
Pak Lim mengernyitkan dahinya melihat keberadaan aku dan Marsa.
“Kalian siapa?”
“Kami teman Davina Om, saya Arka. Kita juga pernah bertemu sebelumnya,” ujarku.
Wajah lelah Pak Lima mencoba mengingat wajahku tapi sepertinya dia benar-benar lupa.
“Oh ya, di mana ya? Om sudah lupa.”
“Di kantor Papa.” Aku menyebutkan nama Papa dan perusahaannya.
“Ah jadi kamu anaknya Aldo dan Yura,” ujar Pak Lim dengan raut wajah berbinar. “Duduklah!”
Aku dan Marsa pun duduk di sofa diikuti oleh beliau, tatapanku sempat melirik sosok Davira yang masih berdiri di samping ranjang menatap kami.
“Maaf Om, kami baru dengar tanteng Davina jadi baru datang ke sini.”
Om Lim menyandarkan punggungnya, menganggukkan kepala lalu melepas kaca mata dan meletakan di meja.
“Kalian tidak salah? Apa mungkin kalian teman Davira bukan Davina.”
Aku dan Marsa saling tatap lagi, kenapa harus Davira memang kenapa dengan Davina. Aku memang hanya mengenal Davina.
“Kenapa Om bicara begitu?”
“Karena cucu Om kembar, ada Davira dan Davina. Yang tergolek tidak berdaya ini Davina, sudah lebih dari tiga minggu dia koma dan satu lagi Davira. Davira sudah tidak ada, mereka kecelakaan.”
Aku menoleh ke arah di mana ada sosok Davira dan juga davina. Apa mungkin maksud Davira dia ingin menempati tubuh Davina karena jiwa Davina tidak bisa kembali. Jika memang benar begitu, aku harus cari cara mengatasi ini.
“Davina orangnya pendiam dan tertutup, makanya kalau kalian adalah teman Davina om sangat sangsi. Apalagi Davina selalu belajar di international school dan jarang berinteraksi dengan pihak luar."
“Saya serius Om, saya kenal Davina. Kalau boleh tahu, mereka mengalami kecelakaan apa Om?”
“Kecelakaan lalu lintas, Davira meninggal di tempat. Davina segera dibawa ke rumah sakit, sempat melakukan operasi dan tidak sadar sampai sekarang,” jelas Pak Lim lagi.
“Hubungan Davira dan Davina sepertinya ….”
“Tidak baik, mereka sering berselisih paham dan selalu berakhir dengan Davina yang menangis dan menunduk sampai meremmas ujung bajunya. Om menyesal karena dulu selalu percaya dengan Davira dan mengabaikan Davina. Akhir-akhir ini Om baru tahu kalau davina sering ditindas dan dimanfaatkan oleh Davira.”
__ADS_1
“Karena Davina seharusnya tidak lahir. Kami kehilangan Ibu karena dia, Ayah pun pergi karena dia dan aku pergi juga karena dia,” teriak Davira.
Aku menghela nafas pelan, setidaknya aku sudah tahu kisah awal kenapa Davina berkeliaran tidak tentu arah. Yang harus diantisipasi adalah Davira yang akan merebut tubuh Davina, ternyata gadis itu bukan hanya licik saat hidup, sudah mati pun masih saja licik.
Setelah obrolan singkat tadi, aku dan Marsa undur diri dan sempat menyampaikan kalau kemungkinan kami akan datang lagi untuk melihat keadaan Davina. Om Lim tidak keberatan dengan kehadiranku untuk Davina.
“Arka,” panggil Marsa saat kami berjalan menuju lobby utama.
Aku menghentikan langkahku dan menoleh, MArsa berdiri tidak jauh di belakangku. Entah apa yang membuatnya menghentikan langkah padahal aku sudah terburu-buru karena Mama terus menghubungiku.
“Marsa ini sudah sore,” ujarku.
“Aku minta maaf,” ujarnya membuatku mengernyitkan dahi.
“Maaf?”
Marsa menganggukan kepalanya dia berjalan mendekat dan kami berhadapan.
“Aku meragukan penglihatanmu tentang Davina malah menuduhmu memiliki teman imajinasi.”
“Marsa aku sudah tidak peduli dengan hal itu, yang penting sekarang bagaimana mengembalikan jiwa Davina agar Davira tidak menguasai tubuh Davina.”
Akhirnya aku dan Marsa pulang menggunakan taksi, lebih lama dalam perjalanan karena taksi menuju tempat tinggal Marsa baru pulang mengantarku. Aku tidak enak membiarkan Marsa pulang sendiri.
“Aku ada perlu Mah tadi ….”
“Kenapa tidak hubungi Mama atau jawab panggilan Mama.”
Aku menghela nafas sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. Bukan kali ini saja Mama terlalu berlebihan khawatir denganku, padahal aku hanya pergi main ke tetangga rumah.
“Aku sudah kirim pesan, Mama juga sudah baca,” elakku.
“Iya tapi hanya pesan singkat kalau kamu pulang terlambat. Harusnya kamu sampaikan lebih jelas, Mama jadi bertanya-tanya kan?”
Aku menenangkan Mama kalau semua baik-baik saja dan aku sudah pulang lalu bergegas ke kamar.
“Davina,” panggilku sambil menatap sekeliling. Di ruang ganti pun Davina tidak ada, aku menuju balkon dan dia di sana. Duduk di salah satu kursi dengan pandangan kosong.
“Davina.”
__ADS_1
Penampakan tubuhnya sudah semakin pudar, aku yakin lama kelamaan dia akan terlihat seperti bayangan. Mungkin pengaruh tubuhnya yang koma.
“Aku sudah tahu siapa kamu dan kenapa kamu ada di sini.”
Davina menoleh.
“Sungguh?”
“Hm.” Aku menganggukan kepala lagi. “Bahkan aku sudah menjenguk dan melihat tubuhmu yang tergolek lemah.”
“Tubuhku, memang aku belum dimakamkan?” tanya Davina.
“Kamu belum mati.”
“Apa?”
...*** ...
Makan malam kami lewati dengan ocehan Mama yang kembali menyampaikan kesalahanku tadi. Pergi tanpa kabar dan mengabaikan telepon dari Mama. Papa menasehatiku dan meminta Mama memberikan luang untukku.
“Tapi Arka sebentar lagi ujian. Aku tidak ingin dia bermalas-malasan lalu menyesal nanti.”
“Iya Mah, aku menyesal dan berikutnya tidak akan begitu lagi.”
Setelah menikmati makan malam kami, aku mengajak Papa bicara. Seperti biasa Mama akan ikut, bukan karena dia kepo karena aku dan Papa adalah bagian dari hidupnya juga.
“Davina benar ada, bahkan dia masih hidup.”
Papa dan Mama saling tatap kemudian keduanya malah menatapku.
“Oh Tuhan. Kalian tidak usah menatapku seperti itu, aku serius davina masih hidup bukan bercanda atau asal bicara,” tuturku. “Kenapa Papa tidak bisa melihat karena dia jiwa yang tersesat. Aku bisa melihatnya karena ada hal terhubung tapi aku tidak tahu alasan kami terhubung.”
“Arka, Papa mengerti kamu ingin pembelaan diri tapi ini ….”
“Aku serius Pah. Davina itu cucu Tuan Lim. Bahkan saat aku menjenguk Davina tadi sore, bertemu dengan Om Lim.”
Aku juga menyampaikan kalau tubuh Davina semakin lemah dan sudah ada arwah yang berniat memasuki tubuh Dvina.
“Apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikan jiwa Davina dan mengusir arwah yang akan merebut tubuhnya.”
__ADS_1
Papa terlihat berpikir dan akhirnya kembali bicara.
“Papa ingin bertemu dengan Davina.”