
Elang merah yang telah bangkit kembali dari terlempar dan terjatuh yang memalukan, memandang nanar ke arah Dewa, tidak mempercayai yang barusan terjadi ke dirinya.
Kupingnya dan hidungnya mengeluarkan darah segar, tidak banyak tetapi dia merasakan badannya lemas seperti habis di hantam gelombang besar.
Disadari Elang Merah sekarang ini, jika anak buahnya hampir seluruhnya terkapar pingsan di tanah, hanya dengan suara teriakan.
Dewa di hadapannya menyeringai menakutkan, kata Dewa, "menyerah atau menyusul Gagak hitam kugantung kau di pohon."
Elang merah juga memiliki jurus yang sama dengan kakaknya Gagak hitam, Wajahnya berubah sangat ketakutan sekarang ini karena apa yang telah di perbuat Dewa terhadap dia barusan ini.
Segala kepercayaan dirinya sirna tak berbekas, berakhir sudah dia sekarang ini. Seharusnya dia tidak mencari monster ini, dia tetap berjaya jika tidak bertemu orang bernana Dewa ini.
"aku menyerah..." kalimat pendek menahan malu keluar dari mulut Elang merah, dia belum mau menyusul kakaknya Gagak hitam.
Ranto berkeringat banyak karena dia merasakan kengerian yang luar biasa dari tenaga dalam Dewa, tidak mempercayai jika murid dia Dewa bisa sesakti ini.
__ADS_1
Disadarinya jika Dewa yang di lawannya tadi menyembunyikan kekuatan yang tidak masuk akal, yang kini di lihatnya dengan mata kepala sendiri.
Yang jelas tampak biasa saja tidak kaget, cuma Ratih dan kedua pengawalnya. Mereka bertiga tau sehebat apa Dewa itu.
"Sebentar lagi kalian sadar. kalian ikuti aku ke barak militer yang sudah tidak jauh dari sini." Dewa berkata ke Elang merah.
Elang merah mengangguk, sekarang dia tidak akan berani macam-macam lagi dengan orang bernama Dewa ini. Selain itu kondisi dia langsung lemah sekarang ini, setidaknya setengah tenaga dalam dia musnah.
Menunggu cukup lama karena anak buah Gagak merah cukup lama pulih, awalnya waktu sadar mereka masih seperti orang ling lung.
Tidak sampai sepuluh orang yang berilmu sekitaran Gagak merah saja yang masih ada cukup kuat, tetapi mereka tidak ada yang berani lagi melarikan diri.
"nama kamu siapa?" Dewa memandang ke Elang merah, jelas dia bertanya nama aslinya.
"Artoso tuan Dewa," ternyata nama asli Elang merah Artoso.
__ADS_1
"Baiklah Artoso, sekarang kamu ajak rekan-rekanmu mengikutiku." Drwa merasa sudah waktunya mereka ini melanjutkan perjalanan karena hari sudah mulai siang.
Segera saja rombongan ini, kini dipimpin oleh Dewa di depan, berjalan santai menuju barak militer markas besar Diro.
"Prabu Dewa, kamu itu sekuat apa?" Ranto yang berkuda di sebelah Dewa bertanya aneh.
"Cukup kuat," Dewa jelasĀ tampak sulit menjelaskan dengan kata-kata,, yang jelas dia cukup tau dirinya itu sangat kuat.
Sementara Ratih di sebelah sisi satunya lagi, memandang Dewa dengan sangat terpesona, Dewa ini lelaki yang sangat gagah di mata dia sekarang ini.
Apakah Dewa akan serius melawan dunia ini dengan akan menjadikan dirinya permaisuri, tetapi yang penting buat Ratih ini Dewa berada di sisi dia.
Seharusnya, jika Dewa juga mencintai perempuan bernama Linawati Jayadi itu, tampak jelas lebih cocok jadi permaisuri pengganti Nira. Lina itu bangsawan ningrat, dia memenuhi syarat untuk menjabat jadi permaisuri.
Soal Nira diturunkan, Itu si terlalu gampang di tebak oleh Ratih melihat hubungan buruk Dewa dan Nira, tetapi dirinya sebagai pengganti Nira, sungguh itu tidak pernah dipikirkannya, bakan dalam khayalan dia pun sama sekali tidak pernah.
__ADS_1