
Kami saling tatap menyadari suara tertawa barusan.
“Kalian dengar nggak?” tanya Bono lirih.
Oky dan Om Kai menoleh ke arahku dan aku mengangguk pelan. Tidak ada yang bersuara diantara kami, hanya terdengar suara jangkrik dan binatang malam.
Makhluk itu kembali terkikik dan melambaikan tangannya.
“Berisik,” teriak Om Kaivan. “Kalau berani tunjukan wujud lo.”
“Om, jangan,” ujarku.
Oky dan Bono merapatkan tubuhnya ke arahku sedangkan Om Kaivan menatap sekitar mencari asal suara.
“Di mana lo?”
“Om Kai,” panggilku lalu menunjuk ke arah ranting pohon di mana sosok itu berada. Perlahan Om Kaivan, Bono dan Oky menoleh ke arah telunjuk. Mereka terdiam sesaat, kemudian Bono dan Oky berteriak dan berlari melewatiku.
Aku harus mengejar Bono dan Oky, khawatir mereka berlari tanpa arah.
“Om Kai, ayo,” ajakku.
Om Kai masih menatap sosok itu.
“Tampang kalian masih sama ya, dari dulu nggak berubah. Jelek,” ejeknya lalu terkekeh.
Aku menarik tangan Om Kaivan kemudian kami berlari menuju arah Bono dan Oky berlari. Ternyata duo racun itu sudah menunggu di samping mobil. keduanya masih terengah dan berkeringat.
“Arka, tadi serem banget,” ujar Bono. “Lo biasa lihat yang kayak gitu?” tanya Bono. Oky hanya menatapku sambil memperbaiki letak kacamatanya.
“Hm.”
“Udah lama gue nggak lihat yang begituan.” Om Kaivan masih terkekeh.
“Om, nggak baik menantang mereka seperti itu dan kita tidak seharusnya ada di sini,” ujarku menasehati ketiga pria dari dua generasi berbeda.
“Kita pulang yuk, sumpah deh badan gue masih gemetaran.”
“Halah, tadi semangat empat lima sekarang nyali lemah,” ejekku pada Bono kemudian masuk ke dalam mobil.
Om Kaivan juga sudah berada di kursi kemudi dan aku di sampingnya. Bono sudah duduk di kabin belakang.
“Oky kenapa masih di luar sih?”
Mendengar ucapan Bono aku pun menoleh ke arah kaca spion lalu menurunkan kaca jendela. Apa yang dia lakukan, padahal tadi sempat ketakutan dan ingin segera kembali ke villa.
“Oky, cepat masuk!”
__ADS_1
“Iya.”
“Cepat jalan, Om!”
Semakin malam, cuaca semakin dingin dan kami terjebak macet saat mobil sudah bergabung di jalan raya.
“Padat juga ya,” ujarku sambil mengeluarkan ponsel dari saku celana.
“Weekend memang begini,” sahut Om Kaivan.
Selama perjalanan, hanya kami bertiga yang banyak bicara sedangkan Oky lebih banyak diam. Saat mobil sudah berbelok ke arah villa, ponselku bergetar ternyata ada pesan dari Mama yang menanyakan posisi kami.
Aku masih membalas pesan saat mobil sudah terparkir rapi di villa tempat kami menginap, bahkan Bono dan Oky sepertinya sudah sampai beranda.
“Eh, udah pada masuk aja,” ujarku sambil memegang handle pintu mobil dan melirik rear view. “Astagfirullah,” ucapku melihat sosok bocah noni belanda ada di kabin belakang. Aku menoleh ke belakang dan tidak ada siapapun.
“Kayaknya tadi … apa perasaan aku aja ya.”
Brak.
Aku menutup pintu mobil dan menatap area villa memastikan tidak ada yang mengikuti kami. Sepertinya aman, karena tubuhku tidak merespon apapun.
Om Kaivan, Bono dan Oky berbaring di karpet sambil membahas kembali kejadian tadi. Marsa duduk di sofa menatap ke arahku lalu berjalan mendekat.
“Ada yang tidak beres, perasaanku mengatakan itu,” ujar Marsa lalu menuruni tangga.
...***...
“Huft.”
Akhirnya sudah tiba di rumah. Aku meregangkan otot tubuhku karena selama perjalanan aku manfaatkan dengan tidur. Kami berempat duduk di beranda rumahku sambil menunggu jemputan. Tidak lama kemudian, jemputan Marsa dan Oky pun datang, Bono ikut serta dengan Oky.
Aku melihat ada yang aneh dengan Oky, wajahnya seperti kelelahan dan lebih muram dari biasanya. Mungkin saja dia kelelahan dan kurang sehat karena udara puncak begitu dingin dibandingkan udara Jakarta.
Ulah kami mendatangi tempat angker dan melihat penampakan kuntilanak tidak sampai pada Mama dan Papa. Kalau mereka tahu sudah pasti kami akan dapat ceramah.
Setelah makan malam, kami berpindah ke sofa depan TV.
“Arka, Marsa cantik ya,” ujar Mama. Entah apa maksudnya, tapi bagiku lebih cantik Davina.
“Cantiklah, masa ganteng,” sahutku.
Papa hanya terkekeh mendengar ucapanku, sebagai sesama laki-laki dia pasti tahu kalau aku tidak ingin membicarakan Marsa.
“Memang kamu nggak ada rasa dengan dia? Mama lihat, kayaknya dia suka loh sama kamu.”
“Suka sebagai sahabat, iya. Lebih dari itu, nggak.”
__ADS_1
“Sudahlah Mah, biarkan saja Arka dengan pilihannya. Kalau jodoh juga nggak akan ke mana,” cetus Papa lalu terkekeh.
“Ini kenapa malah bahas Marsa sampai ke jodoh segala. Bukannya Mama yang bilang kalau aku belum boleh pacaran karena masih sekolah.”
“Iya, jangan dulu. Pacaran anak sekarang berbahaya, ngeri mama ngebayanginnya.”
Obrolan itu akhirnya selesai karena aku pamit ke kamar. Sempat asyik dengan game online sampai akhirnya kantuk melanda dan akupun tertidur.
Entah berapa lama aku akhirnya terjaga karena suara gaduh dan hembusan angin. Suasana kamarku gelap, hanya ada sinar dari penerangan luar. Tidak biasanya aku memadamkan lampu dan tidak mengganti dengan lampu temaram.
Pintu balkon terbuka, gordennya melambai-lambai tertiup angin. Terlihat kilatan cahaya dan suara gemuruh, sepertinya akan turun hujan.
“Perasaan sudah dikunci, kenapa bisa terbuka,” gumamku.
Aku melangkah menuju balkon dan mengunci pintu sebelah kiri. Saat menarik pintu sebelah kanan, pandanganku beralih ke arah balkon, bahkan aku mengucek kedua mataku memastikan apa yang aku lihat tidak salah.
Ada sosok yang duduk di tembok balkon dengan posisi membelakangiku dan perlahan sosok itu menoleh lalu menyeringai.
“Aaaaa,” jeritku sambil melangkah mundur dan terjatuh duduk.
Sosok itu adalah bocah yang mirip noni belanda. Dia tertawa dan melambaikan tangannya ke arahku.
“Antarkan aku pulang,” ujarnya lalu menangis.
“Astagfirullah.”
Perlahan aku beranjak berdiri, sosok itu masih ada di sana. Bergegas aku mengunci pintu balkon, memastikan gorden tertutup rapat lalu menghidupkan lampu agar kamar terang benderang.
Aku masih duduk di tepi ranjang dan memikirkan apa yang aku lihat tadi nyata atau hanya ilusi saja. Ponselku bergetar, aku melirik jam dinding yang menunjukan pukul dua pagi. Siapa yang berkirim pesan sepagi ini.
Ternyata pesan grup chat di mana aku, Oky Bono dan Marsa tergabung.
Bono
Arka, gue diganggu. Ada bocah bule dan gue yakin itu setan
Oky
Sama, sumpah gue takut banget
Marsa
Bocah yang kemarin duduk di balkon villa angker
Aku pun mengetik balasan
^^^Barusan dia duduk di balkon kamar gue. Kita diikuti, kemungkinan Om Kaivan juga sama.^^^
__ADS_1