
“Arka, kamu dan Davina ada hubungan apa sih?” tanya Mama
Davina sudah sembunyi di belakang tubuhku. Aku berdecak sambil meremmas rambutku.
“Mama dan Papa kalau mau tanya nanti deh, ada yang harus aku pastikan dulu. Papa ikut aja, siapa tahu aku butuh bantuan,” tuturku. Kemudian aku arahkan Davina untuk duduk di ranjangku.
“Kamu tunggu di sini.”
“Nggak, hantu itu pasti ikut aku ke sini.”
“Nggak, percaya deh. Nggak akan ada hantu yang berani masuk ke kamar ini,” ujarku lagi agar Davina lebih tenang.
“Hantu?” tanya Mama.
“Iya, Mah. Mama lebih baik temani Davina, ayo Pah,” ajakku.
Aku dan Papa menuruni anak tangga dan keluar melalui pintu depan. Lalu menuju beranda samping dan melihat sosok yang sebelumnya bersama Maesa.
“Itu yang ditakuti Davina,” ujarku.
Papa berjalan menghampiri sosok hantu yang kebingungan karena tidak bisa masuk ke dalam rumah. Entah apa yang Papa katakan dan doa apa yang dibaca, hantu itu menjerit ketakutan dan hilang.
“Seharusnya kalau menghadapi yang kayak gitu nggak usah entar-entar, basmi saja. Jelas dia arwah penasaran dan pengganggu,” tegur Papa, aku hanya manggut-manggut.
Urusan hantu penasaran sudah selesai, tinggal aku harus bertemu dengan Marsa minta dia pertanggung jawabkan ulahnya. Kelebihan yang aku dan Marsa miliki seharusnya digunakan untuk membantu orang bukan malah menyusahkan.
“Ayo masuk, urusan kamu dan Davina belum selesai,” ujar Papa.
Saat ini kami berempat sudah kembali berada di ruang keluarga. Mama dan Papa duduk bersisian di hadapan aku dan Davina.
“Serius Mah, kami nggak ngapa-ngapain. Davina datang ke kamarku karena ketakutan, terus peluk aku dan kalian datang. Lagipula kalau kita mau macam-macam nggak akan berdiri di pintu, tapi di dalam kamar dan pintunya juga dikunci,” tuturku menjelaskan kejadian tadi agar tidak salah paham.
“Arka, kamu ya ….”
“Sudahlah, Mah,” sela Papa lalu terkekeh. “Ternyata anak Papa sudah dewasa. Davina, hantu yang kamu takuti sudah tidak ada. Jadi jangan takut lagi, walaupun kamu bisa lihat makhluk yang lain ya nikmati saja.” Papa menasehati Davina.
“Arka bilang, rumah kalian tidak bisa dimasuki makhluk halus?” Davina akhirnya membuka suara.
“Iya, tapi setan di dalam hati mana tahu. Kamu menghindari dari setan di luar, tapi setan yang merayu manusia untuk membuat nakal dan jahat tetap ada. Karena adanya di hati.” Mama bicara sambil menatapku, entah apa maksudnya.
__ADS_1
...***...
Esok pagi, aku mengantar Davina pulang. Setelah itu langsung menuju kediaman Marsa. Saat aku datang, Marsa sudah siap berangkat kuliah.
“Tumben, kamu sampai ke sini. Biasanya di telpon juga nggak diangkat,” keluh Marsa.
“Apa maksud kami mengirim hantu untuk mengganggu Davina?” Aku bertanya tanpa basa basi lagi.
“Jadi Davina ngadu juga ke kamu?” tanya Marsa.
“Jadi benar itu ulah kamu?” Aku kembali bertanya. “Bukannya dulu kamu koar-koar kalau kemampuan kita itu harus digunakan untuk hal baik, kenapa sekarang berubah pikiran?”
“Kamu yang buat aku berubah pikiran,” sahut Marsa.
“Kita sahabat, jangan merusak persahabatan kita dengan ulah kamu yang ….”
“Tidak, aku tidak ingin bersahabat lagi dengan kamu apalagi Davina.”
“Oke, tidak masalah. Aku tahu kamu orang baik, jangan lagi lakukan hal rendah seperti kemarin,” ujarku sebelum meninggalkan Marsa.
Setelah kejadian itu, hubunganku dan Davina semakin baik. Bahkan terlalu baik, karena Davina masih belum bisa mengontrol rasa takutnya. Terkadang tengah malam dia menelponku karena melihat penampakan di dapur. Bahkan saat kuliah, dia ketakutan karena sosok penunggu toilet tidak mau pergi.
...***...
Motor yang aku kendarai sudah memasuki pekarangan kediaman Om Lim dan Davina sudah berdiri menungguku dengan wajah cemberut.
“Lama amat sih,” keluhnya saat menerima helm dariku.
“Macet, aku sudah bilang kamu diantar supir kamu aja. Kita ketemu di butik,” sahutku menjelaskan keadaan agar Davina tidak terus cemberut.
“Aku tuh mau nikah sama kamu, wajar kalau kamu yang jemput bukan ke mana-mana sama supir terus.” Aku hanya bisa menghela nafas mendengar ocehan Davina lalu menyuruhnya cepat naik agar tidak merepet ke mana-mana.
Orangtuaku dan Kakek Davina memutuskan aku dan Davina segera menikah. Padahal kami baru tingkat ketiga masih ada satu tahun lagi untuk aku lulus sarjana. Mereka khawatir dengan kedekatan kami yang sebenarnya masih wajar, tapi Om Lim akan lebih tenang kalau Davina benar-benar menjadi bagian dari keluarga kami.
Kami menuju butik untuk mencoba kebaya dan setelan yang akan dikenakan saat akad nikah dua minggu lagi. Untuk resepsi sepakat akan diadakan setelah aku dan Davina lulus kuliah.
“Kalau kita udah nikah, jangan keterusan pake motor ya. Apalagi kalau panas-panas begini,” keluh Davina ketika kami sudah tiba di butik.
“Kalau pake mobil kita duduk berjauhan, nggak kayak naik motor bisa peluk aku.” Davina memukul lenganku karena ucapanku barusan.
__ADS_1
“Messum,” ujarnya.
“Tapi cinta ‘kan?” Dia hanya terkekeh kemudian memeluk lenganku.
Kalau dibilang aku mengikuti jejak orang tuaku menikah muda, iya juga sih. Bedanya Om Lim lebih percaya Davina dengan kami dengan status yang sah. Sebulan setelah aku dan Davina menikah, Om Lim meninggal dunia. Pria tua itu satu-satunya keluarga Davina.
Mungkin ini tujuan Om Lim mempercepat pernikahan aku dan Davina, agar Davina tidak kesepian dan sendirian. Akhirnya aku dan Davina menempati rumah peninggalan Om Lim.
“Aaaa. Arka!” teriak Davina.
Aku bergegas keluar kamar dan menuju asal suara.
“Kenapa? Kamu kenapa, sayang?”
Aku memastikan Davina baik-baik saja.
“Itu,” tunjuk Davina ke jendela dapur. “Hantunya ngagetin, kalau dia muncul pelan-pelan aku nggak akan kaget begini.”
Aku mengusap wajahku, ini sudah hampir tengah malam dan tentu saja aku tadi sedang terlelap.
“Kamu sedang apa di sini?”
“Aku mau ambil juice,” sahut Davina yang memang sedang memegang juice dalam kemasan.
“Kenapa nggak bangunkan aku sih?” aku merangkul Davina dan mengajaknya keluar dari dapur.
“Kita mau punya anak, aku mau mandiri dan berani. Masa nanti di depan anak-anak, aku teriak-teriak nggak jelas karena melihat hantu.”
Aku tersenyum lalu mengusap perut Davina yang sudah membola. Ya, istriku sedang hamil dan beruntungnya minggu depan kami wisuda. Artinya kondisi Davina tidak membuat pendidikan kami terhambat.
Siapa sangka, bertemu Davina saat itu menjadi awal hubungan kami dan berakhir pada pernikahan. Jiwa Davina yang tersesat karena Dia Belum Mati, lalu kelebihan Davina dengan mata batinnya setelah sadar dari koma telah mengikatku dengannya. Apapun itu yang jelas aku sangat bersyukur dan kami bahagia.
... ~ TAMAT~...
Haiii, terima kasih sudah ikuti kisah Arka dan Davina. Semoga suka dan maaf kalau kurang memuasskan 😉🥰
Jangan lupa ikuti akun author agar dapat notifikasi kalau update kisah baru. Follow akun IG aku juga ya.
Terima kasih, sehat selalu untuk kalian. 😘😘
__ADS_1