
Setelah uji tarung antara Dewa dan Ranto yang melelahkan, terutama jelas buat Ranto karena dia mengerahkan segenap kemampuan dirinya.
Mereka semua duduk beristirahat di batu besar sekitar lapangan itu, Dewa bersantai bersama Ratih agak jauh dari yang lain.
"Dewa kenapa kamu bicara begitu?" Ratih berbicara setengah berbisik Dewa, dia tampak protes dengan perkataan Dewa hendak menjadikan dirinya permaisuri.
Dewa tidak berkata apapun, hanya menatap Ratih dengan mesra. Ratih dibuatnya salah tingkah dengan sikap Dewa.
"Dewa, aku serius." Ratih jelas tampak mulai ngerajuk.
"Pilihanmu ada dua Ratih, pertama kita menikah berdua saja dan hidup ke kota kecil..."
Ratih terdiam sekarang, dia menghela nafas mendengar niat Dewa.
"Tapi gak berdua, kan ada Lina..." Dewa tersenyum nakal.
Justru Ratih tampak keberatan, dia tidak kepingin ada Lina di sisi Dewa.
"Jadi kamu mau kita berdua saja?"Dewa tertawa melihat Ratih tampak tidak suka Lina mau di ajak, dipikir Dewa jika Ratih kini sedang cemburu ke Lina.
__ADS_1
"Bu..kkaann begitu Dewaaaa..." Ratih menyadari tatapan Dewa ke dia, yang mencoba membaca pikiran dirinya itu.
"Terus maumu apa?"
"Kita pulang ke istana, kamu ini seorang raja." Ratih berkata dengan tatapan tajam ke Dewa, Dia harus meyakinkan untuk memaksa Dewa kembali ke istana dia dan memimpin negara ini.
Soal Lina? dia tau Dewa punya banyak perempuan, tidak berani berharap macam-macam jika dia sampai beneran nanti jadi wanita Dewa, tetapi dia tidak suka Lina karena berani bersikap jahat ke Dewa.
"Itu berarti pilihan kedua, kamu menggantikan Nira jadi permaisuriku." Dewa menyeringai kecil ketika mengatakan ini, Ibunya tidak akan dapat menghalangi dia kali ini.
"Dewa, kamu tau itu akan menjadi masalah serius?" jelas ratih ini sangat takut dengan ibu suri, selain itu dia hanya rakyat jelata saja. Mukanya tampak ketakutan.
"Aku raja negeri ini, statusmu begitu jadi permaisuri siapa berani mengganggu..."
"Kamu mau mengumpulkan semua keluarga Jendera Diro untuk apa Dewa?" Ratih sudah pasrah dengan niat Dewa atas dia, sekarang dia bingung dengan Dewa yang mengumpulkan kelurga jenderal Diro di barak militer.
"Sudah waktunya aku menunjukan ke dunia ini siapa prabu Dewa putra..."
"tetapi Dewa, apa mereka percaya? hanya bermodalkan plakat prajurit ibu suri?" Ratih merasa niat ini akan menghadapi masalah karena tidak ada yang tau wajah prabu Dewa di perbatasan ini.
__ADS_1
Paling cuma Ranto saksi Dewa, tetapi itu kurang menjadi bukti kuat karena tidak ada yang tau juga Ranto pernah jadi guru Dewa.
Sedang jika Dewa kembali ke istana maka legitimasi dia siapa, tidak akan terbantahkan.
Dalam hatinya Ratih tampak berpikir, tentunya Dewa aman saja jika tidak di percaya juga, siapa yang bisa menyentuh dia ini.
Tetapi jika di anggap penipu, mereka ini akan diserang tiga puluh ribu prajurit, itumemakan banyak korban tidak perlu.
"Aduh Ratih kamu ini tenang saja, nanti akan ada pertunjukan keren." Dewa mengerti pikiran Ratih, tetapi Dewa sangat yakin dan percaya diri dia tidak akan menghadapi masalah, tampak jelas Dewa sudah punya rencana.
Ranto sekarang sudah merasa cukup segar, dia menghampiri Dewa, katanya."prabu Dewa, kita sudah siap berangkat."
Dewa mengangguk kecil dan segera berdiri, Dewa kemudian berjalan menuju kudanya, diikuti oleh Ratih dibelakang dia.
Rombongan Dewa ini kemudian hendak melanjutkan perjalanan ke barak militer.
Tetapi Dewa tidak jadi segera memacu kudanya, Dia menengok kebelakang, Dewa bisa merasakan ada musuh yang sedang mendekat ke arah mereka.
Kenapa musuh? karena Dewa bisa merasakan niat membunuh yang kuat, dari orang yang mendekat dengan cepat ke rombongan mereka ini.
__ADS_1
"Sebentar semua, ada yang datang, mereka musuh." Dewa memutar kudanya ke arah belakang, Mendengar kata ada musuh, semua segera bersiap menyambut orang yang akan datang ini.
Sekarang Ranto juga sudah dapat merasakannya, hawa pembunuh yang datang mendekat, segera di hunusnya pedang pusaka miliknya.