DENDAM SANG PEWARIS

DENDAM SANG PEWARIS
BAB 54. OVER DOSIS


__ADS_3

Riko, Gisella dan Rendi tiba di rumah. Pelayan menyambut kedatangan mereka, lalu membantu Rendi turun dari mobil dan mengantarnya ke kamar.


Gisella yang tidak melihat Bara pun bertanya kepada pelayan tentang keberadaan putra keduanya itu.


Pelayan menjelaskan jika tadi mereka mendengar Bara mengamuk di kamar dan tidak lama kemudian dua orang teman prianya pun datang.


"Teman? Lantas di mana mereka sekarang?" tanya Gisella heran. Yang Gisella tahu, selama ini Bara tidak pernah membawa ataupun meminta temannya untuk datang ke rumah.


Karena penasaran, Gisella pun mencari Bara di kamarnya dan dia mendengar suara dentuman musik yang sangat keras hingga membuat gendang telinga Gisella seperti mau pecah.


Jika dia mengetuk pintu akan percuma saja, jadi Gisella mencoba membukanya dan ternyata di kunci.


Gisella makin curiga, lalu diapun mencari Riko dan mengatakan semuanya.


Riko pun bergegas menuju kamar Bara, dia coba mengetuk tapi tidak juga di buka. Lalu Riko meminta Gisella untuk mengambil kunci serep di kamar mereka tapi Gisella mengatakan jika kunci itu pernah Bara minta karena kunci satunya hilang.


Akhirnya tidak ada cara lain, Riko meminta Gisella untuk memanggil pelayan laki-laki agar membantunya mendobrak pintu.


Riko mencobanya sendiri tapi pintu tidak bergeming sedikitpun. Lalu setelah pelayan tiba, mereka secara bersamaan melakukan pendobrakan.


Pintu pun akhirnya terbuka, Riko dan Gisella sangat terkejut saat melihat Bara dan kedua temannya sudah teler. Mereka pesta miras dan obat terlarang di sana.


Gisella marah, lalu dia menampar Bara yang sudah hampir hilang kesadarannya.


Sementara Riko meminta pelayan untuk mengeluarkan kedua teman Bara yang sudah terkapar.


Kemudian Riko pun menghalangi Gisella yang masih saja memukul Bara. Mulut Bara berdarah akibat beberapa kali tamparan Gisella.


Bara tertawa layaknya orang gila. Dia tidak menghiraukan rasa sakit pada wajahnya. Yang dia rasakan saat ini adalah ketenangan karena pengaruh miras dan obat terlarang. Sejenak Bara melupakan rasa sakit hatinya.


"Ma, hentikan! Sebaiknya Mama jaga Rendi saja biar aku yang urus Bara serta teman-temannya."


"Inilah akibat Papa yang selalu membela serta memanjakan dia. Bara jadi kurang ajar dan tidak pernah mau menuruti perkataan Mama. Mama pusing Pa! Banyak sekali masalah yang menimpa kita belakangan ini. Mama bisa gila jika seperti ini terus, mana usaha terbengkalai!"


"Sudahlah Ma. Mama sekarang tenang dulu."

__ADS_1


"Pak, tolong bawa nyonya ke kamar Rendi dan beri Nyonya minum agar tenang. Saya akan membawa Bara dan temannya ke rumah sakit. Saya takut terjadi hal buruk kepada mereka."


"Pa, jangan di bawa ke rumah sakit, papa mau berita ini tercium polisi atau media bisa kacau Pa! Makin hancur citraku di mata teman-teman ku!"


"Mama memikirkan keselamatan Bara atau nama baik! Mama senang jika melihat Bara seperti orang gila. Mumpung belum terlambat Ma!"


"Nggak usah Pa, tolong Mama dong! Papa panggil saja dokter kesini. Pasti dokter langganan kita mau dan bisa menolong mereka."


"Baiklah, tapi setelah ini, Papa mau Bara kita bawa ke panti rehabilitasi."


"Ya, terserah Papa. Yang penting saat ini Mama mau kita jangan ada yang keluar rumah," ucap Gisella sembari meninggalkan kamar Bara.


Riko pun membawa Bara ke ruang tengah di mana kedua temannya tergeletak di sana. Kemudian Riko pun menghubungi dokter dan meminta pelayan wanita untuk membersihkan kamar Bara.


Bara masih meracau tidak karuan, sedangkan Riko sangat khawatir melihat kedua mulut teman Bara mengeluarkan buih yang lumayan banyak.


Riko tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi, diapun mondar mandir untuk melihat apakah dokter sudah tiba atau belum.


Setelah dokter tiba dan memeriksa ketiganya, dokter meminta agar Riko membawa mereka ke rumah sakit. Kemungkinan kedua teman Bara over dosis.


Sembari mendesah Riko bersama dua pelayan dan juga dokter membawa ketiganya ke dalam mobil, lalu mereka pun bergegas menuju rumah sakit.


Gisella yang ada di kamar Rendi masih memijat kepalanya yang sakit, dia sekarang tidak punya muka terhadap teman-temannya.


Rendi yang melihat hal itupun belum berani mengatakan rencananya.


Setelah melihat Gisella tenang, barulah Rendi membuka suara, "Ma, ada yang ingin Rendi sampaikan. Ini tentang Papa dan Mirna serta Arga."


Mendengar hal itu, Gisella membulatkan mata, dia tidak menyangka jika Rendi juga mengetahui masalah yang sama.


"Kamu mau bicara apa Ren? apakah kamu tahu kasus yang sekarang sedang beredar di medsos?"


Rendi pun mengangguk lalu berkata, "Lebih parah dari itu Ma!"


"Apa maksudmu Nak?" tanya Gisella sembari menarik kursi dan mendekat ke tempat tidur Rendi.

__ADS_1


"Papa sudah mengetahui semuanya dan besok Papa berjanji akan ke rumah Om Fras untuk bertemu dengan Mirna serta Arga."


Mendengar hal itu, Gisella naik darah, lalu dia melempar pobsel serta semua barang yang ada di dekatnya.


Gisella stres, masalah terus datang, selama ini dia coba menutupinya dari Riko ternyata Riko sudah tahu dan hanya diam. Gisella jadi takut, jika Riko punya rencana lain.


"Ma tenang Ma! percuma Mama lempar-lempar barang. Yang terpenting sekarang, bagaimana caranya mencegah agar Papa tidak pergi kesana."


"Kamu benar Ren, Papa tidak boleh bertemu mereka. Kita tidak akan membiarkan wanita dan anak brengsek itu menghancurkan kebahagiaan kita. Mama akan hubungi seseorang untuk menyingkirkan Mirna dan anak brengsek itu!"


"Mama menyesal kenapa dulu, kita tidak menghabisi mereka! sekarang mereka jadi duri bagi kita."


"Iya Ma, Rendi juga nyesal. Tapi memang kita tidak menyangka jika Papa akan kembali."


"Sebentar mama mau telepon anak buah mama dulu."


Kemudian Gisella pun menelepon anak buahnya. Lalu dia meminta mereka untuk mencarikan pembunuh bayaran yang handal. Gisella tidak mau usahanya kali ini gagal.


Gisella mau saat ini juga, pembunuh itu mengerjakan tugasnya karena besok jika Riko kesana hanya akan menemukan jasad keduanya.


Rendi tersenyum puas, dia senang mamanya bertindak cepat. Karena dia juga tidak suka jika Arga sampai bertemu dengan Riko.


Setelah menginstruksikan tugas, Gisella pun mendekati Rendi dan berterimakasih karena Rendi cepat memberitahukan informasi tersebut.


Gisella bangga meskipun Rendi dalam keadaan tak berdaya masih saja bisa mendukungnya. Tidak seperti Bara yang hanya mementingkan dirinya sendiri.


"Ren, Mama keluar dulu ya. Mama ingin melihat adikmu. Tadi Mama meminta papa untuk memanggil dokter. Barangkali sekarang dokter sedang memeriksa mereka."


"Iya Ma, tetap semangat ya Ma dan harus sabar menghadapi Bara. Nanti jika aku sudah sembuh, aku akan menasehati dia."


"Iya Nak, terimakasih ya."


Gisella kemudian keluar untuk mencari keberadaan Riko dan Bara.


Tapi belum sampai ke ruang tengah, seorang pelayan langsung menghampiri Gisella dan mengatakan jika Riko membawa Bara ke rumah sakit atas permintaan dokter.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2