
Barak militer di kota perbatasan ini berbentuk seperti rumah yang memanjang berjajar dengan sebuah lapangan besar di bagian depannya.
bangunan utama disini terbuat dari batu kali dengan kombinasi kayu jati sebagai bahan utamanya. Terlihat sederhana saja tapi berdiri kokoh.
Lokasinya agak tinggi di banding tanah sekitaran, jadi dapat melihat siapa yang datang dari jauh. Selain itu tempat ini dikurung pepohonan lebat, sebagai benteng alami untuk barak ini.
Sekarang ini, di tengah lapangan yang luas tampak para prajurit, semuanya telah berbaris rapi menutup lapangan besar ini.
Para prajurit rata-rata berkulit hitam legam terbiasa terbakar sinar matahari matahari, mereka bertelanjang dada dengan tombak panjang di tangannya.
Matahari sudah hampir di atas kepala, yang mereka tunggu belum juga datang. Tetapi mereka para prajurit, semua tidak ada mengeluh tetap berbaris rapi.
Sementara di pendopo Jenderal Diro duduk di kursi, ditemani seluruh anaknya dan berapa jenderal muda.
Mereka semua terdiam, Dipikiran mereka sekarang ini ditengah kabar yang tiba-tiba ini, berkecamuk segala macam hal.
"Ayahanda apa benar ini prabu Dewa Putra, yang akan datang?" Jaya kembali mengatakan hal yang sama seperti di perjalanan tadi.
__ADS_1
Diro tidak bisa menjawab, Sekarang buat dia memang lebih baik menunggu saja.
"Jenderal, tetapi benar kata Jaya," seorang jenderal muda bernama Bahaduri tampak setuju dengan Jaya.
"Masakan seorang raja datang tanpa iringan besar dan kabar." seorang jenderal muda lain bernama Darya juga setuju dengan Jaya.
"Jangan-jangan seorang penipu." Jaya jadi semangat, dia bakan berani menuduh yang akan datang ini seorang penipu.
"Diam kalian, Jika ini benar prabu Dewa Putra, kepala kalian hilang." Diro Jayadi tampak tidak senang Jaya dan jenderal muda dia pada berani menuduh dan bergosip.
Sekarang Bahaduri dan Darya tampak sedikit gentar.
Tetapi Jaya masih tidak puas. katanya."Kita sudah seharusnya waspada ayah."
Jenderal Diro jayadi tentunya tidak bodoh, dia juga ragu tetapi dia harus mengendalikan bawahannya untuk tidak berlaku menentang prabu Dewa Putra nanti.
Tampak sekelompok kecil prajurit datang dari kejuahan, mereka berkuda dengan sangat cepat seolah di kejar oleh waktu.
__ADS_1
kelompok ini berjumlah sepuluh orang, mereka semua berbaju lengkap dengan gelang perak tebal di tangan kanan kirinya. Tampak sangat berbeda dengan yang berbaris rapi di lapangan.
Mereka ini bukan prajurit reguler, tetapi pasukan elit kalajengking.
Seorang di antara mereka datang langsung ke Diro, menyodorkan dengan penuh hormat dengan kedua tangan sambil bersujud, sebuah peti kecil dari kayu terambesi yang berhiaskan ukiran bersepuh emas murni.
"Jenderal Diro, Ini yang anda minta."
Diro menerima peti kecil itu sambil tersenyum, Sekarang ini tidak ada yang perlu di kuatirkan lagi.
Di dalam peti kecil ini terdapat keris kawiswara, pusaka kerajaan Dwipa. Keris itu di simpan di kota perbatasan ini sejak lama.
Ini bukan sembarang keris, keris ini akan segera merespon terhadap keluarga kerajaan Dwipa. batu pusaka di keris akan berwarna merah menyala jika di pegang oleh keturunan dari prabu Jaya Putra Maharaja.
Jika bukan keluarga kerajaan yang memegang keris ini, maka hanya berwarna putih crystal.
Diro tersadar dari lamuanannya, karena di lihatnya di kejuahan, terlihat rombongan besar datang. dalam hati Diro berkata, akhirnya prabu Dewa Putra telah sampai.
__ADS_1
Jaya putra Diro sungguh terkejut karena dari kejauhan ini, rombongan prabu Dewa ini dalam jumlah besar, pasti prabu Dewa datang dengan pasukan dia, pikir Jaya.
Jaya jadi tampak takut karena tadi dia membicarakan prabu Dewa dengan sembarangan.