Dewa Pendekar

Dewa Pendekar
Terkepung


__ADS_3

Sekarang terlihat jelas siapa yang datang, sangat banyak sekali, setidaknya tujuh ratus orang dengan baju hitam dan wajah sungguh sangat tidak bersahabat dan nafsu membunuh yang menggebu haus darah.


mereka ini terlihat tidak ada yang lemah, setidaknya semua terlihat mempunyai meringankan tubuh yang baik, melayang turun dengan sempurna dari pepohonan.


"Siapa kalian?" Ranto sama sekali tidak gentar, dia segera maju ke depan, di tangannya terhunus pedang pusakanya, yang bernama pedang penghisap jiwa, pedang itu terlihat beruara misterius merasakan kehadiran lawan dengan niat membunuh ini.


"kami mencari pembunuh Gagak hitam..." seorang dari mereka maju kedepan.


"Oo aku tau kamu, Elang merah..." Ranto mengenali yang maju kedepan, dia adalah adik Gagak hitam, julukan dia Elang merah. Salah satu buronan berhadiah sama dengan Gagak hitam, seratus keping emas.


Tetapi jika melihat jumlah yang di ajak Elang merah jelas bukan waktunya mencari hadiah, perbadingan mereka jelas bukan angka yang seimbang. Setidaknya itu di mata Ranto.


"Apa di antara kalian ada yang  membunuh Gagak hitam? kami mencari orang bernama Dewa," selidik Elang hitam, dia tau kelompok di depannya memiliki beberapa pendekar sakti, jelas cukup cocok untuk mencari tertuduh yang dia sudah ketaui yang bernama Dewa.


Begitu mendengar nama Dewa, banyak murid Ranto yang ketakutan justru terlalu polos mengungkapkan jati diri Dewa, mereka  memandang Dewa serempak dengan pandangan bertanya.

__ADS_1


Melihat itu, jelas saja Elang merah sekarang langsung menuduh Dewa, katanya sambil menunjuk Dewa,"Kamu yang bernama Dewa? yang membunuh Gagak hitam?"


Dewa menyeringai, kedatangan Elang merah dengan segenap pasukannya justru merupakan hadiah buatnya, karena mereka adalah buronan pengacau di kerajaan dia.


"Ya aku yang menggantung Gagak bego itu di pohon mangga, hingga dia mati." Dewa menatap ke tujuh ratus orang di depannya dengan tidak ada rasa gentar, sekaranglah waktunya menghukum mereka semua para penjahat gunung kenari.


Gagak merah menghela nafas, sekarang dia juga justru tampak senang. ternyata sudah ketemu dengan target dia, Gagak merah begitu percaya diri bersama tujuh ratus anak buah yang di ajak olehnya.


Dia tau Dewa ini pasti sakti mandraguna karena dapat membunuh kakaknya, tetapi dengan tujuh ratus orang anak buahnya, orang yang bernama Dewa ini akan membayar perbuatannya, berani membunuh kakaknya Gagak hitam dengan selembar nyawanya.


Rombongan Dewa ini tidak sampai lima puluh orang, jelas dia unggul segalanya. Sangat yakin jika Dewa akan bisa di habisinya jika kedua belah pihak harus bertarung.


Anak buah Elang merah agak kecewa karena pimpinannya tidak langsung menyerbu, tetapi tetap mereka ini menuruti Elang merah.


Ranto jelas tidak terima, ini adalah prabu Dewa. Masak mau di tukar nyawa dengan orang-orang seperti dia dan muridnya.

__ADS_1


Nyawa Dewa jelas lebih penting dari siapapun disini, Ranto siap berkorban nyawa untuk Dewa.


"Elang merah jangan harap kami menyerahkan Dewa," Ranto terang-terangan menolak permintaan Elang merah. Murid Ranto ketakutan tetapi mau tidak mau ikut menghunus pedang mereka.


"Kalian mau mati," Elang merah habis kesabarannya, dia juga segera menghunus pedang miliknya.


Ranto bersiap bertarung habis-habisan untuk raja dia sekarang, demikian semua muridnya telah meneguhkan hati untuk mati demi raja mereka.


Dari secara kualitas rombongan Elang merah ini lebih berkualitas dari murid Ranto, tetapi jelas faktor orang bernama Dewa ini yang justru akan menjadi penentu


Dewa sekarang memahami, pantas saja Gagak hitam itu jadi momok yang menakutkan bagi jenderal seperi Diro, seperti ini kualitas anak buah dia, semuanya berilmu tinggi.


Tetapi sama sekali tidak membuat Dewa takut, dia kagum dengan kesetiaan Ranto dan muridnya itu.


Ratih, Jaka dan Jarwo malah justru terlihat santai, karena mereka jelas tau siapa prabu Dewa ini, tujuh ratus pendekar sakti, tidak akan mampu menghadapi seorang Dewa.

__ADS_1


"Elang bodoh, kamu cari mati ya!!!" Dewa berteriak dengan ilmu tenaga dalam. Suara itu membuat ke tujuh ratus orang itu telempar semua ke udara setidaknya lima langkah dan terhempas ke tanah seketika, tidak terkecuali Elang merah sekalipun.


Tetapi sungguh anehnya rombongan Dewa, cuma menutup kuping saja mendengar suara dasyat itu dan tidak kenapa-kenapa, kecuali kuping mereka sedikit berdengung saja.


__ADS_2