merasa tenang karena Bara nyenyak tidur bukan berkeliaran di luaran.
Riko kembali ke kamar untuk menjalankan aktivitas lain, dan dia akan ke rumah sakit setelah menemui Fras serta singgah ke warung kuliner Mirna.
Riko bersiap, mengenakan jasnya lalu pergi menemui pelayan untuk menitip pesan buat Bara.
Setelah itu, Riko pun mengeluarkan mobil dari garasi lalu melajukan secepatnya ke perusahaan Fras.
Riko tiba di sana dan dia terkejut saat melihat seorang remaja yang begitu mirip dengannya ketika muda, sedang berjalan ke arah lift. Remaja itu tidak lain adalah Arga
Sejenak Riko terpaku, lalu dia berusaha mengejarnya, tapi Riko telat karena pintu lift sudah tertutup.
Riko mencari tangga darurat, dia berlari menaiki anak tangga berharap bisa menemukan Arga.
Nafas Riko ngos-ngosan tapi dia tidak berhasil bertemu Arga. Riko berjalan gontai menuju ke ruangan Fras sesuai petunjuk resepsionis.
__ADS_1
Namun sayang dia harus menunggu karena Fras baru saja masuk ke ruangan rapat.
Riko menunggu di luar ruangan Fras sembari matanya melihat ke sekeliling, berharap bisa melihat pemuda yang tadi mirip dengannya.
Sekitar satu jam Riko menunggu, dan Fras pun telah keluar dari ruangan rapat. Sementara Arga masih di dalam, dia masih menerima uluran selamat dari para staf di sana.
Fras yang melihat Riko pun tersenyum sekaligus cemas. Dia takut Riko akan bertemu Arga. Fras merasa saat ini belum saatnya untuk Arga mengetahui kebenaran jika Riko masih hidup.
"Hai Fras, aku sejak tadi menunggu, ternyata kamu sedang memimpin rapat."
"Iya. Sebaiknya kita mencari tempat enak buat nongkrong, bagaimana jika kita ke cafe di depan sana. Kita ngobrol sambil menikmati kopi."
"Boleh Fras, kebetulan aku tadi tidak sempat ngopi, maklumlah pikiran ku masih bercabang kemana-mana. Aku tidak akan tenang sebelum Rendi lepas dari jeratan hukum."
Fras tidak menanggapi hal itu, dia berjalan meninggalkan ruangannya dan hal itu dilihat oleh Arga.
Arga mengucek mata, dia jelas tidak salah melihat. Yang bersama Papa Fras nya adalah benar Papa kandungnya.
Arga mengikuti keduanya tanpa menimbulkan kecurigaan. Dan dia ingin melayangkan tinju kepada sang Papa, saat teringat akan kesulitan hidup yang pernah dia dan mamanya rasakan selama berpuluh tahun.
Sambil mengawasi keduanya, Arga pun membuka alat perekam pada ponselnya. Dia ingin mengetahui apa sebenarnya yang akan di bicarakan oleh kedua Papa.
Dengan meminjam koran, Arga pun berjalan menutup wajahnya agar tidak terlihat oleh Fras maupun Riko.
Arga berusaha menahan emosi agar tidak menyamperin Riko, lalu diapun mulai mendengarkan percakapan keduanya.
Mendengar Riko meminta maaf atas kesalahan Rendi dan meminta Fras untuk membantunya mengurus kasus Rendi membuat Arga kembali mengepalkan kedua tangannya.
Arga menarik nafas dalam Untung menormalkan perasaannya, dia harus sabar demi pelampiasan dendamnya.
Fras pun mengatakan jika kasus Rendi sangat berat dan dia tidak bisa membantu.
Riko menarik nafas dalam, lalu dia kembali meminta maaf atas kesalahan yang Bara lakukan kemaren. Riko berharap Fras mau menasehati putranya agar menjauhi cinta karena Riko tidak tega melihat kehancuran Bara saat ini.
Fras tidak mungkin melakukan hal itu karena dia juga ingin melihat Arga bahagia.
__ADS_1
Bersambung.....