Dia Belum Mati

Dia Belum Mati
Liburan (3)


__ADS_3

Jujur aku tidak mengerti, maksud Om Kaivan mengajak kami berpetualang dengan area seperti ini. Aku sudah mengajaknya kembali ke villa dan segera meninggalkan tempat ini sebelum kami berinteraksi lebih jauh atau bahkan meninggalkan jejak dan merusak area terlarang.


“Tenang saja Arka, kamu dan Marsa bisa melihat “mereka” sedangkan kami tidak. Amanlah, karena yang buat tidak aman adalah bisa melihat makhluk tak kasat mata,” tutur Om Kaivan.


Mungkinkah Om Kaivan sebenarnya sedang menguji nyalinya atau ingin mengembalikan kemampuannya. Mama pernah mengatakan kalau Om Kaivan dulunya bisa berinteraksi dengan makhluk gaib walaupun tetap Papa yang lebih hebat. Kemampuan itu hilang ketika kakeknya meninggal dunia.


“Tapi Om ….”


“Stt, Arka jangan berisik. Lo malah ganggu para penunggu di sini,” ujar Bono.


Aku mengernyitkan dahi mendengar ucapan Bono, seakan dia adalah pria pemberani. Padahal semalam kami tidur berdesakan di lantai yang luas bukan di kamar yang sudah disiapkan.


“Om Kai, jangan masuk ke bangunan itu.”


“Arka,” ujar Marsa.


Namun, Om Kaivan mengindahkan laranganku. Bono dan Oky pun tidak jauh beda, sepertinya mereka penasaran dengan cerita Om Kaivan mengenai kondisi villa tersebut termasuk keangkerannya.


“Arka, aku ikut masuk,” ujar Marsa lalu berjalan cepat mengejar ketiga pria yang sudah lebih dulu memasuki bangunan.


“Tidak baik, firasatku mengatakan ini tidak baik.”

__ADS_1


Kami berlima sudah menyusuri bangunan di lantai bawah, tidak ada penampakan atau gangguan apapun.


“Menurut informasi, di area belakang tepatnya tidak jauh dari kolam renang adalah wilayah yang lumayan angker juga di dapur,” tunjuk Om Kaivan pada pintu yang masih tertutup, mungkin ruangan itu memang dapur.


Tidak jauh dari ruangan dengan pintu yang masih tertutup, ada tangga untuk menuju ke lantai berikutnya. Terdengar langkah menuruni anak tangga. Aku menoleh dan tidak melihat siapapun. Sedangkan yang lain sepertinya tidak menyadari dan tidak mendengar apa yang aku dengar.


“Kita masuk ya,” ajak Om Kaivan menuju dapur. Aku berada di urutan terakhir dan mulailah banyak kejadian yang cukup mengganggu. Terdengar suara derit pintu, aku menoleh sambil menelisik keadaan sekitar. tidak ada yang aneh, aku bergegas memasuki dapur dan terkejut dengan pemandangan di depan.


Kondisi dapur terlihat berantakan dan tidak terawat dan yang membuat aku ketakutan adalah sosok yang bertengger di kepala Oky. Aku menoleh ke arah Marsa yang juga sedang menatap Oky.


“Marsa.”


Sosok yang menduduki kepala Oky adalah anak perempuan dengan gaya pakaian jadul dan rambut yang digerai dan tampangnya terlihat seperti yang disebutkan oleh Marsa.


“Marsa, dia yang tadi pagi?”


Marsa hanya mengangguk pelan.


“Om, berhenti,” ujarku.


“Sepertinya kita harus keluar dari sini,” ujar Marsa.

__ADS_1


“Kita akhiri saja Om, ada sesuatu yang sudah ikut dengan kita.”


Bono dan Oky saling tatap kemudian menatapku.


“Maksudnya?” tanya Om Kaivan.


Aku menoleh ke arah Oky, membuatnya terlihat bingung dan panik. Dia mengusap tengkuk dan bahu yang bisa aku pastikan sudah terasa berat dan merinding.


“Kita keluar, sekarang!”


“Arka, katakan ada apa?” Om Kaivan masih saja bertanya ada apa. Jelas-jelas kami sudah mengganggu daerah yang sudah dihuni oleh makhluk tak kasat mata.


Noni Belanda yang berada di kepala Oky, menatap tidak suka ke arahku dan Marsa. Sepertinya aura atau energi kami bertentangan dengan kemampuan makhluk itu.


“Oky, kita pergi dari sini,” ajak Marsa.


“Perasaan gue nggak enak,” cetus Oky.


“Gimana mau enak, kalau di kepala lo ada setan duduk.” Aku mengatakan hal yang sebenarnya, agar kami semua menyadari akibat karena mengganggu ekosistem kehidupan makhluk halus.


 

__ADS_1


__ADS_2