Dewa Pendekar

Dewa Pendekar
Sifat asli Lina


__ADS_3

Setelah kabar tidak terduga, Asoka telah berani menyerang rumah jendera Diro Jayadi, saat ini Dewa bersama jenderal Diro dan Ranto langsung berkuda kembali ke kota, mereka terburu-buru segera menuju ke rumah Diro.


Kesaktian Dewa tanpa tanding, tetapi tetap mendapatkan pengawalan dari pasukan elit kalajengking, setidaknya sekitar dua puluh orang pasukan kalajengking ikut bergerak.


Dewa saat ini mengendarai kuda berwarna merah, terlihat gagah, itu adalah kuda terbaik di barak militer jenderal Diro, sehari-hari Diro tidak pernah menaikinya, hanya untuk tugas resmi. Kuda terbaik jelas cocok untuk raja.


Kuda itu jelas kencang, saat ini di pacu dengan maksimal oleh Dewa, akibatnya kuda lainnya tertinggal semua, di belakang terpisahkan sekitar lima puluh langkah, Diro dan Ranto serta kedua puluh pasukan Kalajengking juga memacu kudanya, berusaha mengimbagi kuda yang di tunggangi Dewa.


Dewa bergegas mencari Asoka, karena saat ini Dewa, sebagai raja negeri Dwipa harus menghukum orang seperti Asoka ini, tidak dapat dibiarkan hidup.


.

__ADS_1


Sementara itu di barak militer, Jaya kakak Lina justru mendapatkan tugas khusus menjaga keselamatan dari Ratih dan adiknya sendiri Linawati, disebabkan pastinya adalah karena mereka ini, istri prabu Dewa, Ratih sebenarnya bukan istri tetapi tentunya setelah Dewa bilang akan menjadikan permaisuri, semua berangapan dia itu istri prabu Dewa.


Di salah satu kamar tampak Lina duduk di sebuah kursi dari bambu, sedang Ratih diseberang Lina menatapnya lekat-lekat penuh selidik memandang dari ujung kaki sampai kepala.


Lina memilik bola mata yang besar dan bulu mata yang lentik. bisa dibilang termasuk langsing, cukup tinggi, selain itu semua tentunya cantik


Karena ini pilihan Dewa sendiri. sekarang ini Ratih jelas berpikir apakah selera Dewa seperti ini, dirinya tidak pendek, tetapi cuma sekuping Lina.


Ratih berisi, tidak bisa di bilang gemuk juga si tetapi jika di banding Lina jelas dia cukup gemuk, dia harus mengurangi makan, ternyata Dewa menyukai yang langsing pikirnya..


"Tentu saja aku perawan kak Ratih." Lina sungguh dalam hatinya ingin segera meraih pedang dan mencabik Ratih, tidak berani dilakukannya tentunya.

__ADS_1


"Wisana tidak pernah ngajak?" Ratih tetap curiga, matanya memandang Lina tidak berkedip, jelas dia tidak percaya mulut seorang yang baru dikenalnya ini.


"Maaf kak Ratih, aku bisa menjaga diriku." Lina berkata mulai agak sengit, mukanya jelas mulai mengeras sekarang ini, jelas saja dia makin tidak dapat menahan dirinya untuk bersikap manis, kenapa juga Ratih mengusik dia pikir Lina.


"Segera kamu harus tes keperawanan, aku tidak bisa membiarkan prabu Dewa mendapatkan yang sudah bekas." Ratih jelas tetap tidak mempercayai Lina, dia memang selalu mau yang terbaik untuk Dewa dan mengikuti persyaratan istana untuk istri dan selir Raja.


"Kamu itu ibu, kakak atau pengasuh prabu Dewa si? Jelas kalau kamu istri prabu Dewa juga, tentunya kamu harusnya urus dirimu sendiri," Lina berkata dengan geram, berbicara dengan tidak enak, akhirnya sekarang Lina telah lepas kontrol, bagi Lina siapa Ratih jelas masih misterius, tetapi dia tadi mendengar jika Ratih akan di angkat jadi permaisuri, berarti Ratih ini istri Dewa juga.


Ratih terkejut ternyata aslinya Lina seperti ini, galak dan berani melawan balik, ya memang di lain sisi Ratih juga menyadari sikap dia seperti bukan sikap seorang istri Dewa saja.


"Aku tidak mau tau, pokoknya kamu harus tes keperawanan, jika tidak jangan harap kamu bisa menyentuh Dewa. itu hukum yang berlaku di istana." tetapi Ratih tetap pada pendirian dia, Jika Lina harus membuktikan keperawanannya, Ratih kemudian berdiri menegaskan dia serius

__ADS_1


"Baik aku bersedia Ratih, jelas saya aku ini perawan." Lina berkata dengan nada masih tinggi, melihat Ratih tetap dengan pendiriannya, akhirnya dia terpaksa memilih untuk mengalah saja, dasar perempuan tidak jelas gerutu Lina dalam hatinya.


Tetapi jelas sekarang ini, kedua perempuan ini sudah ada jarak dan saling tidak menyukai. Lina sudah berani menyebut nama Ratih langsung, tidak menjaga sopan santun seperti sebelumnya yang di perlihatkanya di awal pertemuan mereka.


__ADS_2