
Arga menghapus air matanya, dia benci harus menangis karena Riko. Kemudian Arga mendekati Cinta dan mengajaknya pulang.
Namun saat tiba di parkiran, Riko pun mengejar Arga dan menarik lengannya.
"Tunggu Nak, kita belum selesai bicara. Tolong, beri Papa kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi setelah kecelakaan saat itu."
"Pergilah, aku mohon pergi. Jangan ganggu aku dan mama lagi. Sudah cukup hati kami sakit saat mendengar berita kematianmu. Jadi biarkan kami tetap menganggapmu sudah mati."
Arga menepis tangan Riko, lalu menarik Cinta dan memintanya untuk naik ke atas motor.
Cinta yang tidak mengerti apapun, merasa iba melihat Riko terus memohon.
"Nak Cinta, tolong cegah Arga. Jangan pergi, dengarkan penjelasan saya dulu! Tolong Nak," mohon Riko sembari menghalangi motor Arga yang mulai melaju.
Arga tidak peduli, dan dia terus melajukan motornya hingga membuat Riko hampir saja tertabrak.
Riko mengelak dan dia terjatuh hingga membuat Cinta sempat berteriak.
"Arga! apa-apaan ini. Aku mau turun! Aku belum ingin mati!"
Arga tidak mendengarkan ucapan Cinta hingga Cinta mengancam jika Arga tidak menghentikan motornya, Cinta akan melompat turun.
Mendengar hal itu, barulah Arga memperlambat dan akhirnya menghentikan laju motornya.
Arga memukul stang motor lalu berkata, "Turunlah!"
Cinta pun turun dan saat dia melihat Arga kembali menghidupkan mesin motor, Cinta pun langsung mematikan serta menarik kuncinya.
"Jangan pergi Ga, kamu harus tenangkan hati. Aku tidak mau kamu celaka!"
Arga meraup wajahnya dengan kasar, lalu dia menatap Cinta.
Cinta pun menggenggam tangan Arga dan berkata, "Ceritalah, aku siap mendengarkan. Mungkin dengan berbagi cerita, hati dan pikiran mu akan lebih tenang."
Arga tertunduk, matanya berkaca-kaca, lalu dia berkata, "Aku benci dia Cin!" tunjuk Arga ke arah Riko yang masih berdiri mematung di kejauhan.
Riko sempat ingin mengejar Arga, tapi dia urungkan niat karena tidak ingin melihat Arga celaka. Kini hati Riko merasa lega saat melihat Cinta berhasil menghentikannya.
__ADS_1
"Tenang Ga, katakan padaku kenapa kamu sangat membenci Om Riko? Dan sebenarnya ada hubungan apa di antara kalian."
Arga menarik nafas dalam, sebenarnya dia enggan menceritakan tentang masalahnya, tapi karena Cinta saat ini sudah menjadi bagian dari hidupnya, Argapun akan berterus-terang.
Kemudian dia menceritakan semuanya hingga dia begitu membenci papa yang dulu sangat Arga cintai.
Cinta menyabarkan Arga, dia tahu hal itu pasti sangat menyakitkan. Tapi Cinta harus bisa menjadi penengah, karena selama ini dia lebih mengenal Riko sebagai orang yang sangat baik.
"Begini Ga, bukannya aku membela Om Riko, tapi tidak ada salahnya jika kita mendengarkan dulu penjelasannya. Setelah itu baru kamu putuskan akan menerima atau tidak mengakuinya sebagai Papa kamu."
"Aku mengenal Om Riko cukup lama Ga, dan aku tahu bagaimana karakter orangnya. Beliau orang baik, dan mungkin saja kebaikannya itu dimanfaatkan oleh Tante Gisella."
"Tapi aku tidak terima Cin, dia enak-enakan hidup bersama anak-anaknya sementara aku di abaikan!"
"Makanya, kita harus dengarkan dulu penjelasan beliau. Ayo kita kesana, tidak baik masalah berlarut-larut. Lihatlah kasihan beliau. Om Riko pasti sama menderitanya seperti kalian."
Akhirnya Arga pun menurut saat Cinta menarik lengannya. Cinta membawa Arga untuk menghampiri Riko.
Mata Riko berkaca-kaca melihat putranya mendekat. Saat Arga tepat berdiri di hadapannya, Riko pun langsung memeluknya.
Arga masih bersikap dingin, dia tidak ingin menunjukkan jika dirinya juga sangat rindu dan ingin membalas pelukan Riko.
Riko melepaskan pelukannya, lalu dia berkata, "Terimakasih Nak, sudah mengizinkan aku untuk memelukmu. Aku sangat merindukanmu. Aku tidak pernah melupakan kalian."
"Om, sebaiknya kita duduk di sana, agar Om dan Arga bisa enak ngobrolnya."
"Iya Nak, kamu benar. Terimakasih ya sudah mau menjadi jembatan antara kami."
"Sama-sama Om."
Kemudian mereka pun menuju ke pelataran kampus di mana ada sebuah bangku di bawah pohon rindang yang tumbuh di sana.
Keduanya duduk berhadapan, lalu Riko pun mulai bercerita dari saat terjadinya kecelakaan, hingga dia ditemukan pingsan di pinggiran hutan oleh salah satu petugas kehutanan. Dan saat itu, Riko sempat kehilangan ingatan.
Tanpa di duga, orang yang menolong Riko adalah teman sekolah Gisella.
Gisella akhirnya membawa dirinya pulang dan merawatnya bertahun-tahun hingga ingatan Riko pun kembali.
__ADS_1
Saat ingatannya mulai pulih, Riko telah meminta anak buahnya untuk mencari keberadaan Mirna dan juga Arga. Tapi semua usahanya sia-sia.
Mungkin karena perpisahan yang sudah cukup lama dan Mirna serta Arga tidak pernah kembali ke daerah tempat mereka pernah tinggal dulu, makanya mereka pun sulit di temukan.
Riko terisak-isak saat mengakhiri ceritanya dan dia kembali memeluk Arga seakan takut jika Arga akan pergi meninggalkannya lagi.
Arga akhirnya luluh, diapun membalas pelukan sang Papa sembari menangis.
"Papa, maafkan Arga. Arga sangat merindukan Papa. Tapi karena keegoisan dan kemarahan, Arga hampir membuat Papa celaka."
"Tapi jujur Pa, hati Arga sakit saat tahu, Papa masih hidup serta berbahagia bersama Tante Gisella dan kedua anak Papa itu, sementara aku dan mama hidup terlunta-lunta. Untung saja ada Papa Fras yang begitu baik hati selalu menolong kami."
Mendengar Arga menyebut Fras dengan sebutan Papa, hati Riko kembali sedih, dia jadi teringat jika Mirna sekarang telah menjadi istri Fras.
"Maaf Pa, mama sekarang adalah istri Papa Fras dan saat ini mama sedang mengandung. Jadi Arga mohon, jangan temui mama dulu Pa, karena Arga takut mama akan syock hingga berpengaruh terhadap kehamilannya."
"Soalnya kata dokter mama harus hati-hati dalam menjaga kehamilan diusia tua dan dokter mengatakan jika mama sedang hamil anak kembar."
Riko makin sedih mendengar cerita Arga, harapannya untuk kembali kepada Mirna kini telah pupus. Takdir telah memisahkan cinta mereka dan sekarang Riko harus belajar ikhlas menerima kenyataan tersebut.
"Maaf Nak, Papa tadi sudah menemui mama mu dan seperti yang kamu bilang, Mama syock dan mengusir Papa."
"Papa berharap, saat ini Fras mampu menenangkannya. Meski Papa kecewa karena mamamu telah menikah lagi, tapi Papa harus berterima kasih kepada Mama dan juga Fras, yang telah merawatmu hingga kita bisa bertemu lagi."
"Papa mohon Nak, izinkan Papa selalu bersamamu. Papa ingin menebus waktu kebersamaan kita yang hilang selama ini."
"Tinggallah bersama Papa Nak!" pinta Riko.
"Maaf Pa, aku tidak bisa tinggal bersama Tante Gisella dan juga anak-anak papa itu. Jujur Pa, aku sangat membenci mereka. Tante Gisella dan Rendi telah menyiksa dan mengusir kami dari rumah saat mama sedang sakit."
"Aku tidak bisa melupakan kekejaman mereka begitu saja. Maaf Pa, aku membenci istri serta anak-anak Papa, sampai kapanpun."
Riko menghela nafas, dia menyesal selama ini telah percaya dengan ucapan Gisella dan juga Rendi, jika Istri dan anaknya meninggalkan rumah karena demi mengejar pria lain.
Riko pun menjelaskan kepada Arga jika Rendi dan Bara bukan putra kandungnya. Makanya Riko berharap Arga akan mau tinggal bersamanya di rumah yang telah Riko beli khusus untuk Arga.
Bersambung.....
__ADS_1