
Dia, benar … Davina.
Aku membantu Davina kembali berdiri, dia masih menatapku.
“Maaf, aku terburu-buru jadi ….”
“Tidak masalah,” sahutku untuk mengurai rasa canggung diantara kami. Davina kemudian mengangguk dan kembali ke aula.
Tunggu, dia ke aulia itu. Artinya dia satu jurusan denganku. Semesta ternyata berpihak kepadaku. Di saat aku yakin dan tidak yakin kalau Davina memilih kampus ini, ternyata dia benar kuliah di sini. Kemungkinan aku bertemu dengannya cukup besar.
“Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui,” gumamku. Selain serius dengan pendidikanku, siapa tahu ada jalan untuk kami bisa dekat.
Aku tidak kembali ke aula sampai pengarahan selesai. Menunggu di koridor depan aula, sambil asyik dengan gadget. Oky dan Bono ramai di grup chat, aku tersenyum membaca isi percakapan. Acara pun selesai, Yanto menghampiriku dan menjelaskan persiapan serta teknis keberangkatan.
Aku menoleh saat bahuku ditepuk seseorang. Ternyata Davina. Apa aku bermimpi, tapi rasanya tidak.
“Maaf, apa ada waktu? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Boleh, di mana?” tanyaku lalu berdiri.
“Di sana saja.” Davina menunjuk kursi koridor yang agak jauh dari aula.
“Arka, itu cewek siapa? Gila, cakep banget sih? Wajahnya Indo, gitu,” seru Yanto.
“Ketemu besok ya,” ujarku sebelum menghampiri Davina.
Kami duduk berdampingan, tapi berjarak. Tidak ada yang memulai membuka suara, tapi yang aku perhatikan Davina tampak gugup dan ketakutan.
“Aku ….”
“Kamu ….”
Aku dan Davina serempak membuka suara.
“Ada apa?” tanyaku mengalah.
“Seingatku kita baru dua kali bertemu, dan aku tidak mengenalmu. Namun, Opa selalu mengatakan kalau kamu yang sudah menolongku saat aku koma. Maaf, tapi aku sungguh tidak ingat.”
“Tidak masalah, yang penting kamu sudah kembali menjalani hidup. Jalani takdirmu saat ini, jangan pikirkan yang sudah lewat termasuk dendam pada saudaramu.
Davina menghela nafasnya.
“Aku tidak memikirkan itu, tapi ada hal lain yang menggangguku. Bahkan opa pun tidak tahu apa yang aku alami saat ini. Opa bilang kamu ada kelebihan yang orang lain tidak miliki. Mungkinkah kamu bisa membantuku, lagi?”
“Ada masalah apa?” tanyaku. tatapanku mengarah pada wajah Davina yang menunduk dan memilin jemarinya.
“A-aku … melihat makhluk yang orang lain tidak bisa lihat,” ujarnya lirih.
Aku mengernyitkan dahi mendengar pernyataannya.
__ADS_1
“Maksudnya, hantu?”
Davina menatapku dan menganggukkan kepala.
“Hanya sekali atau ….”
“Banyak, aku bisa melihatnya dan merasakan kehadirannya. Terkadang wujud atau hanya suara.”
Aku melihat ketakutan dari Davina dan kegelisahan, mungkin karena gangguan tersebut membuat hidupnya tidak nyaman.
“Sejak kapan, kamu bisa berinteraksi dengan “mereka”?”
“Setelah aku bangun dari komar.”
Entah aku harus senang atau sedih mendengar pengakuan Davina. Turut sedih karena gadis ini harus tersiksa dengan kelebihannya, senang karena apa yang dialami Davina hampir mirip dengan kejadian Mama dan Papa. Apa mungkin aku akan mengalami apa yang terjadi pada orangtuaku.
“Kamu bisa membantuku?” pertanyaan Davina membuyarkan lamunanku.
“Bantu apa?”
“Menghilangkan kelebihan ini, rasanya aku tidak sanggup.”
“Davina, kalau bisa aku buang atau aku lenyapkan. Aku pun akan lakukan itu untuk diriku sendiri. Apa yang aku miliki dan kamu rasakan adalah berkah dari Tuhan.”
“Tapi aku takut, aku terganggu dan aku ingin hidupku kembali tenang.”
Aku mengerti apa yang dirasakan oleh Davina. Ini pernah kualami dan kurasakan. Intinya adalah pengendalian rasa takut dan ini yang belum Davina lakukan.
“Kendalikan rasa takutmu. Semakin kami takut, mereka semakin kuat.”
Davina mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
“Boleh aku minta nomor ponselmu?”
Aku menyebutkan nomor ponselku, dia menghubungiku dan minta aku menyimpan kontaknya. Siapa sangka, aku akan mudah berinteraksi dengannya.
“Aku harus pulang, di sini lebih menyeramkan,” ujar Davina lalu beranjak dari kursi. Aku ikut berdiri dan mengekor langkahnya menuju parkiran.
“Kamu pulang sendiri atau ….”
“Ada supir, Opa menyiapkan supir untukku. Kalau terdesak, bolehkah aku menghubungimu?”
“Tentu, tidak masalah,” jawabku berusaha tenang. Walaupun dalam hati melonjak kegirangan.
...***...
“Hati-hati ya, jangan melamun dan usahakan energimu tidak bersinggungan dengan makhluk lain.” Mama menasehatiku dari perjalanan sampai tiba di kampus. Aku hanya manggut-manggut dan Papa terus tersenyum melihat aku yang harus menahan malu karena sebesar ini masih dipeluk oleh Mama di tempat umum.
“Sudah Mah, nanti Arka malu. Banyak gadis menyaksikan ini,” tutur Papa.
__ADS_1
“Biar, biar mereka tahu kalau Mama sayang sama Arka. Jadi, kalau salah satu dari mereka akan menjadi pacar kamu harus siap berbagi dengan Mama.”
Akhirnya orang tuaku pulang setelah mengantarkan aku, karena akan mengikuti kegiatan menginap aku tidak membawa motor dan harus rela diantar orang tuaku.
Yanto terkekeh, karena dia menyaksikan interaksi aku dan Mama. Tidak jauh dari Yanto berada, ada Davina bersama temannya. berarti Davina pun menyaksikan kejadian tadi. Wajah Davina hanya menatap datar ke arahku.
“SEMUA NAIK BUS SESUAI DAFTAR!”
Aku dan Yatno pun menuju bus, begitu pula dengan yang lain. Ternyata Davina duduk tepat di kursi depanku.
“Arka, ini cewek yang kemarin ‘kan?” tanyanya.
Aku hanya mengangguk. Lebih dari empat jam perjalanan, aku memilih memejamkan mata dan mengenakan headset bluetooth. Beberapa rekanku dan kating yang mendampingi, bernyanyi dan bersorak agar tidak jenuh selama perjalanan.
Saat bus berhenti di rest area, aku dibangunkan oleh Yanto. Tentu saja aku turun karena merasakan panggilan alam dan perut yang agak lapar. Davina sudah lebih dulu turun. Aku menuju toilet umum yang agak jauh, karena yang dekat lumayan antri.
Selesai dengan urusan toilet, aku menatap toko dan counter makanan. Mencari yang mengundang selera dan yang segar di lidah. Namun, aku dikejutkan dengan kehadiran Davina yang langsung memelukku dan terisak.
Aku bingung, tapi aku usap punggungnya agar dia lebih tenang.
“Davina, kamu ….”
“Aku lihat makhluk itu, di toilet. Aku takut, Arka. Bagaimana nanti di sana, pasti aku akan melihat banyak penampakan,” keluh Davian di sela isakannya.
“Hei, tenanglah! Tidak semua makhluk bisa menampakan diri, kamu tidak boleh takut,” ujarku.
“Tolong jangan jauh dariku ketika kita sudah sampai,” pinta Davina dan aku mengiyakan permintaannya.
Akhirnya kami tiba di lokasi. Aku dan Yatno membantu panitia mendirikan tenda untuk kelompok putri, termasuk tenda Davina dan kelompoknya.
“Tendaku di sebelah sana, tidak terlalu jauh. Sinyal agak kurang bersahabat, tapi jangan khawatir yang penting kamu tidak berkeliaran sendiri. Kalaupun ada wujud “mereka”, jangan takut. Kelola rasa takutmu, untuk membuat mereka hilang.”
Menjelang maghrib, aku dan Yanto sedang memasak mie instan dengan kompor portable di depan tenda kami.
“Aaaaa.”
Terdengar teriakan.
“Aaaaa.”
Terdengar teriakan yang lain.
Aku sudah berdiri, begitupun Yanto.
“Arka, kenapa mereka jerit-jeritan. Udah tahu mau maghrib.”
“Arka,” teriak seseorang dan ternyata Davina. Dia berlari sambil terus memanggil Arka.
“Davina, tenanglah!” ujarku sambil menahan bahu gadis itu. Dia berlari dan sekarang tampak kelelahan.
__ADS_1
Yanto memberikan botol air mineral untuk Davina, aku memaksanya untuk minum agar lebih tenang.
“Ada yang kesurupan, dan aku melihat ada sosok gaib di sisi korban kesurupan,” tutur Davina lirihh.