
Bara berjalan tak tentu arah dan dia tidak peduli lagi dengan keadaan dirinya. Bara merasa lebih baik mati setelah dia mengetahui rahasia hidupnya.
Di malam gelap itu, Bara yang berjalan sempoyongan di tengah jalan, menjadi sasaran korban tabrak lari sebuah mobil yang melaju dengan sangat kencang.
Tubuh Bara terpental dan darah muncrat keluar dari mulutnya.
Seorang pengendara sepeda motor pun berhenti dan dia kaget saat melihat ada seseorang dengan luka parah tergeletak di sana.
Pengendara itupun mencari bantuan, lalu membawa ke rumah sakit.
Sementara di rumah sakit, Riko memilih pergi untuk menenangkan diri daripada menghadapi Gisella yang masih histeris.
Riko sudah membuktikan janjinya dulu dan dia tidak menyesal karena itu balasan setimpal untuk Gisella yang telah menghancurkan kebahagiaannya.
Gisella yang marah dilihati keluarga pasien, segera beranjak ke kamar Bara dan dia sangat terkejut saat melihat Bara tidak ada di tempat tidurnya.
Kemudian Gisella pun mencarinya keluar, dia bertanya ke orang yang lalu lalang dan juga bertanya ke perawat tapi mereka tidak ada yang tahu.
Gisella seperti orang gila, berlari kesana kemari hingga ke parkiran rumah sakit, tapi usahanya tetap sia-sia.
Saat dia hendak kembali ke kamar Bara, Gisella pun melihat perawat dan security panik mendorong korban kecelakaan masuk ke ruang UGD.
Entah mengapa Gisella merasa penasaran, lalu dia berlari mengikuti perawat yang membawa brankar.
Gisella menjerit saat yang dilihatnya terbaring di atas brankar adalah Bara.
Tangisnya kembali pecah, dia hendak memeluk Bara yang terluka tapi perawat dan security menghalangi karena mereka harus segera memberikan pertolongan.
Akhirnya Gisella terduduk lemas di luar ruangan UGD, dia benar hancur saat ini.
Belum lagi otak Gisella berpikir jernih, seseorang menepuk pundaknya, "Bu Gisella ternyata Anda di sini. Kami menghubungi Anda dan suami tapi tidak bisa Bu."
"Maaf, terpaksa saya lancang membawa Rendi ke sini. Rendi pingsan karena perutnya sakit lagi. Sekarang sedang di cek oleh dokter spesialis yang biasa menanganinya. Silakan Anda kesana Bu, karena saya masih harus membantu menangani pasien darurat."
Gisella tidak bisa berkata apapun, otaknya linglung karena masalah yang bertubi menderanya, hingga dokter mengajak Gisella untuk duduk di kursi dan meminta perawat untuk mengambilkan air minum.
__ADS_1
Setelah merasa tenang, air mata Gisella pun meleleh dan tanpa pamit, dia berjalan ke arah ruangan dokter yang biasa menangani Rendi.
Dokter mempersilakan Gisella masuk, lalu dokter menjelaskan jika kondisi Rendi ngedrop lagi dan saat ini dokter sedang melakukan pemeriksaan ulang penyakitnya.
Gisella berjalan gontai meninggalkan ruangan dokter, lalu dia kembali untuk menemui dokter yang menolong Bara.
Dokter menjelaskan jika terjadi benturan kuat di kepala Bara dan kemungkinan terjadi gegar otak.
Mengenai luka-lukanya sudah di balut perban. Dan dari hasil pemeriksaan, dokter juga mengatakan jika kemungkinan besar setelah Bara sadar dia akan kehilangan ingatan.
Gisella berteriak sekuatnya, kini dia benar-benar sendiri. Mata Gisella nanar, dia marah dan makin membenci Mirna serta Arga.
Menurutnya semua itu terjadi karena kehadiran Mirna dan Arga dalam kehidupannya lagi.
Gisella berlari meninggalkan rumah sakit menuju parkiran, dia mengendarai mobilnya menuju rumah Fras. Kali ini dia sendiri yang akan membunuh keduanya.
Hampir dini hari Gisella tiba di sana dan dia berteriak-teriak memanggil Mirna. Penjaga gerbang pun memarahi Gisella yang telah membuat onar.
Tapi Gisella nggak peduli dan dia memaksa agar penjaga itu membuka pintu atau Gisella akan menabrak pagar rumah Fras.
Karena penjaga mengenal Gisella, lalu dia menghubungi Fras. Fras pun meminta penjaga agar membukakan pintu daripada teriakan Gisella membuat para tetangga terganggu istirahatnya.
"Mau keluar sebentar menemui Tante Gisella. Dia datang dan berteriak-teriak. Sekarang sudah di halaman."
"Tunggu Mas aku ikut!" ucap Mirna sembari mencari kardigannya.
"Nggak usah Sayang, kamu tunggu di sini saja. Biar aku yang akan menghadapinya."
"Nggak Mas, dia pasti mencariku."
"Ya sudah ayo, tapi kamu jangan dekat-dekat dia ya, aku takut dia akan mencelakaimu."
"Baik Mas."
Fras dan Mirna pun bergegas keluar, ternyata Mirna sudah menggedor-gedor pintu dengan sangat keras.
__ADS_1
Saat Fras membuka pintu, Gisella sudah mengacungkan tangan dan jika itu Mirna yang keluar dia siap untuk memukulnya.
Fras mencengkram tangan Gisella dan berkata, "Kenapa Tante datang-datang membuat keributan di sini! Ini sudah hampir pagi Tan, nggak sopan sekali mengganggu orang sedang istirahat," marah Fras.
Gisella yang melihat Mirna ada di belakang Fras langsung meradang dan menyerang.
"Hei kamu pelacur, perusak rumah tangga orang! Gara-gara kau rumah tanggaku hancur! Ngapain kau kembali ke kota ini ******!" teriak Gisella sembari hendak menarik rambut Mirna.
Fras mencengkram kuat tangan Gisella, kalau saja Gisella itu laki-laki mungkin sudah Fras plintir tangannya hingga patah.
"Jangan sembarangan kalau ngomong ya Tan, Mirna itu bukan pelacur, Mirna istriku! Silakan Tante pergi dari sini, jangan sampai aku bertindak kasar hingga Tante menyesal."
"Mau-maunya kamu menikahi seorang pelacur! Pelacur akan tetap pelacur meski tinggal di istana!"
"Nggak perlu teriak maling Mbak, kalau Mbak sendiri maling! Mbak Gisella yang pelacur! Dua putra Mbak, nggak jelas siapa ayahnya!" bentak Mirna yang sudah kehilangan kesabaran.
Setelah mengatakan hal itu Mirna pun menyesal karena tersulut emosi. Diapun mengucap, "Astaghfirullah, maafkan aku ya Allah."
"Jaga mulut kamu pelacur, mereka anak Riko. Anak kamu yang diragukan, buktinya sampai sekarang Riko masih tinggal dengan kami dan sangat menyayangi anak-anakku!"
"Tan sudah! nanti kalau aku ikut ngomong, Tante sendiri yang akan malu. Aku tahu semua rahasia Tante. Di mana Tante menggoda brondong agar bisa hamil dan mengikat Riko. Apa aku perlu membongkar semuanya di hadapan Riko dan keluarganya Tan!"
Gisella terdiam, dia tidak menyangka jika rahasianya diketahui oleh Fras. Padahal selama ini Gisella telah menutupnya rapat-rapat, bahkan keluarga dan sahabat karibnya sekalipun tidak ada yang tahu.
"Bagaimana Tan, mau pergi atau aku telepon Riko sekarang juga, biar dia tahu bagaimana busuknya Tante ku ini!"
"Awas kamu Fras, aku akan balas kalian! Ingat perkataan ku!" ancam Gisella sembari pergi meninggalkan rumah Fras.
Gisella melajukan mobilnya dengan kencang, dia tidak tahu lagi harus bagaimana agar Riko mau kembali. Gisella tidak mau kehilangan Riko dan dia juga belum siap jika Rendi dan Bara sampai tahu dan menanyakan siapa ayah kandung mereka.
Dalam kekalutannya Gisella tidak menyadari jika sebuah truk sedang melaju kencang di hadapannya dan kecelakaan pun tidak bisa dielakkan.
Mobil Gisella menghantam truk dan akhirnya terbalik. Malam itu Gisella menghembuskan nafas terakhir, terjepit di dalam mobilnya yang nyaris tak berbentuk.
Bersambung....
__ADS_1
Sambil menunggu aku Up episode terakhir, mampir yuk para sobat ke karyaku yang lain, banyak pilihan lho dan inshaallah nggak kala seru. Yuk silakan cek di bawah iniππ