
Rombongan Jenderal Diro kini memacu kuda mereka kembali dengan cepat untuk segera kembali ke barak, Jelas untuk kali ini, Diro berkuda paling depan memimpin rombongan kecil ini di ikuti oleh Ranto di sebelahnya.
"Tuan Diro kita harus mengirim kurir ke ketua dunia persilatan," Ranto berteriak ke Diro, dia merasa harus memanggil para pendekar untuk membereskan masalah Asoka.
"Usulmu bagus ki Ranto, kita perlu banyak pendekar sakti." Diro jelas setuju, dia juga berteriak dari atas kudanya.
Akhirnya Diro angkat mengangkat tangan sebagai tanda menyuruh semua untuk berhenti, rombongan kecil ini berhenti di pinggiran kota.
"Ada yang punya daun lontar?" Diro memandang ke arah anak buahnya, berharap ada yang punya lembaran lontar kering untuk dibuatkan surat.
Semua berpandangan, tidak ada yang memiliki daun lontar kering, jelas saja tidak ada karena lembaran lontar kering cukup mahal dan untuk apa pendekar membawa lembaran lontar.
"Itu ada kedai," seorang pasukan kalajengking menunjuk kedai tuak, tempat yang dulu Wisana nyaris membunuh Ratih.
"Ayo kita kesana," Diro kemudian mendekati kedai arak yang terlihat sepi itu, hari masih sore jelas saja belum ramai, atau memang sepi terus karena terletak di pinggir kota.
__ADS_1
Diro di ikuti Ranto segera menambatkan tali kuda, mereka berdua berjalan masuk ke kedai.
Pemilik kedai melihat Diro jelas langsung mengenali, katanya."Tuan Diro selamat datang, silakan duduk."
Tetapi jelas jika Diro bukan hendak menikmati arak saat ini, segera langsung menyampaikan tujuan dia,
"ki apa punya daun lontar, kami tidak hendak minum tetapi sedang terburu-buru." Diro langsung menjelaskan tujuan dia.
Pemilik kedai arak jelas terlihat kecewa, tetapi dia mencoba mengingat apakah dia mempunyai daun lontar kosong.
Diro dan Ranto berpandangan, karena tidak menemukan daun lontar kosong mereka harusnya segera kembali ke barak saja, membuat surat dari sana untuk ketua dunia persilatan.
Diro hendak berbalik badan kembali ke kudanya ketika ada seorang tamu di kedai itu yang menyapa dia.
"Ayahanda Diro mari minum dulu," seorang pemuda buruk rupa memanggil Diro dengan sebutan Ayahanda, Memang biasa dulu dia ini biasa memanggil Diro dengan sebutan Ayah, karena pemuda buruk rupa ini adalah Wisana.
__ADS_1
Diro melihat ke pemuda yang memanggil dia ayah, mengkernyitkan dahi karena tidak merasa mengenalnya. Sekilas suaranya jelas mirip Wisana tetapi agak lebih serak,
"Kamu tidak mengenaliku?" Wisana terkekeh, Dia masih tidak menyadari juga jika sekarang dia sangat jelek buruk rupa.
Diro dan Ranto memandang jijik ke arah Wisana, kata Ranto kemudian," hei buruk rupa mabuk, jangan memanggil seorang Jenderal Diro dengan tidak sopan. mau kuhajar kamu."
Wisana mendengus marah, katanya kemudian." aki aki lemah kebanyakan omong!"
Ranto jelas marah sekali di bilang seperti itu, Dia bergerak cepat menyerang langsung dengan tinju kanan, terarah ke muka Wisana, Serangan ini jika kena orang biasa pasti berdampak fatal.
Wisana menangkap tangan Ranto dengan tangan kanannya dengan gampang sekali, Ranto diibuatnya kaget, sekarang berusaha menarik tangan dia untuk melepaskan dirinya dari cengkraman kuat Wisana, tetapi tidak bisa lepas, ternyata pemuda jelek ini kuat sekali pikir Ranto kaget.
Ranto kali ini kembali menyerang dengan tangan kirinya, serangan ini jelas mematikan karena dengan jurus tapak api miliknya.
Tetapi Wisana tampak tersenyum menghina, dengan sekali hentak, melempar Ranto dengan kuat, Segera saja Ranto melayang keluar, menembus dinding kayu kedai arak dan terjatuh di tanah berdebu di depan kedai.
__ADS_1