
Jenderal Diro sedang sibuk menemani Dewa berbinncang dalam suasan yang resmi, tetapi karena matahari sudah jelas berada diatas kepala jelas hari sudah siang.
Sebentar lagi pelayan rumah Diro yang telah dikirim ke barak ini dari semalam, akan segera hendak menyajikan makanan siang.
Di dapur barak militer, tampak juru masak yang tidak asing lagi,Susno yang merupakan juru masak pribadi rumah Diro dan berapa pelayan lain sedang bersiap mengirim hidangan ke prabu Dewa.
"Susno, prabu Dewa itu ternyata si..." seorang pelayan tidak meneruskan perkataannya, jelas soal Dewa si gembel sakti maksudnya, jelas untuk saat ini, sudah tidak akan ada yang akan berani menyebut Dewa sebagai gembel.
"iya, tidak masuk akal ya, Prabu menyamar di tempat kita, tetapi kita beruntung sekali," Susno jelas senang sekali, dirinya yang rakyat jelata bisa jadi mengenal prabu Dewa, tidak sembarang orang bisa mengenal dan berbicara dengan raja seperti prabu Dewa Putra.
"kalo mengingat dia sangat rakus," seorang pelayan lain tertawa kecil, bagaimana Dewa jika lapar akan menyerbu dapur, memakan apapun masakan yang dia suka, semau dia saja.
"kamu tidak tau ya muka tuan Diro ketika rusa sampai tanpa kakinya satu, lucu sekali." Susno tertawa mengingat kejadian rusa kehilangan satu kaki.
"kita akan bisa bercerita kepada anak cucu kita," seorang pelayan lain ikut berkomentar.
Susno sekarang ini juga memasak daging Rusa, seekor di bakarnya terlihat sudah matang sempurna dan juga membuat masakan berkuah, rusa dengan santan dan rempah-rempah.
__ADS_1
Dia tidak tau itu awalnya untuk Dewa si gembel sakti, yang ternyata prabu Dewa Putra, tetapi yang jelas adalah itu makanan kesukaan Dewa di dapur.
Selain rusa yang merupakan favorit Dewa, juga tampak daging bebek yang di masak pedas, aneka sayuran di bumbui dengan kelapa serta juga daun kelor dimasak bening.
Karena sudah waktunya untuk makan siang, Diro sudah bersiap menjamu makan siang untuk Dewa, segera dia mengajak Dewa sekarang, untuk menuju gedung terpisah yang berada di timur benteng, disitu adalah gedung yang bernama anesya, umumnya dalam kesehariannya ditempati oleh Diro, jika sedang di barak dia ini.
Begitu berjalan memasuki ruangan, terlihat ada meja kayu panjang, terdapat banyak kursi dari rotan berada di meja tersebut, setidaknya dua puluh orang bisa duduk dan makan bersama disana.
Segera Dewa duduk di sebelah kanan meja, tepat di sebelahnya di temani oleh Ratih dan Lina, Diro bersama Jaya serta Ranto duduk di sisi sebelah kiri.
"Aku hendak kembali ke istana, dan mengganti Nira dari permaisuriku." Dewa tidak berkeberatan memberi tau rencana dirinya, terutama dalam hal menyingkirkan Nira.
Diro terkejut, Nira hendak di ganti oleh siapa? apakah dengan Linawati anak dia?
Linawati Jayadi jadi permaisuri, mungkin banyak orang akan berpikir itu hebat termasuk juga Diro pastinya, tetapi jelas disisi lain jika Diro juga takut sekali, karena yang menjadikan Nira sebagai permasuri adalah ibu Suri.
"aku hendak menjadikan Ratih menjadi permaisuriku," Dewa membuyarkan pikiran Diro dengan perkataannya. Dalam hatinya Diro berpikir, ternyata perempuan di sebelah Dewa, siapa dia? Diro, Jaya dan Lina menatap Ratih dengan pandangan menyelidik.
__ADS_1
"Yang mulia prabu Dewa, hamba lebih setuju jika memilih Linawati Jayadi, dia keluarga bangsawan, sedang aku ini bukan." Ratih jelas keberatan dengan rencana Dewa, Ratih kawatir Dewa akan menghadapi masalah.
Belum saja di istana, begitu tau Ratih hanya rakyat jelata jelas Diro, Jaya dan Lina mulai memandang rendah Ratih.
Ternyata hanya selir dari rakyat biasa pikir mereka ini, kecantikannya memang sangat memukau tetapi bukan bangsawan. tidak ebrkata-kata tetapu sudah jelas dari pandangan mata mereka bertiga.
Tetapi pastinya tidak ada yang berani mengungkapkan ke Dewa, Karena di lihatnya prabu Dewa selalu memposisikan Ratih di tempat spesial, selalu duduk di sebelah Dewa, kemudian baru Lina di sebelah Ratih.
Susno juru masak terlihat datang memasuki ruangan, segera saja dia meletakan rusa panggang di depan Dewa, ini makanan kesukaan Dewa, sedang pelayan lain juga datang membawa makanan-makanan di atas daun jatih yang di letakan di atas piring terbuat dari kayu.
Segera tidak pakai lama, meja panjang itu penuh dengan aneka masakan yang wangi menggoda perut lapar dan macam-macam buah-buahan segar.
Dewa mengeluarkan keris kawiswara, dan meletakan di depannya. Ratih kemudian dengan sigap mengambil keris Dewa itu, gagang keris dipegangnya dengan tangan kanan sedang tangan kiri memegang sarungnya.
Hendak di pindakan dan diletakan Ratih ke tempat lain, tidak terduga siapaun disana termasuk Ratih, ketika batu di keris tiba-tiba saja sekarang bersinar menyala indah, tentunya akibat di pegang Ratih.
Dewa yang sudah meraih daun pisang sebagai alas makan dia, ke sebuah piring kayu sampai menjatuhkannya. sangking terkejutnya melihat keris Kawiswara bersinar di tangan Ratih, sementara Diro, Ranto, Jaya dan Lina juga seperti tidak mempercayai mata mereka.
__ADS_1