Dewa Pendekar

Dewa Pendekar
Berkumpul


__ADS_3

Tampak sebuah perdepokan kecil yang tidak terlihat terawat, berada di luar ibu kota kerajaan Dwipa, jika berkuda cukup cepat sampai ke sini.


Di perdepokan ini tampak Nira duduk di sebuah kursi kayu jati, tetapi terlihat sudah reot, cukup masih kuat di duduki, apalagi cuma Nira yang tidak terlihat berat.


Di depan Nira saat ini banyak terlihat pria dan wanita yang duduk di kursi, yang terserak menghadap posisi Nira, setidaknya ada dua puluhan orang dengan kebanyakan pria dan beberapa wanita.


Jika dilihat, ada yang tampangnya menyeramkan seperti penjahat, ada pula yang menggenakan seragam prajurit kerajaan Dwipa.


Terlihat juga beberapa berpakain rapi dan berpenampilan yang terawat, sepertinya mereka ini pedagang dan kaum bangsawan, selain itu ada wanita cantik berpakain terbuka, mungkin seorang mucikari.


"Sudah waktunya kita merebut Dwipa."


Nira berkata demikian sebagai pembuka pertemuan ini, sambil menatap satu per satu pria dan wanita di depannya ini. Dia memastikan semua orang yang hadir memahami situasi yang dia inginkan.


"Akhirnya, aku sudah bosan menjadi perampok." seorang pria gempal, rambut acak-acakan dan baju hitam dekil dengan mata buta satu, jelas tampak sangat antusias.


"Putri Nira tetapi apakah kita mampu?" seorang pria dengan penampilan rapi, tetapi terdapat dua pedang kembar di punggungnya, jelas dia adalah pendekar, tampak meragukan niat Nira, dia terlihat gusar.

__ADS_1


"Mamut maksudmu apa?" pria gempal jelas tampak tidak suka, rasa pesimis yang di tunjukan rekannya itu.


"Balawa kita ini hanya punya satu kesempatan, jika salah kita kalah." yang disebut bernama Mamut ini tampaknya tidak mau asal menyerang.


"Mamut kamu jangan kuatir, aku telah mempersiapkan semua, tidak akan gagal." Nira berusaha menyudahi perdebatan kedua anak buahnya ini.


"Gagak hitam tidak terlihat," Nira mengganti bahasan, mempertanyakan Gagak hitam, yang ternyata adalah orang Nira.


"Dia terbunuh, di kota perbatasan." Mamut kembali bersuara menjelaskan kematian Gagak hitam.


"Bagaimana bisa?"seorang yang cukup tua, dia adalah pedagang yang biasa menampung barang jarahan Gagak hitam, dia cukup kaget dan baru mengetaui perihal Gagak hitam terbunuh.


"Sayang sekali, harusnya Elang merah menggantikannya." Nira tampak tidak suka salah satu orang dia terbunuh,


Nira tidak tau pasti, jika Gagak hitam apa terbunuh oleh Dewa atau bukan, selain itu juga sama soal Elang merah, tidak mendapatkan kabar apapun, jika telah di tawan oleh Dewa.


"Aku masih tidak setuju Putri Nira," Mamut kembali menyatakan keberatannya seperti semula.

__ADS_1


"Aku sudah bilang, asal kalian mengikuti  semua perintah kita pasti menang." Nira berkata dengan suara yang meninggi, jelas dia tidak suka Mamut kembali menyatakan keberatannya.


"Kamu kerja buat kerajaan Dwipa dan banjir emas Dwipa, sudah jadi anjing," Balawa memandang Mamut dengan muka merendahkan.


"Jaga mulutmu," Mamut tempak tidak terima perkataan Balawa, dia berdiri sekarang sambil menghunus kedua pedang kembar miliknya.


"Maju sini," Balawa ikut berdiri, sambil meludah ke tanah dan meraih golok besarnya.


"Kalian berdua tidak menghormati aku!" teriak Nira dengan marah, Balawa kembali duduk mendengar Nira marah, sedang Mamut tidak, dia tetap berdiri di tempat dia.


"Sudah cukup, aku tidak berniat ikut rencana kalian, kehidupan di sini baik, untuk apalagi ini semua," akhirnya Mamut menyatahkan isi hatinya, jelas dia tidak setuju karena kehidupan yang sudah enak dan baik, benar ternyata dugaan Balawa jika Mamut terbuai emas Dwipa.


"Sudah kuduga, tuan putri biar kubereskan sampah ini," Balawa kembali berdiri dan mengangkat goloknya bersiap menyerang Mamut.


"Tidak perlu Balawa, biar aku saja." Nira terlihat sangat marah, Nira segera bergerak cepat dengan jurus langkah bidadari enam rupa, sekejap mata saja sudah sampai di depan Mamut, Mamut melihat Nira tiba-tiba sudah di depan dia terlihat kaget, dia menyerang dengan kedua pedang hendak menebas Nira.


Kecepatan gerakan Nira tetapi jauh di atas Mamut, di tangkapnya kedua pedang hanya dengan tangan kosong, kemudian Nira merebut kedua pedang Mamut tanpa usaha berarti.

__ADS_1


"Kau..."Mamut terkejut jika ternyata Nira ini punya kemampuan seperti ini, tetapi terkejutannya tidak lama karena Nira menebas leher Mamut dengan pedangnya sendiri, kepala Mamut pun terpisah dari badannya dan terjatuh di tanah, tidak lama badan tanpa kepala itu jatuh di depan Nira.


Nira kini bermandikan darah anak buahnya, yang bernama Mamut yang malang itu, kini terlihat menakutkan, dia menatap semua orang di depannya, "ada lagi yang keberatan?"


__ADS_2