Dia Belum Mati

Dia Belum Mati
Bertemu Davina


__ADS_3

“Om Dion.” Aku berusaha melepaskan cengkraman kedua tangan Om Dion pada lehernya sendiri. Wajah om Dion sudah memerah dan kedua matanya mendelik.


Kembali aku melantunkan doa dengan lantang dan mengusap wajah Om Dion. Pria itu mengerjapkan matanya dan perlahan melepaskan tangannya, menatap sekeliling dan juga wajahku.


“Saya ….”


Makhluk itu masih berada di atas pintu menempelkan punggungnya di dinding


“Pergi atau ada yang mati.”


“Arka, ada apa di belakang saya?”


Aku tidak tahu sebesar apa keberanian Om Dion dan apakah dia bisa melihat makhluk itu saat ini. Aku hanya menatap lekat pada makhluk pengganggu yang masih mengikik.


“Ini bukan tempatmu, pergi atau aku bantu kamu pergi dengan paksaan,” ujarku.


“Arka, dia di belakang saya?”


“Tenang Om, kalau takut kita kita akan mengeluarkan aura negatif.”


Om Dion memejamkan mata dan bibirnya komat kamit membaca doa. Makhluk ini kuat juga, padahal saat  ini siang hari dia bisa menunjukkan wujudnya dan melawan kami. Aku memejamkan mata, menarik nafas dan membaca doa dengan lantang.


Makhluk itu berteriak entah apa yang dilakukannya, yang jelas aku merasakan dingin dan hembusan angin seperti memutari tubuhku. Mataku masih terpejam dan suara yang keluar dari mulutku hanya doa. Begitupun dengan Om Dion, aku mendengar suaranya.


Sampai akhirnya makhluk itu melengking panjang dan suasana kembali sunyi. Hembusan angin tidak lagi aku rasakan yang ada hanya hangat dari sinar matahari dari jendela yang ada di belakangku.


Perlahan aku membuka mata dan tidak melihat Om Dion. Ternyata dia berjongkok sambil menutupi wajahnya.


“Om Dion, sudah aman,” ujarku menepuk bahunya.


Brak brak


“Pak Dion,” teriak seseorang dari luar mencoba mendobrak pintu.


Sepertinya Om Dion masih sulit berjalan karena seluruh badannya gemetar. Aku menghampiri pintu dan menekan handlenya.


“Eh, ada apa? Kami dengar teriakan,” ujar salah satu karyawan Om Dion.


“Hm, hanya gangguan kecil tapi sudah pergi,” jawabku. “Om Dion, sepertinya bukan hanya lampu dan aliran listrik yang harus kalian perbaiki, handle pintu juga,” ujarku sambil menunjuk handle pintu. Dari luar handle pintu tidak berfungsi dari dalam bisa digunakan.


“Iyah, akan saya ingat. Secepatnya akan diperbaiki,” ujar Om Dion.

__ADS_1


Setelah itu aku dan Om Dion masih berkeliling di lantai ini bahkan kami sempat menikmati jamuan kopi dan kue bersama para pekerja. Sekalian aku menyampaikan pada mereka, terutama yang akan tinggal di gedung ini untuk melawan rasa takut dan memperkuat ibadah.


 Menjelang maghrib aku baru tiba di rumah. Mama menyambutku bahkan menggelengkan kepala saat melihat tampangku. Kemeja putih seragamku sudah tidak beraturan dan kotor, wajahku juga sudah lelah dan rambut berantakan.


“BEsok-besok nggak usah ke tempat itu lagi, biar Papamu yang meneruskan,” ujar Mama. Aku hanya tersenyum dan berlalu setelah mencium tangannya. Ingin menggoda dengan mencium pipi Mama tapi aroma tubuhku sudah tidak enak.


“Mama kalau marah, nggak cantik loh,” ujarku saat menaiki tangga sambil terkekeh.


Biarlah Papa yang akan menanggapi kemarahan dan protesnya, aku semakin bergegas ke kamar untuk segera membersihkan diri.


Saat ini aku merebah di atas ranjang, masih mengenakan kain sarung dan kaos longgar setelah mandi dan memenuhi kewajiban maghrib. Suasana kamarku seakan ada yang hilang, keberadaan Davina. Namun, yang melegakan, Davina pergi untuk kembali ke raganya bukan pergi selamanya.


Aku beranjak ke meja belajarku, membuka laptop dan mengakses situs sekolah Davina. Berharap bisa mendapatkan kabar mengenai gadis itu. Benar saja, dalam rubrik informasi ada artikel mengenai kabar Davina yang sudah sadar.


“Davina, kamu cantik,” ujarku saat melihat foto Davina yang sedang mendapatkan kunjungan teman-temannya.


...***...


Hari-hari berlalu, aku semakin disibukkan dengan kegiatan sekolah menjelang ujian akhir. Bahkan aku sudah mendatangi beberapa kampus pilihan di mana aku akan melanjutkan pendidikan. Mama melarang memilih kampus di luar kota, pilihan tetap harus di Jakarta.


Urusan dengan gedung tempat usaha Om Dion sudah beres, terakhir aku ditemani Papa mengatasi pengganggu di lantai tiga. Lebih usil, karena sosoknya anak kecil dan nenek-nenek.


“Jadi nggak?” tanya Bono.


“Apaan sih, lihat gue kayak lihat pisang,” ujarku lalu terkekeh.


“Yey, emangnya kita monyyet,” keluh Bono kesal, sedangkan Oky dan Marsa mendengus karena kesal juga.


“Iya, jadi.”


Kami berempat berencana mengunjungi campus fair, yang akan diselenggarakan di salah satu mall besar di Jakarta.


Seperti biasa, aku dan Marsa hanya membonceng Bono dan Oky. Aku sempat iseng mengajak mereka berbelok untuk nonton bioskop daripada mengunjungi Campus Fair. Oky keberatan dan terus menggiring kami menuju lantai di mana acara berlangsung.


Sebenarnya aku malas ikut tapi demi persahabatan kami aku tetap ikut. Marsa dan Oky tampak serius, aku hanya mengekor langkah mereka. Beberapa stand kampus kami kunjungi, termasuk mendapatkan informasi dan bertanya apa yang perlu diketahui.


Sampai di salah satu stand kampus international, kami berpapasan dengan sesama pelajar lainnya. Yang membuat kami terkejut adalah seragam yang mereka kenakan, mengingatkan aku pada seseorang yang sudah aku coba lupakan.


“Arka, itu bukannya ….”


“Davina,” ujarku menatap gadis yang berdiri sambil tersenyum mendengar kelakar temannya dan kemudian kami saling tatap.

__ADS_1


Dia tidak mendekatiku, apa lagi memelukku atau berlari mengelilingi dan bersenandung. Davina hanya diam bahkan tanpa senyum, wajahnya sama … cantik dengan kacamata membingkai matanya.


“Davina, ayo. Kamu jadi pilih kampus ini ‘kan?”


“Arka,” ucap Marsa berdiri di sampingku dan ikut menatap Davina.


Davina pun berbelok ke stand kampus di mana teman-temannya berada. Aku masih sempat mengarahkan pandangan ke mana Davina melangkah.


“Cantik ya,” ujar Bono.


“Dia nggak ingat kamu, karena kalian bertemu bukan saat dia sadar,” tutur Marsa.


“Masih ada yang mau kita kunjungi nggak?” tanyaku.


“Nggak, kita keluar aja,” ajak Oky. Sepertinya dia paham resah yang aku rasakan.


Kami menuju foodcourt di lantai atas dan aku tidak nyaman dengan perhatian Marsa yang terus menanyakan apa yang ingin aku makan, lalu bertanya rasa dari menu aku bahkan menawarkan menu miliknya.


Jujur aku kesal bertemu Davina kembali mengingatkan kerinduanku pada sosoknya tapi perhatian Marsa membuatku semakin kesal. Aku hendak pamit ke belakang sedangkan Bono baru kembali dan siap menikmati menunya.


Aku mengernyitkan dahi saat Bono mulai menyuapkan makanan ke mulutnya dan ada sosok menghampiri. Sosok itu memasukan tangannya ke dalam mangkuk berisi mie ayam milik Bono, dia mengaduk dan ikut menyuap ke dalam mulutnya sendiri.


“Bono,” panggilku.


Sebenarnya aku sudah melihat sosok itu sejak tadi, dia berpindah-pindah meja melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan pada makanan Bono. Marsa tidak tahan dengan penampakan itu, dia berlari ke toilet.


“Iya,” jawab Bono masih asyik menggulung mie dengan garpu.


“Lo udah baca doa sebelum makan?”


Bono terdiam, “Gue lupa.”


Setiap makhluk itu ikut menyuapkan makanan ke mulutnya, keluar lendir dan sisa kunyahan dari mulutnya dan dia masukan ke mangkuk Bono. Pernah ada pepatah orang tua, kalau makan tidak baca doa maka akan dibantu setan. Mungkin ini maksud mereka.


“Bono, baca doa dulu,” ujarku.


“Tanggung.”


“Baca,” ujarku dengan menekan nada suaraku.


Oky menyadari ada yang aneh, Marsa berlari dan aku memaksa Bono untuk baca doa.

__ADS_1


“Udah baca aja, Arka pasti lihat setan yang lagi bantuin lo makan,” ungkap Oky.


Bono refleks melepaskan sendok dan garpu yang dia pegang dan menatapku.


__ADS_2