
Di jalan memanjang yang menanjak menuju barak pasukan perbatasa Diro itu, rombongan Dewa berjalan pelan, penyebabnya jelas karena tawanan mereka anak buah Elang merah sedang dalam kondisi yang lemah akibat tadi terkena jurus suara tenaga dalam Dewa,
Dewa sekarang ini mengendarai kudanya di barisan paling depan, matanya menatap puluhan ribu prajurit yang sedang berbaris rapi dari kejauhan. Sekarang sudah waktunya dia mengungkapkan jati dirinya, untuk pertama kali ke orang banyak.
Dia lakukan hal penting ini, tidak di ibu kota negara, justru di kota perbatasan, daerah yang justru terpinggirkan dan terlupakan.
Jenderal Diro memicingkan matanya melihat Dewa dan rombongannya ketika sudah cukup dekat, rombongan Dewa ini lebih mirip penjahat dari pada pengawal raja pikirnya, sungguh aneh sekali.
"Dewa?" leher Diro tercekat, ternyata yang datang ini menantu dia Dewa, sudah rapi dengan baju bagus tetapi dia masih mengenalinya.
Mereka semua berpandangan, pikiran keluarga Diro jadi kalut, Lina malah mematung melihat suaminya Dewa itu, yang kini datang dan mengaku sebagai prabu Dewa putra, bingung heran, kenapa justru Dewa si gembel yang kini datang?
Dewa turun dari kudanya, di ikuti segera oleh rombongan dia. Diro dengan terpaksa maju dan menatap menantu dia Dewa.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak memberi hormat kepada prabu Dewa putra?" Ranto langsung menghardik Diro karena hanya terdiam berdiri di hadapan Dewa.
Lina di dekat Diro ayahnya menatap Dewa tidak percaya, sungguhan ini Dewa, si gembel yang juga merupakan suami dia.
Sedang Ratih yang berdiri tepat di sebelah Dewa, mengamati Lina dari ujung kepala hingga ujung kaki, Ini orang yang di pilih sendiri dan di cintai Dewa? rasa tidak suka serta cemburu muncul di hati Ratih, wanita cantik ini di dengarnya suka menghina Dewa.
"Sebentar, kita semua harus memastikan identitas prabu Dewa." Jaya penuh curiga, tetapi dia berkata dengan hormat dan sopan tidak seperti biasanya ke Dewa.
Waktu Jaka bertemu Diro tentu saja Dewa telah berpesan, untuk disampaikan ke Diro. Tidak lain tidak bukan untuk mengambil keris kawiswara dari tempat penyimpanannya dan membawa ke barak hari ini.
Saat ini yang terlihat sangat tidak sabar dan marah, jelas ini pasti Ranto, di menatap dengan mata berapi-api kepada Diro dan orang-orangnya yang berdiri saja terus, tidak bersujud juga dari tadi setelah sekian lama.
Kemarahan Ranto karena tau ini adalah prabu Dewa putra asli.
__ADS_1
Semua jenderal muda dan pasukannya sekarang ini, setidaknya ada rasa was-was di hati mereka sekarang, kabarnya yang datang hari ini adalah prabu Dewa Putra, tetapi rombongan dewa lebih mirip rombongan penyamun di mata prajurit Diro.
Diro jelas tidak mau berlama-lama lagi dalam kekalutan ini. Dia menodorkan keris Kawiswara dengan kedua tangan dia ke Dewa.
Dewa menatap keris itu, diambilnya keris itu dengan tangan kanannya.
Tidak serta merta, batu pusaka langsung berubah merah. Diro dan kesemua mata menatap keris itu dengan tidak bersuara.
Dewa mengangkat keris itu, Sekarang batu crystal mulai berubah warna dan kemudian bersinar merah.
Serentak saat itu juga Jenderal Diro Jayadi, semua anaknya dan pasukannya bersujud hingga kepalanya ke tanah.
"hormat kepada prabu Dewa putra, kami setia sepenuhnya."
__ADS_1