
Rumah Jenderal Diro Jayadi jelas tampak mengerikan sekarang ini, karena banyak mayat-mayat penjaga yang mati dibunuh Asoka tadi tersebar di banyak bagian rumahnya.
Dewa melihat mayat-mayat penjaga rumah Diro yang sudah kering kerontang seakan sudah meninggal lama sekali, di kemudian memeriksa salah satu mayat, dengan cara membolak baliknya.
Ranto kemudian berjelan mendekat, ke Dewa yang memeriksa mayat penjaga malang korban Asoka, katanya kemudian, mengingat dia pernah melihat hal yang sama. "Persis sama dengan nasib murid-murid Asoka di perguruan Elang, ini jelas Asoka, Gusti Prabu."
"Ya kau benar paman," Dewa menyetujui perkataan Ranto, dia tidak pernah melihat korban ilmu hitam gerbang neraka, tetapi jelas dia pernah mendengar dari salah satu gurunya tentang ilmu terlarang ini.
"Di pasti masih di sekitar kota ini," Ranto meyakini jika Asoka masih ada di sekitaran kota perbatasan, tetapi kecuali Dewa tidak cukup percaya diri untuk berhadapan dengan Asoka.
Diro menatap Dewa raja dia yang berada di hadapan dia, Semua disana tidak ada yang sehebat Dewa, sekarang ini cuma bisa berharap dengan kekuatan Dewa saja.
__ADS_1
"Kita seharusnya berpencar, tetapi sepertinya berbahaya gusti prabu," Diro jelas ingin mencari Asoka dengan membagi menjadi berapa kelompok, tetapi tidak akan memungkinkan.
Dewa tidak menjawabnya, tetapi Diro benar, dia tidak dapat membuat mereka jadi berapa kelompok pencari, terlalu berbahaya.
Tetapi jika mencari Asoka berkelompok jelas bukan pilihan yang baik, terlalu lama.
"Mengingat situasinya, kalian tidak usah ikut, biar aku saja." Dewa akhirnya memutuskan untuk mencari Asoka sendiri, anak buahnya ini hanya akan jadi korban Asoka saja.
Dewa menyadari jika Diro dan Ranto jelas kecewa, mereka ini merasa tidak ada gunanya bagi Dewa, sehingga dia memberinya tugas agar mereka merasa lebih baik, katanya kemudian."Kalian berdua sebaiknya kembali ke barak, ada tugas penting memastikan semua bersiap-siap, bisa saja Asoka sudah sangat kuat dan datang kesana."
"Baik Gusti Prabu," mereka berkata serempak, segera Ranto dan Diro berikut kedua puluh pasukan kalajengking kembali naik kudanya, kemudian semua segera memacunya kembali ke arah barak militer di luar kota.
__ADS_1
Kini hanya ada Dewa seorang diri disana, seorang pelayan perempuan yang dari tadi mengamati dari jauh, dia tadi tidak berani mendekat karena segan dengan jenderal Diro, melihat Diro telah pergi dia kemudian datang mendekat ke Dewa yang sekarang seorang diri, pelayan ini sama sekali belum tau jika Dewa adalah Raja.
"Aduh Dewa, mereka ini kejam, tetapi yang jelek kayaknya ... entah..." pelayan wanita itu tadi berada di dekat Wisana pada saat kejadian.
"Tini kamu mengenali salah satu dari kedua orang penyerang itu?" Dewa tampak tertarik dengan perkataan pelayan Diro ternyata bernama Tini itu.
"tapi aku tidak yakin, dia memakai kalung milik Wisana, tetapi mukanya jelek sekali, bentuk badannya memang mirip Wisana," Tini jelas curiga, sebabnya itu karena kalung yang biasa di pakai Wisana, berada di leher penyerang berwajah jelek.
Dewa terdiam, ada dua kemungkinan sekarang ini. Pertama jika Wisana terbunuh dan kedua Wisana jadi murid Asoka? tetapi aneh jika Asoka justru mengambil Wisana jadi muridnya, semua murid Asoka saja yang ribuan orang di bunuhnya sendiri.
Dewa kini lebih meyakini jika Wisana itu sudah terbunuh menjadi korban dari Asoka, malang juga nasib Wisana pikir Dewa, wanitanya di rebut dia dan terbunuh di tangan Asoka menjadi tumbal kekuatan iblis ilmu hitam gerbang neraka.
__ADS_1