
Aku menghampiri ranjang dan menatap Davina yang masih terengah, sepertinya dia kesulitan bernafas.
“Dokter, panggil dokter,” teriakku.
Tidak lama perawat masuk ke ruangan, karena sejak tadi Oky sudah menekan tombol darurat. Juga Bono dan seorang dokter.
“Kalian minggir dulu,” titah perawat itu.
Aku dan yang lain mundur dan berdiri tidak jauh dari ranjang, memperhatikan bagaimana dokter dan perawat melakukan tindakan terhadap pasien.
“Davina, ada apa dengan cucuku?”
Kami menoleh, ternyata Om Lim yang datang.
“Davina bangun Om,” sahutku.
Om Lim berdiri di hadapanku, tatapannya terlihat begitu cemas dengan kondisi Davina. Begitupun denganku, rasanya aku ingin mengatakan pada dokter apa dia bisa menangani Davina. Kenapa dari tadi Davina masih terlihat kesulitan bernafas.
Hampir sepuluh menit, akhirnya kondisi Davina stabil. Beberapa alat sudah dilepas dari tubuh itu. Aku mendekat dan mengusap punggung tangannya yang bebas dari infusan. Gadis itu masih mengerjapkan matanya memandang langit-langit kamar.
“Jangan diajak bicara terlalu banyak, biarkan dia menyesuaikan diri,” ujar dokter sebelum beranjak pergi.
“Davina, ini Opa.”
Perlahan Davina menoleh.
“Opa, kenapa aku di sini?”
Dia mengeluarkan suaranya, rasanya aku ingin menangis melihat jiwa Davina kembali ke raganya dan sadarkan diri. Bukan menangis sedih tapi menangis bahagia.
“Akhirnya kamu bangun, sayang,” ujar Om Lim mengusap kepala cucunya.
“Ini di rumah sakit ya, kenapa aku bisa ada di sini?” tanya Davina.
Om Lim menghela nafasnya, kemudian menoleh ke arahku dan kembali menatap cucunya.
“Kalian kecelakaan, kamu terluka bahkan koma. Terima kasih sudah berjuang dan kembali.”
“Kecelakaan,” gumam Davina. “Davira, bagaimana dengan Davira?”
Om Lim menggelengkan kepalanya.
“Dia selamat ‘kan?”
Om Lim menggelengkan kembali kepalanya. Davina tidak menangis, dia terlihat tenang entah memikirkan apa. Aku kembali mengusap tangannya.
__ADS_1
“Davina,” panggilku.
Davina menoleh dan … diam.
“Kamu … siapa?”
Deg.
Senyum di wajahku langsung hilang saat Davina menanyakan siapa aku. Apa dia bercanda, tidak mungkin dia tidak mengenalku atau memang dia tidak mengenalku.
“Sayang, ini Arka. Dia yang membantumu bahkan ….” Ucapan Om Lim terhenti aku aku mengangkat tangan agar dia berhenti bicara. Davina terlihat heran dan mencoba berpikir tentangku, mungkin.
“Arka? Apa kita satu sekolah?” tanyanya lagi.
Aku tersenyum kemudian menggelengkan kepala.
“Om Lim, kami pamit. Davina perlu istirahat dan jangan paksakan dia mengingat apa yang dia lupa,” tuturku pada Om Lim.
Aku menoleh sebelum beranjak pergi, tatapan mata itu begitu sendu bukan seperti tatapan mata Davina yang ceria walaupun sedang tersesat.
“Arka, dia nggak ingat lo?” tanya Bono saat kami sudah berada di luar kamar Davina.
Aku hanya diam, walaupun dadaku terasa sesak tapi tidak masalah asalkan Davina sudah kembali. Sepertinya aku tidak akan muncul di hadapannya lagi. sebelum benar-benar pergi, aku kembali menoleh ke belakang. Menatap pintu kamar di mana Davina berada.
“Kita pulang,” ajakku pada Bono, Oky dan Marsa.
...***...
Setelah makan malam, Papa mengajakku bicara. Dia sudah mendapatkan kabar kalau Davina sudah sadar dan mengkonfirmasi langsung padaku.
“Bagaimana dengan arwah saudaranya?” Giliran Papa yang bertanya.
Aku sebenarnya sudah malas untuk bicarakan masalah ini tapi pertanyaan Papa dan Mama bukan sekedar basa-basi. Mereka butuh informasi yang jelas dan ingin tahu bagaimana reaksiku.
“Davira sudah pergi, dia sempat mengganggu, aku dan Marsa terpaksa mengusirnya.”
“Apa rencanamu?” tanya Papa lagi.
“Rencana apa?”
Papa menyandarkan tubuhnya di sofa dengan pandangan tetap mengarah padaku.
“Davina tidak mengenalimu, lalu apa rencanamu berikutnya? Tidak mungkin kamu diam saja. Kamu tidak akan sesemangat ini kalau tidak ada sesuatu,” ujar Papa.
“Aku tidak akan menemui Davina lagi. Dia tidak mengenaliku, yang aku temui adalah jiwanya yang tersesat bukan dirinya utuh. Mendesaknya hanya akan membuat Davina bingung dan membahayakan kesehatannya.”
__ADS_1
Papa menganggukan kepalanya, sedangkan Mama masih menatapku. Menatap khawatir seperti biasa.
“Aku baik-baik saja,” cetusku. “Kapan kita ke tempatnya Om Dony?” tanyaku pada Papa.
“Secepatnya, Papa akan hubungi dia dan kamu bisa temui beliau tanpa Papa. Papa yakin kamu bisa mengatasinya sendiri.”
“Nggak, aku nggak setuju. Bagaimana kalau Arka terluka?” Mama lagi-lagi khawatir tapi aku akan tetap menemui Om Dony untuk bantu mengusir gangguan di tempat usahanya yang baru.
Bukan karena aku sok atau mau pamer kekuatan, tapi aku butuh pengalihan. Setiap aku terdiam, pasti teringat akan Davina. Obrolan dengan Papa dan Mama aku akhiri dengan pamit ke kamar beralasan sudah lelah.
Sampai di kamar aku terpaku memandang keliling kamarku, tidak ada lagi yang berteriak memanggil namaku atau berlarian sambil bersenandung. Aku menuju ruang ganti, membuka pintu dan … tidak ada Davina. Tempat di mana sosok itu bersembunyi, saat ini kosong.
“Davina …” gumamku.
“Kalau aku sudah sadar, aku ingin kamu ada di sana. Aku akan peluk kamu erat, karena sudah mau menemaniku dan juga aku ingin bertemu dengan Mama dan Papa kamu. Aku juga akan sampaikan pada keluargaku agar diperbolehkan sekolah di tempat yang sama denganmu.”
“Memang kalau kamu sudah sadar bisa ingat apa yang terjadi saat ini?”
“Tentu saja aku akan ingat, tapi apa kamu masih mau bertemu denganku?”
“Menurut kamu?”
Aku teringat lagi percakapan dengan Davina saat itu, dia begitu yakin akan mengingatku. Aku terkekeh pelan, menertawakan apa yang terjadi denganku. Kenapa aku terlihat seperti orang patah hati, padahal sebelumnya aku hanya berharap agar Davina cepat kembali ke tubuhnya dan itu sudah terkabulkan.
...***...
Jam istirahat, seperti biasa aku berada di tribun. Berbaring dengan salah satu tangan berada di keningku menghalau sinar matahari. Marsa duduk tidak jauh dari kepalaku.
“Kelanjutannya gimana?” Dia bertanya.
“Apa?” Aku bertanya balik.
“Davina,” sahutnya.
Aku beranjak duduk dan menatap dua regu yang sedang bermain basket.
“Tidak gimana-gimana. Aku tidak akan menemuinya lagi,” sahutku lalu beranjak menuju kelas. Tubuhku benar-benar perlu rehat sebelum mengunjungi gedung milik Om Dony. Sudah pasti butuh effort untuk menghadapi gangguan makhluk halus.
Beberapa jam kemudian, aku sudah berada di depan gedung yang pernah aku datangi. Menatap bangunan itu seakan sedang berkomunikasi dengan makhluk hidup.
“Arka, akhirnya kamu datang juga,” ujar Om Dony menghampiri dan menepuk bahuku.
Aku tersenyum, Om Dony mengajakku masuk untuk melihat renovasi ruangan yang sebelumnya terdapat nakhluk yang menarikku dan Papa. Sebelum melangkah aku menengadah, memandang jendela di lantai 3 yang terbuka.
Ada sosok yang berdiri di sana, menunduk dan menatapku. Dia menyeringai dan melambaikan tangannya. Energinya kuat dan masuk ke dalam golongan pengganggu, sosok itu bukan manusia tapi … kuntilanak.
__ADS_1