Dewa Pendekar

Dewa Pendekar
Nira bergerak


__ADS_3

Di ibu kota kerajaan Dwipa, sekarang ini terdapat kesibukan luar biasa, khususnya di daerah sekitar istana,


Tampak pasukan bersenjata lengkap, setidaknya berjumlah seribu prajurit, sedang bersiap bergerak menunggu perintah.


Semua kesibukan ini, dikarenakan ibu suri akan berpergian, dia akan bergerak meninggalakan ibu kota.


Ibu Suri kerajaan Dwipa yang bernama Ayu Ardhani, setidaknya sekarang ini menginjak usia empat puluh tahunan. tetapi kecantikannya masih sangat memukau. berada dalam level yang berbeda dengan kebanyakan wanita cantik lainnya, dia adalah ibu kandung dari prabu Dewa Putra.


Ayu Ardhani selain cantik dia juga pintar dan tentunya sangat kejam, nasib orang yang membenci dan menjadi lawan dia, di jamin akan menyesal pernah di lahirkan ke dunia.


Sekarang ini Ibu suri terlihat keluar dari istana, berjalan menuju kereta kencana miliknya, berapa orang dayang-dayang mengiringinya dengan payung kain dan penuh hormat dan takut, berusaha memberi pelayanan terbaik.


Jika saja berbuat kesalahan, mereka bisa bernasib sangat buruk, dari sekedar di hukum cambuk atau bahkan hingga dibunuh, oleh sebab kesalahan kecil saja bisa bernasib menggenaskan.

__ADS_1


"Gusti ratu, kita hendak kemana?" seorang pemuda tampan dengan pakaian perang emas, bertanya dengan hormat kepada Ibu Suri, dia adalah Ganendra kakak dari Wisana. Jenderal muda dan juga merupakan kepala pengawal istana.


"Kita akan ke kota perbatasan Purwadi," kata Ibu Suri, dia berhenti sesaat memberi tau Ganendra.


"Untuk apa kita ke sana Gusti Ratu?" jelas saja Ganendra sekarang tampak bingung, untuk apa ibu suri hendak ke kota perbatasan, tidak ada yang bagus disana.


"Dewa disana, informasi kuterima dari Jaka." rupanya Jaka ternyata diam-diam telah mengirim orang ke ibu kota, sehingga berita soal Dewa sudah di ketemukan, di kota perbatasan Purwadi telah diketaui oleh Ibu Suri, sudah berhari-hari yang lalu, kurir yang dikirim Jaka telah berangkat dan menemui Ibu Suri.


kemudian Ibu Suri tidak sudi menunggu lebih lama lagi, segera langsung menaiki kereta kencananya.


Tidak berlama-lama, rombongan ibu suri ini kemudian bergerak menuju Purwadi, begitu rombongan ini keluar dari ibu kota, di sana sudah menunggu lima ribu prajurit lagi.


Sementara itu ,di atas sebuah menara kota, ada sepasang mata indah, yang mengamati kepergian dari Ibu Suri kerajaan Dwipa Ayu Ardhani, pemilik sepasang mata indah ini, adalah Nira, permasuri kerajaan Dwipa.

__ADS_1


"Tuan puteri, sudah waktunya bagi kita untuk bergerak untuk menguasai ibu kota?" dayang Nira, yang ada di sebelah Nira, bertanya sambil melirik ke arah Nira, memastikan apakah Nira sudah mau begerak memberontak di tengah kesempatan prabu Dewa dan Ibu Suri, yang sedang pergi sekarang ini.


"ya kita akan menguasai ibu kota." Nira tertawa seakan-akan dia telah menguasai ibu kota kerajaan Dwipa.


Nira kemudian berjalan turun dari menara pengawas, di ikuti dayang dia tadi.


"tuan puteri setidaknya kita butuh dua hari untuk mengumpulkan pasukan kita,"


"Tidak masalah Zia, waktu kita akan lebih dari cukup," Nira masih dengan senyum lebar, penuh kemenangan.


Setidaknya dia sudah menunggu sangat lama, butuh tahunan untuk persiapan memberontak dan bergerak menguasai ibu kota. Akhirnya sekarang ini, kesempatan yang ditunggunya terbuka lebar.


Yang bernama Zia dayang dari Nira  itu mengangguk, segera dia tidak banyak bertanya lagi.

__ADS_1


Nira kemudian di ikuti Zia bergerak dengan ilmu meringankan tubuh, segera keluar melesat, pergi dengan cepat dari istana untuk berkordinasi mengatur pemberontakan mereka.


Pergerakan tubuh meringankan tubuh Nira dan Zia jelas hebat, Setidaknya lebih hebat dari Wisana atau Gagak hitam sekalipun.


__ADS_2