DENDAM SANG PEWARIS

DENDAM SANG PEWARIS
BAB 58. PESAN RIKO (TAMAT)


__ADS_3

Riko kembali ke rumah sakit setelah beberapa saat berkeliling untuk menenangkan diri.


Meski dia marah kepada Gisella tapi hati Riko tidak bisa mengabaikan Rendi dan juga Bara.


Walau bagaimanapun, dia masih memiliki tanggungjawab untuk memperhatikan keduanya, meski mereka bukan anak-anak kandung Riko.


Riko masuk ke ruangan Bara tapi ruangan itu kosong, lalu dia bertanya kepada suster penjaga mengenai hal itu. Dan suster pun menceritakan kejadian yang menimpa Bara.


Selain itu, suster juga memberitahu jika Rendi dirawat lagi, bahkan sampai saat ini kondisinya masih kritis.


Riko syock mendengar hal itu, dia meraup wajahnya dengan kasar dan suster juga mengatakan jika mereka tidak bisa menghubungi Gisella karena Bara saat ini membutuhkan tambahan darah.


Riko yang tahu golongan darahnya tidak sama dengan Bara, lalu meminta tolong agar pihak rumah sakit mencarikan pendonornya.


"Sus, tolong usahakan pendonornya, darah saya tidak cocok dengan Bara, saya akan bayar berapapun biayanya."


"Baiklah Pak, kami akan coba hubungi rumah sakit lain, karena stock di sini sedang kosong."


"Terimakasih Sus. Oh ya Sus, bisakah besok pagi Saya bertemu dokter? Saya ingin menanyakan kondisi anak-anak."


"Bisa Pak, jam 8 dokter masuk ya Pak."


"Baik Sus, sekarang saya titip anak-anak dulu ya Sus, kalau ada apa-apa tolong cepat kabari. Saya akan mencari istri saya."


Suster jaga pun mengangguk, lalu Riko bergegas keluar tapi dia kaget saat seorang perawat yang mengenalnya memanggil sambil berlari.


Riko pun menoleh mendengar namanya di panggil, lalu dia menunggu si pemanggil mendekat.


"Ya Sus, ada apa? Suster kan yang biasa merawat Rendi?"


"Iya benar Pak. Maaf Pak, saya ada informasi penting. Barusan terjadi kecelakaan tidak jauh dari rumah sakit ini dan kami mendapatkan identitas korban dari pihak kepolisian bahwa korban bernama ibu Gisella."


"Saya teringat jika kedua anak Bapak sedang dirawat, makanya saya langsung mencari Bapak untuk memberitahukan masalah ini."


"Apa Sus! ini pasti salah, tadi istri saya di sini menunggu anak-anak."


"Begini saja Pak Riko, untuk lebih memastikan lagi, sebaiknya Bapak ikut saya. Pihak kepolisian juga masih ada di sini, jadi Bapak langsung bertanya kepada mereka."


"Oke Sus."


Rendi pun mengikuti Suster tersebut ke ruang UGD dan ternyata benar pihak polisi sedang ramai di sana.


"Pak, ini Pak Rendi suami dari Ibu Gisella, korban kecelakaan barusan," ucap Suster.

__ADS_1


"Oh, Anda Pak Rendi? Oh ya Pak, benarkah ini identitas istri Anda dan ini tasnya?"


"Iya benar Pak, ini identitas dan tas istri saya. Bagaimana kondisinya Pak dan bagaimana kejadiannya?"


"Maaf Pak, istri Bapak meninggal di tempat dan ini kecelakaan tabrak lari. Mobil istri Bapak terbalik dan kondisinya hancur. Istri Bapak terjepit di dalam, jadi rupanya sangat mengenaskan. Untung wajahnya masih bisa dikenali."


Riko terhuyung, dia tidak menyangka musibah beruntun menimpa keluarganya.


"Pak, apakah Anda baik-baik saja? duduk dulu Pak, tenangkan diri. Yang sabar ya Pak," ucap Pak polisi sembari membawa Riko duduk dan meminta perawat untuk mengambilkan minum.


Setelah Riko tenang, diapun ingin melihat jasad Gisella.


Dan Pak Polisi pun mengantar Riko serta membukakan penutup tubuh Gisella hanya sebatas leher.


"Benarkah ini istri Bapak?"


Riko menangis, dia tidak menyangka jika nasib Gisella begitu tragis, padahal mereka baru bertengkar beberapa jam yang lalu.


Setelah memberikan pernyataan, Riko pun kembali ke ruang ICU, untuk mengecek kondisi Rendi dan Bara.


Riko bingung bagaimana akan mengatakan kepada keduanya, bila nanti sadar, jika mama mereka sudah meninggal.


Pagi pun tiba, Riko meminta asisten pribadinya untuk memberitahu Fras serta keluarga Gisella lainnya. Dan Riko juga meminta tolong agar mereka mengurus acara pemakaman Gisella.


Fras, Mirna dan Arga terkejut mendengar berita tersebut lalu ketiganya pun bersiap untuk ke acara pemakaman.


Prosesi pemakaman pun berjalan dengan lancar dan satu persatu pentakziah pamit. Kini tinggal Riko beserta Fras dan keluarganya.


Fras memeluk Riko dan dia menceritakan jika tadi malam Gisella ke rumahnya untuk menyakiti Mirna.


Riko pun mewakili Gisella meminta maaf atas semua kejahatan yang telah Gisella lakukan terhadap Mirna dan juga Arga.


Arga memeluk sang Papa, dia ikhlas untuk memaafkan semua kesalahan Gisella dan juga anak-anaknya.


Belum sempat mereka meninggalkan pemakaman, suster mengabarkan jika Rendi juga meninggal.


Riko kembali menitikkan air mata, lalu diapun mengajak Fras, Mirna dan Arga untuk kerumah sakit.


Penyelenggaraan jenazah pun segera dilakukan dan mereka kembali berkumpul di TPU yang sama. Rendi telah pergi menyusul mamanya. Kini hanya tinggal Bara yang masih di rawat di rumah sakit.


Riko berjanji akan merawat Bara dan dia akan mengakurkan Bara dengan Arga. Karena Riko tidak mungkin mengabaikan Bara yang hanya tinggal sebatang kara.


Bara telah sadar, tapi seperti perkiraan dokter, Bara hilang ingatan dan dokter tidak bisa prediksi kapan ingatan Bara bakal kembali.

__ADS_1


Setelah keluar dari rumah sakit, Riko langsung membawa Bara pulang ke rumahnya bersama Arga. Arga tidak keberatan sama sekali jika Bara ikut tinggal bersama mereka.


Mereka pun akur satu sama lain layaknya kedua kakak beradik. Riko sangat senang dan dia mengajari Arga serta Bara untuk mengelola bisnisnya.


Arga, Bara dan Cinta telah lulus kuliah. Kini Bara mengelola perusahaan yang Riko berikan untuknya serta meneruskan usaha butik sang mama yang sempat terbengkalai.


Sementara Arga meneruskan usaha pertambangan milik Riko dan dia menikah dengan Cinta.


Cinta meneruskan usaha kuliner Mirna karena Mirna fokus mengurus anak kembarnya.


Kehidupan merekapun bahagia, tanpa ada dendam di hati masing-masing. Meski kedepannya belum tahu, jika Bara kembali pulih ingatannya.


Riko hanya bisa berharap, jika kelak Bara sembuh, dia bisa berbesar hati menerima kenyataan yang menimpa mama serta sang kakak. Dan Bara juga bisa ikhlas menerima Arga sebagai saudara, meski keduanya tidak memiliki ikatan darah.


Fras dan Mirna hidup bahagia, dengan menikmati momen mengurus anak kembar mereka.


Dirta dan Artha menjadi asisten pribadi Arga dan keduanya juga telah bertunangan dengan teman-teman Cinta yang membantu mengelola warung kuliner.


Sedangkan Riko memilih hidup sendiri, dia tetap menyimpan cinta Mirna di lubuk hatinya terdalam, hingga dirinya menghembuskan nafas terakhir dipangkuan Arga dan Bara.


Sebelum Riko meninggal, dia berpesan dalam bentuk rekaman video, untuk Bara, Arga serta cucu-cucunya kelak.


Dari isi rekaman tersebut Riko mengingatkan, jika harta paling berharga adalah keluarga.


Intinya, Riko hanya ingin Arga dan Bara serta anak keturunannya kelak akan tetap menjadi saudara, menjadi satu keluarga yang saling menjaga serta saling menyayangi.




Terimakasih atas dukungan sahabat semua, semoga kita tetap diberikan kesehatan dan kebahagiaan, berkah hidup dunia dan akhirat.



Saya selaku penulis mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam makna tulisan saya. Tolong ambil sisi baiknya dan buanglah semua keburukan yang ada.



Semoga terhibur dan mohon dukungannya selalu untuk karya-karyaku selanjutnya. Terimakasih, happy reading 🙏🥰



![](contribute/fiction/6148195/markdown/24522111/1675571806355.jpg)

__ADS_1



![](contribute/fiction/6148195/markdown/24522111/1675571806252.jpg)


__ADS_2