Dewa Pendekar

Dewa Pendekar
Kaget


__ADS_3

Dewa saat ini telah duduk di kursi utama pendopo barak militer, sedang Ratih duduk di sebelahnya.


Jenderal Diro serta para jenderal muda  dan kesemua anaknya Diro duduk bersimpuh di lantai, termasuk juga Ranto.


Diro dan keluarganya, tidak berani menatap Dewa, dia juga tidak berani membahas apapun soal Dewa yang menyamar di rumahnya.


Tetapi Diro Jayadi dalam hatinya bersuka ria, karena ternyata anaknya menikah dengan prabu Dewa Putra, ini sangat membanggakan dirinya. Status keluarganya akan meningkat dratis.


Tidak menutup kemungkinan Diro Jayadi bisa menjadi Jenderal besar di pusat, di ibu kota kerajaan Dwipa sekarang ini.


Lina mencoba curi-curi pandang ke Dewa, astaga dia menikah dengan raja negeri ini. Dia bahkan selalu kasar kepada Dewa.


"Lina kamu duduk sebelah Ratih," Dewa menyeringai melihat Lina yang ketakutan sekarang ini. Lina segera berdiri dan berpindah duduk di sebelah Ratih. Lina tidak tau Ratih tapi jelas cuma dia perempuan yang ada disini.

__ADS_1


Lina langsung menerka dia posisinya di bawah Ratih karena duduk tidak langsung di sebelah Dewa.


Ratih memandang Lina tidak suka, perempuan ini sudah punya kekasih sebelum menikah dengan Dewa.


Sudah ketebak oleh Ratih, jika Dewa pasti belum pernah menyentuh Lina, Dewa tidak suka wanita yang tidak mau dengan dirinya.


"dimana bisa tes kesucian wanita?" Ratih tampak bertanya langsung ke Diro Jayadi. sudah jelas jika dia mau tes keperawanan Lina ini, Dewa tidak boleh sampai memilki barang bekas, perempuan tidak perawan.


"di kota ada gusti ayu." Diro menjawab dengan sopan, di kota tentunya banyak dukun yang bisa tes keperawaanan wanita.


Diro jelas tau juga Lina dan Dewa belum pernah berhubungan, tetapi dia juga ada was-was jika anaknya jangan-jangan pernah berhubungan dengan Wisana.


Bisa rusak semua harapan dia untuk naik ke ibu kota, menjadi jenderal besar. Semoga saja Lina anaknya tidak melakukan hal bodoh tercela tersebut pikir Diro kawatir.

__ADS_1


"Sudah itu, nanti  itu gampang Ratih," Dewa tampak tidak mau melanjutkan pembahasan soal Lina.


"itu Elang merah dan anak buahnya masukan ke tahanan, tadi di perjalanan kami menangkap mereka." Ranto berkata ke arah Jaya, Jaya terkesiap kaget.


Elang merah adik Gagak hitam dan ratusan anak buahnya di tangkap di jalan? bagaimana bisa? pasti ulah prabu Dewa Putra pikir Jaya.


Jaya segera berdiri, segera memberi tanda ke pasukan di lapangan. tidak pakai lama Jaya di ikuti cukup banyak pasukan menghampiri Elang merah yang masi berdiri dimana terakhir dia ikut rombongan Dewa datang.


Elang merah tidak mempercayai jika Dewa yang mau ringkus tadi adalah raja kerajaan Dwipa. Sudah jadi buah bibir jika keluarga kerajaan sangat sakti, tetapi ternyata kesaktian Dewa ini di luar nalar dia.


Segera saja Elang marah dan semua bawahan dia di giring oleh Jaya dan dimasukan ke tahanan, tampak berdesak-desakan, karena tidak siap menampung orang sebanyak itu.


Orang-orang buas tidak beradab ini menurut saja seperti kerbau di cocok hidungnya, sekarang Jaya sungguh tidak mengerti ,mereka ini diapakan oleh Dewa?

__ADS_1


__ADS_2