Dewa Pendekar

Dewa Pendekar
Tidak mengerti


__ADS_3

Dewa kini telah kehilangan selera makan dia, karena Ratih secara tidak sengaja, ketika menyentuh keris pusaka Kawiswara, membuatnya bersinar indah,


Sinarnya jelas tampak berbeda dengan ketika Dewa memegangnya, sinar keris itu berwarna kuning emas ketika di tangan Ratih, sekarang ratih telah meletakan keris itu di sebuah meja tidak jauh dari meja untuk makan.


Ratih terlihat bingung sekali, matanya menatap Dewa, tatapan penuh pertanyaan yang jelas tidak dapat di jawab juga oleh Dewa.


"Gusti prabu silakan di makan..." Diro berusaha mencairkan suasana yang beku cukup lama ini dengan mengajak makan Dewa.


Dewa menggenggam tangan Ratih yang masih tertegun, Tetapi Ratih menarik tangannya melepaskan dari pegangan Dewa.


Ratih sekarang ini jadi takut, jangan-jangan jika dia ini masih saudara dari Dewa, dia tidak tau masa lalunya, untung belum pernah terjadi sesuatu dengan Dewa, jika tidak nanti nama Dewa bisa tercemar pikir Ratih.


"Sudah Ratih, kalo kita saudara pasti sinarnya merah." Dewa membelai rambut Ratih seakan mengetaui pikiran Ratih yang ketakutan.


"Kak Ratih, jangan berpikir macam-macam, silakan makan dulu bersama Gusti prabu, kalian sudah pasti sangat lapar," Lina akhirnya bersuara lembut, berusaha tersenyum manis ke arah Ratih dan Dewa.

__ADS_1


Dewa yang tidak pernah melihat istrinya ini Lina berkata manis menyeringai kecil, kali ini Lina sudah pasti tidak akan berani lagi dengan dia.


Melihat Dewa memandang dirinya lekat-lekat, Lina memalingkan wajahnya, dia kini takut dengan Dewa, perubahan cepat situasi, yang sangat tidak terduga ini dan pasti kali ini dia harus merelakan dirinya ke dalam pelukan Dewa.


Cinta Lina ke Wisana belumlah memudar, tetapi sudah tidak dapat menengok ke belakang lagi, kali ini dia pasti menjadi milik prabu Dewa.


Dari pintu masuk, tampak datang berapa pelayan rumah Diro, mereka bergegas ke barak ini mencari Diro.


"Tuan Jenderal Diro rumah diserang, semua penajga terbunuh," seorang dari pelayan itu membuka suaranya, melaporkan yang terjadi di rumah Diro.


"Diserang? siapa menyerang kita?" Diro terkejut, dia memandang ke arah Dewa, pasti mencari prabu Dewa yakin Diro.


Mendengar Dewa di panggil nama saja, dua penjaga dari pasukan elit kalajengking tiba-tiba bergerak cepat hendak memenggal pelayan tidak tau sopan santun itu, menurut mereka berdua, pedang mereka dengan cepat mengarah ke leher pelayan. Pasti pelayan ini akan kehilangan kepala sekarang.


Tetapi lebih cepat lagi gerakan Dewa, dia menahan dua pedang yang mengarah ke leher pelayan itu hanya dengan tangannya saja.

__ADS_1


"Tranggg!!!!" pedang itu berbunyi seperti memukul baja.


Seketika kedua prajurit langsung berlutut di depan Dewa karena kaget melihat reaksi Dewa menyelamatkan pelayan itu.


"Jangan main bunuh sembarangan, dia tidak tau jika aku ini prabu Dewa Putra." Dewa menatap marah kepada kedua prajurit, tetapi dia tidak menghukum mereka.


Jelas semua di sana kagum dengan kecepatan Dewa, banyak dari mereka, seperti Ratih, Jaka dan Jarwo, sudah sering melihat kemampuan Dewa, tetapi seperti tidak bosan-bosan ketika Dewa memperlihatkan kemampuannya di depan mereka..


"Ampun paduka raja, hamba berdua layak di hukum." kedua pasukan kelajengking berlutut hingga kepala mereka ke lantai.


pelayan itu masih kebingungan, tapi seakan melupakan kepalanya nyaris hilang dan tidak lekas menyadari juga siapa Dewa,"waduh Dewa kamu kenapa jadi cakep begini."


"Andik kamu jelaskan apa yang terjadi."


"Dua orang pemuda, satu ganteng sekali dan satunya jelek sekali. mereka mengobrak abrik rumah, semua penjaga mati kering." pelayan bernama Andik menjelaskan apa yang terjadi di rumah Diro.

__ADS_1


Mendengar itu Dewa dan Ranto berpandangan, kata Ranto sambil berdiri dari kursi dia ,"itu pasti Asoka."


"Asoka telah sempurna mempelajari jurus terlarang penghisap jiwa dari kitab gerbang neraka." Dewa mengatakannya dengan menghela nafas, tampaknya baru pertama kalihnya Dewa kuatir dengan kemampuan musuhnya.


__ADS_2