
Tangannya yang dingin begitu terasa di kulit leherku dan mencengkram dengan erat. Davira adalah arwah yang tersesat bukan iblis atau setan jahat pengganggu manusia. Aku tidak mungkin membaca doa untuk mengusirnya atau bahkan memusnahkannya.
“Davina,” ujarku dengan suara lirih karena tenggorokan terasa tercekik.
Davira mengendurkan cengkramannya di leherku lalu melayang mundur dan menjauh. Aku sendiri heran apa yang membuatnya menjauh padahal aku hanya mengucap Davina. Aku menoleh ke arah ranjang, di mana Davina masih terpejam tak berdaya.
“Kamu takut dengan Davina?” tanyaku pada sosok Davira.
Sosok itu diam dan menatapku dengan wajahnya yang menunduk.
“Kenapa kamu tidak pergi?”
“Bukan urusanmu,” sahut Davira.
Aku mendekati ranjang di mana Davina berada. Mengusap lengannya yang terbebas dari jarum dan selang infus. Beberapa waktu kami selalu bersama tanpa bisa bersentuhan seperti berjabat tangan tapi kali ini aku menyentuh tangannya.
“Bagaimana membuat Davina bangun?” tanyaku masih membelakangi Davira.
Sosok Davira sudah berada di sisi ranjang satunya dan menatapku.
“Davina tidak boleh bangun, agar aku bisa menempati tubuhnya."
“Kamu sudah mati, berpura-pura menjadi Davina menyalahi takdir. Mana kamu tahu kalau Tuhan sedang membuat rencana membuatmu tidak bisa pergi dan tidak bisa menempati tubuh Davina. Tersesat dan terombang ambing tidak tentu arah,” terangku tanpa memandang Davira.
__ADS_1
Tidak lama terdengar ketukan pintu, aku menoleh saat pintu akhirnya terbuka. Ternyata yang datang Om Lim dan Papa. Jika Om Lim terlihat gembira melihatku dan mengenalkan Davina pada Papa. Beda dengan Papa yang terkejut melihat sosok Davira.
“Dia?” tunjuk Papa ke arah Davira dan menatapku.
Aku hanya menganggukan kepala, seakan tahu apa yang akan ditanyakan oleh Papa.
“Om senang kamu ada di sini,” ujar Om Lim padaku. “Pak Aldo, dia cucuku Davina dan kembarannya Davira sudah tiada dalam kecelakaan yang mereka berdua alami.”
Papa terlihat menganggukan kepala lalu menatapku. Aku yakin Papa menyesal meragukan kalau aku memang mengenal Davina. Papa melirik Davira, sepertinya menggunakan ilmu batin atau apalah itu yang jelas Davira ketakutan dan menundukkan wajahnya.
“Pah,” tegurku.
“Hanya menegurnya, masih nakal ya kita musnahkan saja,” ujar Papa.
“Ini salah kami, seharusnya kami bisa mengawasi Davira dan Davina lebih baik. Tidak seperti ini,” ujar Om Lim.
Kesibukan keluarga Lim membuat si kembar tidak terkendali. Davira salah pergaulan dan Davina mempunya bukti kenakalan Davira. Saat sekolah mempertanyakan dan akan memanggil orang tua, Davira panik mengajak Davina pergi menemui guru yang mengurus kasus Davira untuk menjelaskan kalau yang viral bukan dirinya juga bukan Davina.
Saat itulah terjadi kecelakaan. Davira luka cukup parah bahkan meninggal di tempat. Sedangkan Davina tidak sadarkan diri sampai berujung koma.
“Lalu kenapa sosok itu masih di sini?” tanyaku pada Papa.
Papa hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
...***...
Esok hari, sepulang sekolah aku kembali menjenguk Davina. Aku acuh pada sosok Davira yang berada di pojokan kamar. Aku memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Davina dan mengusap kembali lengannya.
“Davina, aku datang lagi. jiwamu ada di rumahku, cepat bangun dan buktikan kalau kamu masih mengingat kejadian selama tinggal denganku.”
Davina bergeming dan masih asyik dengan status koma. Aku duduk di sisi ranjang dan membisikan sesuatu ke telinganya.
Menjelang sore, aku berniat pulang.
“Davina aku pulang, kita bertemu lagi di rumah ya,” seruku sambil menatap wajah Davina yang tidak menunjukan emosi apapun.
“Menyerahlah! Tubuh Davina akan aku tempati.”
Aku menghela nafas, berusaha untuk tidak berinteraksi dengan Davira. Meskipun Waktunya tinggal dua hari lagi sebelum Davina dinyatakan mati otak dan keluarga harus mengikhlaskan.
“Bukan hanya aku, ada beberapa arwah lain yang juga menunggu saatnya tiba untuk berpindah ke tubuh Davina.”
Aku mengernyitkan dahi mendengar penjelasan Davira, kemudian berjalan menuju pintu dan membukanya. Dikejutkan dengan penampakan beberapa wujud yang memang menyeramkan menunggu dan berharap bisa berpindah ke tubuh Randy.
Ada yang tangannya hampir putus dan masih menetes darah tapi saat aku lihat ke bawah, tidak ada darah yang mengotori. Belum lagi penampakan pria yang mungkin pernah bekerja sebagai koki dengan pakaian lengkapnya. Juga beberapa penampakan lain.
Saat sudah berada di depan kamar Davina, aku meminta para arwah itu untuk pergi atau aku usir mereka dengan sedikit ancaman.
__ADS_1