Dewa Pendekar

Dewa Pendekar
Usaha membunuh Dewa


__ADS_3

Segera saja Wisana yang kini merasakan dirinya jauh lebih kuat dengan tenpa berpikir lama dia bergerak menuju rumah Diro, Wisana akan membuat perhitungan dengan Dewa saat ini juga.


Di awal rencananya Wisana langsung mencari Dewa, membunuhnya tanpa ampun dan mengambil Lina menjadi miliknya lagi.


Di belakangnya Asoka mengikuti, dia tampak sangat bersemangat. Jika dia mendapatkan kekuatan Dewa tentunya kekuatan dia akan bertambah menjadi sangat kuat, selain itu misi dari Nira akan beres.


Kini dia sangat haus kekuatan. Ilmu gerbang neraka dia membuat dia ingin menjadi sangat sangat kuat.


Di tengah perjalanan mereka Wisana yang berjalan kaki dengan cepat di ikuti Asoka merasakan hal yang aneh, Para penduduk menatapnya dengan jijik, mereka ketakutan dan menjauh.


Tentunya hal ini sangat mengganggu Wisana yang biasa di tatap dengan kagum, tap kemudiani dia berpikir ini karena dia tampak begitu gembel, padahal wajah ganteng dia kini tampak seperti wajah demit yang menyeramkan.


Segera Wisana merapal ilmu meringankan tubuhnya, karena sangat terganggu dengan tatapan penduduk yang seperti itu.


Tubuhnya segera melesat dengan sangat cepat menghilang dari pandangan penduduk yang menatap Wisana dengan perasaan takut.


Kecepatan dia sangat jauh lebih cepat dari biasa Wisana bergerak jika dia merapal ilmu meringakan tubuh, Sekarang setidaknya secepat Dewa bergerak.


Kehebohan tidak ayal segera saja terjadi, karena Wisana bisa menghilang begitu saja dari pandangan mata awam para penduduk kota, kini mereka yakin telah melihat demit beneran.


Asoka tentunya dengan gampang mengikuti Wisana ini. Yang terkejut adalah Wisana, dengan segera menyadari kalau dia kini, menjadi sangat cepat bergerak ketika merapal ilmu meringankan tubuhnya.


Mereka melompat beriringan dengan cepat antara rumah penduduk yang berjajar memanjang. Tentunya tidak membutuhkan waktu lama kini mereka sudah sampai di depan rumah Diro Jayadi.


Wisana dengan langkah tegap segera berjalan langsung menuju gerbang rumah Diro yang di kawal dua prajurit penjaga.


“Hey berhenti!, kamu mau apa?”Segera saja pengawal rumah Diro menghadang Wisana. Tombak di tangannya di arahkan ke Wisana dengan gemetar karena Wisana terlihat mengerikan.


Dalam kondisi normal tentunya para penjaga pasti akan mengenali Wisana, tetapi berbeda dengan saat ini. Mereka tidak ada yang mengenali Wisana lagi.

__ADS_1


“Kalian lancang!” Wisana dengan cepat tanpa ampun menyerang kedua penjaga yang berani mengarahkan senjata ke dirinya.


Dia adalah putra menteri pertahanan yang terhormat, setidaknya itu pikir Wisana dengan masih sangat percaya diri.


Kedua penjaga itu yang menerima pukulan Wisana melayang terbang menuju gerbang rumah Diro yang tertutup.


Pintu kayu gerbang yang kokoh dan berat itu langsung terbuka lebar, sedang kedua prajurit penjaga yang menghadang tergeletak menggenaskan dengan tubuh hancur akibat pukulan Wisana dan juga akibat menghantam pintu yang berat.


Setidaknya sekarang sekitar sepuluh prajurit langsung berlarian dengan sigap, beberapa orang dari mereka dengan segera memeriksa kawan mereka yang dibunuh dengan kejam oleh Wisana dengan hanya sekali serang.


“Mana Dewa! Aku Wisana hendak membunuh Dewa!” teriak Wisana dengan suara menggelegar sambil melangkah kedalam halaman rumah Diro.


“Siapa kau? beraninya kau membunuh di tempat kediaman Jenderal Diro Jayadi” seorang prajurit penjaga yang tampaknya adalah kepala penjaga.


Wisana kini sudah merasa sangat aneh, jelas-jelas mereka ini harusnya mengenali dia, mungkin karena rambutnya yang awut-awutan saat ini. separah itukah? pikirnya bingung.


Sementara itu Asoka yang ikut masuk dan berdiri di belakang Wisana mengamati para prajurit dengan tatapan aneh, katanya kemudian. ”Wisana energi mereka buat aku saja, tidak banyak, tetapi lumayan untuk kumakan.”


Dua prajurit terdepan sudah di cengkram kepalanya tanpa sempat mereka mengantisipasi, segera saja kedua prajurit malang itu dalam sekejap mata menjadi kering kerontang tinggal tulang dan daging kering, seperti telah mati sangat lama.


Wisana yang melihat hal itu terbelak kaget, ternyata ilmu yang ngaku-ngaku Asoka ini tampak sangat menakutkan sekali.


Dalam hati Wisana, pantas saja dia jadi bertambah sangat kuat saat ini, karena ternyata Asoka memberinya energi yang di hisapnya dari para pendekar.


Jelas kini di mata Wisana mengapa Asoka sangat menginginkan Dewa, tentunya hal ini merupakan hal yang baik bagi Wisana yang kini telah mengerti ilmu Asoka. Dewa mati kering, jelas tentunya sangat bagus bagi Wisana.


"Cih, Dewa kau akan mati tragis sekarang ini." Wisana tertawa seakan-akan sudah pasti Dewa akan terbunuh oleh mereka berdua.


Keributan besar segera terjadi, puluhan prajurit penjaga tersisa dari belakang rumah yang berdatangan dengan sigap dan cepat mengepung Asoka.

__ADS_1


Tanpa ampun Asoka segera berpesta menghisap semua energi prajurit Diro yang malang, jelas saja mereka bukan tandingan Asoka.


Mayat kering para prajurit yang di bunuh Asoka bergelimpangan di halaman rumah Diro. Tetapi Dewa, Diro dan anak-anaknya belum kelihatan satu pun batang hidungnya. di hadapan Asoka dan Wisana.


“Belum ada energi besar,” Asoka tampak sangat kecewa. dia tau keluarga Diro setidaknya memiliki energi besar yang lumayan. Selain itu target utama dia jelas memiliki energi yang sangat besar.


"Biar kuperiksa kedalam." kata Wisana, dia kemudian berjalan melewati setiap ruangan, hanya ada pelayan rumah Diro yang bersembunyi ketakutan. Asoka kini juga sudah membunuh semua prajurit penjaga rumah Diro yang tersisa.


Wisana kemudian sangat kesal, karena tidak menemukan satupun orang yang dicarinya.


Dengan cepat mencengkram seorang pelayan wanita yang dengan sia-sia berusaha lari. tampak pelayan itu menangis ketakutan, di kenali Wisana sebagai pelayan pribadi Lina.


“Kemana Lina?” suara serak kasar dan bau mulut pula, berkata sangat dekat dengan wajah pelayan Lina yang sedang menangis itu.


Tidak ada jawaban karena kini pelayan itu justru pingsan, entah karena tampang yang mengerikan atau bau mulut Wisana.


Wisana kemudian membuang tubuh pelayan itu begitu saja ke lantai. seperti membuang benda tak terpakai. Pelayan wanita itu jatuh berguling-guling di lantai keras. setidaknya beruntung masih bernyawa.


Di tatapnya berapa pelayan pria dan wanita, yang semua tampak ketakutan di hadapannya.


“Berengsek!” Wisana menatap nanar.


“Tidak ada yang berguna disini,” Asoka datang, dalam sekejap sudah saja di belakang Wisana. dia juga sudah bergerak keliling. Pelayan-pelayan ini tidak memiliki energi tenaga dalam untuk di hisapnya.


“Tampaknya mereka semua sedang tidak dirumah.” Wisana kini menatap kecewa, sambil melirik ke Asoka yang berada di belakangnya.


"kita pergi dulu, nanti kita cari kemana mereka."


Karena tidak mendapatkan yang mereka mau, keduanya dengan perasan kecewa segera saja melesat keluar rumah Diro.

__ADS_1


kali ini di pimpin Asoka yang bergerak duluan di depan dengan di ikuti oleh Wisana di belakangnya.


Pergerakan mereka berdua sangat cepat. Tidak lama mereka sudah keluar dari kota perbatasan, entah apa yang mereka rencanakan.


__ADS_2